Setelah Muslim Uighur, Kini Muslim India

Hot News

Hotline

Setelah Muslim Uighur, Kini Muslim India

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Rohma Ummu Fikri*


Belum lama sembuh sakit yang dialami umat Muslim dunia dengan penderitaan dan penindasan atas Muslim Uighur di Cina oleh kedzhaliman Pemerintah Cina, kini hati umat Islam kembali terkoyak dan tersakiti dengan penindasan dan pembantaian terhadap umat Muslim India. Kali ini terjadi di New Delhi, India antara Muslim dan Hindu. Pada tanggal 23 Februari 2020 sedikitnya 40 nyawa serta ratusan korban luka-luka, sejumlah bangunan seperti toko, rumah, masjid, dan kendaraan diamuk massa dari kelompok Hindu. New Delhi kini porak poranda.

Puncak konflik terjadi karena adanya undang-undang kontroversi anti Muslim. Berawal dari sikap Perdana Menteri Narenda Modi yang meloloskan Undang-undang Anti Muslim atau UU amandemen warga negara atau "Citizenship Amandemen Bill (CAB). UU tersebut menawarkan jalur singkat untuk mendapatkan suaka politik bagi minoritas agama di Afghanistan, Pakistan, dan Bangladesh. CAB mengecualikan umat Muslim dari proses tersebut sehingga ada kemungkinan warga Muslim India justru akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan. Akibatnya umat Muslim India semakin terpinggirkan, minoritas, dan tertindas.






Tragedi yang menimpa saudara Muslim kita di India mendapat sorotan dari berbagai wilayah di dunia. Reaksi pun muncul dari Indonesia yaitu pengurus besar Nahdatul Ulama atau PBNU melalui kedubes India di Jakarta, mereka ingin meminta penjelasan kronologi peristiwa sebenarnya. Sudah sepatutnya kita berbelasungkawa karena mereka diperlakukan tidak adil dan diserang asbab keislamannya. Sudah seharusnya penguasa Muslim dunia membantu dan menolongnya. Tetapi yang terjadi saat ini hanya sekedar basa-basi. Cukup dengan cara mengecam saja tanpa aksi nyata. Sejalan dengan rekomondasi ala Barat dan kerangka diplomasi, tidak ada sikap pembelaan utuh sebagai sesama muslim.

Islam memang telah mengajarkan bahwa setiap muslim bagi muslim yang lainya adalah saudara. Mereka bagaikan satu tubuh jika ada yang tersakiti maka akan terasa sakit semua anggota tubuhnya. Tapi faktanya sekarang berbeda. Umat Islam dipisahkan dan disekat-sekat oleh wilayah dan negara. Hal ini sangat memudahkan bagi kaum kafir penjajah untuk menyakiti, menindas, dan mendikriminasikan umat muslim. Sudah saatnya umat Muslim perlu perisai, pelindung, pemimpin yang akan senantiasa di garda depan. Melindungi dan menjaga martabat harga diri umat Muslim dunia.

Akankah mengharapkan tegaknya kembali pelindung Islam hanya sekedar mimpi? Sebuah pemerintahan sesuai metode kenabian yang telah dilenyapkan kafir penjajah di bulan Rajab, sembilan puluh sembilan tahun yang lalu. Akankah dapat terjadi persatuan umat Islam tanpa penyekatan wilayah dan tanpa takut kepada sistem adidaya? Semua dijalankan atas dasar iman dan sesuai perintah Allah SWT. Hingga umat Islam akan diliputi kedamaian dan rahmat sebagai mana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Al-Iman (Khalifah) itu laksana perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya, jika seorang Imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah 'AZZA WA JALLA dan berlaku adil. Maka dia (Khalifah) mendapat pahala karenanya dan jika dia memerintahkan selain itu maka ia mendapat siksa" (HR Al-Bukhori, Muslim, An-Nasai, Abu Daud, Ahmad). Wallohu a'lam bishshowab.



*/Penulis adalah aktivis dan pemerhati masyarakat Cikarang

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.