Upaya Bersama Demi Generasi Muda Kita

Hot News

Hotline

Upaya Bersama Demi Generasi Muda Kita

(ilustrasi-www.dapurpena.com)


Oleh Diana Sari, S.Farm.,Apt


Sebagai ibu dengan dua orang putri, mendengar masalah yang tengah dihadapi para  remaja saat ini, membuat was-was dan hati miris. Contoh kasus N (15 tahun) yang menenggelamkan dan mencekik A (6 tahun) hingga tewas. N membawa mayat A ke lemari di kamarnya lalu tidur seperti biasa. Dan esok paginya terlihat seperti hendak berangkat sekolah namun berganti baju di tengah jalan, menuju Polsek Tamansari, Jakarta Pusat dan mengakui perbuatannya. Polisi pun mendatangi rumah N dan menemukan mayat bocah A di lemari. Ternyata N terinspirasi dari film horor Slender Man dan Chucky. Na’udzubillah..

Yang perlu kita perhatikan di era digital saat ini, para remaja diserang tayangan sampah yang mempromosikan sadisme tanpa sensor dan tidak bisa disortir cepat sebab melalui smartphone. Smartphone bukan barang mewah seperti dulu. Hampir semua lansia dan remaja bahkan anak berusia balita memiliki smartphone.






Tayangan sadisme hadir begitu saja di  smartphone anak-anak, seolah tidak ada pengawas tayangan di negara ini. Remaja yang menonton tayangan tersebut akhirnya terdoktrin untuk meniru pelaku. Apalagi kini Hollywood gemar membentuk citra positif terhadap pembunuh berantai. Hingga penonton tak merasa benci pada sang pelaku, bahkan justru terinspirasi.

Kemajuan teknologi dimanfaatkan kapitalis Barat untuk mendulang dolar dari tayangan kekerasan. Tontonan itu telah menjadi tuntunan. Sementara sistem pendidikan sedemikian sekuler, sekolah didominasi dengan transfer materi dan bukan transfer moral pribadi agar anak bertakwa. Liberalisasi media dan sekularisasi pendidikan  turut bertanggungjawab menghasilkan kerusakan generasi.

Kasus N juga mengingatkan kita, para orang tua, untuk memperhatikan anak kita. Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, melimpahinya dengan kasih sayang, dan peduli pada perasaannya, adakah hal yang membuatnya sedih/marah ataukah hal yang membuatnya terganggu psikologis. Juga mengawasi aktifitas mereka, tayangan apa yang mereka lihat, dan menyaring isinya agar ramah untuk anak kita, baik dengan edukasi maupun fasilitas dari aplikasi. Bahkan sebisa mungkin menyimpan smartphone ketika orang tua sedang membersamai anaknya.

Sungguh problem ini harus segera diselesaikan. Solusi atas masalah ini tak bisa diserahkan hanya pada psikolog, polisi, atau bahkan orang tua pelaku. Butuh solusi integral-sistemis yaitu dimulai dari mengubah azas kehidupan kita yang demikian sekuler-liberal, di mana agama dimaknai hanya sebagai aktivitas ritual.

Upaya seperti disebutkan berikut dapat menjadi acuan kita para orang tua. Keluarga dikembalikan posisinya sesuai tatanan syariat Islam, bahwa keluarga adalah kepemimpinan terkecil. Ayah bertanggung jawab atas amanah sebagai pemimpin (qawam), ibu bertanggung jawab atas posisi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa robbatul bait), dan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan juga wajib taat pada orang tua (selama tidak maksiat).

Dari sisi negara, negara harus turut berupaya memperhatikan relasi keluarga, sudahkah terwujud sakinah ataukah belum. Negara memfasilitasi para anggota keluarga yang konflik untuk dinasihati, dimediasi, dan dihibur. Negara juga menyejahterakan ekonomi agar kefakiran tak menjadi momok yang merongrong keharmonisan keluarga. Para pemimpin negeri harus terus mengingatkan rakyatnya agar bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana takwa.

Aneka tayangan di media yang merusak keharmonisan keluarga wajib diblokir. Konten kekerasan, pornografi, kebebasan bertingkah laku, perselingkuhan, kebohongan, dan sebagainya sepatutnya diblokir. Konten media diupayakan agar menjadi media yang sehat bagi generasi.

Ketika keluarga sakinah, anak menjadi pihak yang berbahagia. Anak mendapatkan kasih sayang, dukungan, dan tuntunan dari orang tua. Sehingga akan lahirlah generasi yang saleh, generasi yang mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka tak perlu mencari pelarian di luar, karena keluarga telah melengkapi hidupnya.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.