Syariat Islam Solusi Tuntas Ketahanan Keluarga

Hot News

Hotline

Syariat Islam Solusi Tuntas Ketahanan Keluarga

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Candra Windiantika


Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga adalah sekolah kepribadian pertama dan utama bagi seorang anak. Hafidz Ibrahim dalam syairnya mengatakan ‘Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat’.

Begitu pentingnya peran keluarga untuk membentuk sebuah generasi. Ayah dan Ibu mempunyai peran yang berbeda dalam keluarga, namun memiliki satu tujuan yang sama. Jika ibu berperan sebagai pendidik, maka ayah mempunyai peran untuk menyiapkan sarana dan prasana dalam proses pendidikan.

Seorang ibu memiliki kewajiban di dalam urusan domestik keluarga seperti mendidik anak, mengurus rumah ataupun mengurus keuangan. Sedangkan ayah, sang kepala keluarga mempunyai kewajiban yaitu di dalam urusan eksternal seperti mencari nafkah dan menyediakan pakaian serta tempat tinggal yang layak bagi anggota keluarganya. Seorang istri dibolehkan untuk membantu suami mencari nafkah dengan syarat urusan domestik yang menjadi kewajiban seorang istri sudah tertunaikan dengan baik.

Realita tak seindah ekspektasi, mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan keluarga saat ini. Karena nyatanya saat ini perceraian marak terjadi. Nyaris setengah juta pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia cerai sepanjang 2019 lalu. Dari data Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutus perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Di Pengadilan Agama sebanyak 347.234 perceraian berawal dari gugatan istri dan kasus 121.042 perceraian atas permohonan talak suami. Sehingga total di seluruh Indonesia sebanyak 485.223 pasangan. Masalahnya juga beragam, mulai dari masalah ekonomi, hubungan sesama jenis, hingga sebab media sosial ikut melatarbelakangi banyaknya kasus perceraian.  

Situasi yang masih rentan dalam keluarga dan belum adanya aturan yang menyeluruh untuk mengatur keluarga memunculkan Rancangan Undang Undang (RUU) Ketahanan Keluarga. RUU Ketahanan Keluarga dicanangkan untuk mengembalikan fungsi keluarga termasuk memperkuat peran, fungsi, dan pola relasi suami istri. Namun, usulan ini memicu pro dan kontra.






Bagi yang tidak sepakat menganggap Rancangan Undang Undang ini terlalu masuk ke ranah pribadi. Banyak pasal dinilai melanggar hak asasi manusia dan memundurkan peran perempuan, menyalahi prinsip kesetaraan gender yang selama ini diperjuangkan oleh kaum feminis. Situasi lainnya adalah kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan yang makin tak terjangkau. Sehingga ibu rumah tangga  harus ikut membanting tulang guna mencukupi kebutuhan keluarga.

Syariat Islam kaffah terbukti mampu mewujudkan ketahanan keluarga sekaligus mengukuhkan bangunan masyarakat hingga negara. Di dalam Islam, negara wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan setiap individu. Dalam keluarga, seorang suami yang tidak mampu bekerja mencari nafkah karena keadaan tertentu maka negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokoknya seperti makanan, minuman, tempat tinggal hingga pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Di dalam sistem ekonomi Islam, ada pengaturan kepemilikan umum. Apabila dapat dimanfaatkan secara langsung seperti air, padang rumput, sungai dan lautan maka setiap orang boleh menggunakannya. Namun apabila kepemilikan umum itu merupakan sesuatu yang sulit dimanfaatkan secara langsung seperti minyak bumi dan barang tambang maka tugas negara untuk mengeksploitasi dan mengumpulkan pendapatannya ke Baitul Mal. Kemudian, negara bertugas memanfaatkan hasilnya untuk kemaslahatan seluruh ummat.

Di dalam sistem sosial, Islam mengatur pergaulan antara laki laki dan perempuan. Mencipatakan masyarakat yang bebas dari zina dan penyimpangan seksual. Mengatur pemenuhan segala dorongan naluri manusia, termasuk naluri mempertahankan keturunan (gharizatun nau') dengan ikatan pernikahan. Dan tidak memperbolehkan bagi laki laki untuk mengenakan pakaian perempuan serta bertingkah laku seperti perempuan, begitupun sebaliknya.

Penerapan sanksi di dalam Islam sebenarnya mampu memberikan efek jera bagi pelaku kemaksiatan seperti zina dan penyimpangan seksual. Sehinggga sebenarnya dengan begitu, keluarga akan aman dari ancaman yang dapat merusak moral dan iman generasi.

Dengan tegaknya aturan Islam di seluruh aspek kehidupan maka bukan hanya memperkuat ketahanan keluarga. Namun juga individu, masyarakat hingga negara. Selain itu, dengan penerapan syariat Islam secara kaffah akan menurunkan rahmat Allah bagi seluruh alam. Solusi tuntas ketahanan keluarga tidak lain dan tidak bukan adalah aturan dari Ilahi yaitu syariat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.