Sikap Pemimpin Negeri Terhadap Wabah Corona

Hot News

Hotline

Sikap Pemimpin Negeri Terhadap Wabah Corona

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Nidha Harli Al Muslimin*


"Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari penyakit-penyakit yang mengerikan."  (HR. Abu Dawud no. 1554)

Penyebaran virus corona memasuki babak baru. Setelah di China mulai mereda, virus Covid-19 kini satu persatu mulai masuk ke hampir semua negara, tak terkecuali Indonesia. Dari awalnya hanya dua kasus WNI yang diumumkan terjangkit corona pada 2 Maret, pada 15 Maret sudah lebih dari 117 orang positif Corona. Artinya hanya dalam waktu dua minggu kenaikannya menjadi lebih dari 100 orang atau 50 kali lipat. Dan bukan tidak mungkin, jika tidak disikapi dengan tepat angkanya bisa melonjak mencapai ribuan dalam kurun waktu sepekan mendatang.

Ternyata, kondisi merebaknya wabah ini pun tidak lantas membuat semua orang panik dan khawatir. Buktinya, otak culas dalam sistem kapitalis saat ini justru bisa menelurkan ide kriminal para pelaku kejahatan yang justru mengancam kesehatan masyarakat. Diketahui banyak oknum yang melakukan penumpukan masker di beberapa tempat di Indonesia agar bisa dijual kembali dengan harga yang tinggi, antara lain di wilayah Jakarta, Jawa hingga Kalimantan. Aksi kejahatan lain, modus penyemprotan virus corona yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab; mengaku sebagai petugas kesehatan. Hingga terkuaknya aksi penjualan masker rekondisi di tengah kesulitan warga mencari masker semenjak wabah merebak.

Ketika mayoritas negara dunia waspada dan sigap melakukan tindakan pencegahan terhadap penyebaran Corona, pemerintah Indonesia justru tidak melarang masuk dan keluarnya wisatawan China dengan dalih berimbas  pada bisnis dan investasi, terutama sektor pariwisata. Sikap yang justru semakin mengundang virus Corona menjadi tak terbendung masuk ke Indonesia.

Antisipasi dan controlling yang rendah, terkesan mengabaikan keselamatan, sikap pemerintah yang legowo membuat panic buying serta was-was yang terus bermunculan di tengah masyarakat. Sementara dari pihak pemerintah sendiri, masih terlihat santai, ketawa ketiwi. Mungkin menunggu hingga level darurat dan rakyat sekarat.

Prioritas negara yang seharusnya menjadi benteng utama perlindungan rakyatnya tak dijumpai di negeri ini. Kesehatan harusnya menjadi salah satu perhatian utama negara, di samping pendidikan dan keamanan yang berhak rakyat terima. Pemerintah terus menutup mata, telinga, dan mulut padahal ancaman nyawa sedang mengincar.

Kondisi ini memberi indikasi sekaligus menjadi bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah lebih memikirkan untung rugi kapital dibanding perlindungan total untuk rakyatnya. Sehingga apapun yang terjadi dianggap tidak urgen ketimbang urusan uang, hingga sulit untuk melakukan lockdown.






Hidup di alam kapitalis-sekular, ketika materi yang menjadi tujuan utama,  nyawa dan kenyamanan hidup warga negara  tidak penting. Tanggung jawab dunia akhirat bukan prioritas, maka masyarakat tidak bisa berharap banyak. Siap mental dan siap sakit hati, karena begitu faktanya. Ini semua adalah buah dari penerapan sistem kapitalis-sekular yang diadopsi negeri ini hingga berhasil membentuk pribadi-pribadi individualis yang hanya memikirkan kepentingan diri dan golongannya saja. 

Sebagai seorang Muslim, tentu saja kita tidak boleh panik berlebihan dalam menghadapi wabah Corona. Namun, juga jangan sampai kita lengah dan mengabaikannya. Kita tetap harus optimis melakukan ikhtiar dengan berusaha menjaga kebersihan diri, lingkungan dan makanan, juga kesehatan agar daya tahan tubuh tetap baik untuk mencegah agar jangan sampai tertular virus Corona. Selain itu, juga harus selalu mengingat dan mendekatkan diri kita kepada Allah. Berdoa kepada-Nya memohon perlindungan dalam menghadapi wabah Corona seperti saat ini. Karena sebagai umat Muslim, kita wajib meyakini bahwa ini sudah termasuk dalam qadha Allah Swt.

