Tara Basro dan Adat Ketimuran

Hot News

Hotline

Tara Basro dan Adat Ketimuran

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Ida Purwati


Unggahan foto aktris Tara Basro yang menampilkan dirinya tanpa busana, menghilang dari dunia maya setelah sebelumnya sempat diklaim oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Meskipun telah menghilang dari jagad media sosial, namun warganet sudah terlanjur melihat unggahan tersebut. Lewat foto tersebut, ia mengampanyekan body positivity, mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan diri sendiri.

Dengan kacamata sekulerisme seperti kondisi saat ini tentunya akan menghasilkan polemik di tengah masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempunyai tolak ukur dalam melakukan suatu perbuatan. Hingga wajar, gempuran paham-paham liberalpun mudah bercokolan dan tumbuh subur yang tentu saja semakin menambah rumitnya standar perbuatan manusia.






Adanya unggahan tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bagi sebagian masyarakat yang masih mengklaim dirinya sebagai penjunjung adat ketimuran, menganggap bahwa hal tersebut tidak pantas dan tidak layak dijadikan konsumsi umum. Sedangkan di kubu seberang, menganggap bahwa hal tersebut wajar saja jika dilihat atas nama seni dan hal yang positif. Dan tanpa disadari atau tidak, pemahaman yang menganggap hal tersebut ‘biasa’ secara tidak langsung akan meracuni pemikiran orang lain. Yang justru akan membuat orang berlomba-lomba untuk menampakkan auratnya di depan publik. Bukankah kemudian hal ini sama saja disebut sebagai pornografi dan pornoaksi?

Persoalan baru pun akan muncul. Bisa jadi wanita akan membandingkan dirinya dengan yang lain. Merasa bentuk tubuh yang dimiliki tidak ideal atau layak menurut kacamata pandangan liberal. Hingga akhirnya mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tubuh kategori ideal itu.

Kita sebagai manusia harusnya menyadari, apa yang kita lakukan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Itu adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Sehingga harusnya semakin membuat kita mawas diri dan berhati-hati terhadap apa yang kita lakukan. Standar perbuatan kita pun harusnya jelas. Bukan apa kata orang, apa kata media, umumnya orang begini, dan dalih sejenisnya. Kita diciptakan oleh-Nya dan sudah saatnya untuk kembali pada aturan-Nya, Sang Pencipta kita.



Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.