Keyakinan itulah yang harus mendorong kita untuk senantiasa bersabar dan bertawakal hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla, Allah Ta'ala berfirman:

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."  (TQS. Ath Thalaq: 3)

Kesadaran serta keyakinan tersebut  tidak cukup hanya masyarakat saja yang berikhtiar, tetapi pemimpin harus turun tangan dengan sigap dan tanggap agar rakyatnya terlindungi secara optimal. Sebagaimana dalam sistem Islam yang telah menetapkan seorang pemimpin sebagai penanggung jawab dan pelindung seluruh warganya, tanpa terkecuali. Semua akan diselamatkan dan ditempatkan di tempat yang aman.

Di zaman Nabi saw. ketika terjadi wabah, sistem lockdown juga berlaku meski tidak sebesar saat ini. Tha'un misalnya. Beliau memerintahkan wilayah yang terkena penyakit menular untuk diisolasi. Penghuninya tidak boleh keluar, dan orang dari luar tidak boleh masuk. Sampai berapa lama? Tidak ada batasan yang jelas. Tentunya sampai wabah itu reda atau hilang. Di masa lalu, wabah tha'un bisa merenggut jutaan jiwa. Sebagian karena penyakitnya langsung, sebagian lainnya karena kelaparan akibat berkurangnya pasokan makanan setelah wilayah itu diisolasi.

Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,"  (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal tersebut juga telah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. ketika menghadapi wabah penyakit Tha'un. Umar ra. memerintahkan seluruh warganya untuk tidak memasuki daerah yang terjangkiti wabah penyakit tersebut. Beliau menangis saat mendengar kabar beberapa orang meninggal akibat terpapar wabah dan tetap memasuki wilayah yang terjangkiti wabah penyakit tersebut sebab keperluan bisnis. Pemimpin dalam Islam akan sangat menjaga kehidupan rakyatnya, sebab harga nyawa dalam Islam sangatlah berharga, tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Jika tidak ada upaya sungguh-sungguh dalam mencegah penularan virus Corona ini, dengan segera mengevakuasi warganya dan melakukan pelarangan masuk ke negeri yang sedang terjangkiti wabah penyakit, maka bersiaplah mengeluarkan biaya yang lebih mahal akibat potensi penularan virus di dalam negeri. Dalam Islam, pemimpin dan negara menjalankan fungsinya sebagai junnah (tameng) yang menjaga umat dari segala bentuk ancaman dan marabahaya.

Pemerintah sebagai pelayan umat, memberikan pelayanan terbaik sehingga membuat masyarakat dapat hidup tenteram, aman, dan sejahtera dalam naungannya. Negara melayani sepenuh hati berdasar hukum syara' bukan berdasar untung rugi. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan Khulafaur Rasyidin saat menjadi pemimpin Daulah Islam.

Sebelum terjadinya suatu wabah, negara telah memberikan pelayanan kesehatan terbaik dan menjaga kesehatan rakyat dengan baik. Memberlakukan sekaligus menjaga masyarakat dari makanan yang halal dan thoyyib, serta lingkungan yang sehat. Pun saat terjadinya wabah, seorang pemimpin seharusnya melakukan beragam cara sampai wabah tersebut berakhir.

Dan semua itu hanya bisa dilaksanakan saat seluruh aturan Islam diterapkan. Negara akan independen dan bijak dalam mengambil keputusan terbaik untuk negara dan rakyatnya. Bukan seperti saat ini, penguasa seolah lemah di hadapan asing karena faktor ekonomi.

Dari virus Corona, Allah juga memberikan peringatan kepada manusia agar jangan bersikap angkuh dan sombong dengan mencampakkan aturan-aturan-Nya. Jika Dia sudah berkehendak, maka tidak satu manusiapun mampu menolaknya. Hanya Islamlah yang memberikan aturan sesuai fitrah manusia. Sudah saatnya manusia menjadikan wabah dari virus Corona ini sebagai peringatan untuk segera menerapkan Islam kaffah, individu maupun kelompok masyarakat dan juga tentunya negara. Wallahu a'lam bi ash showwab.



*/Penulis adalah Aktivis Dakwah

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.