Virus Covid-19 di Indonesia, Harga Nyawa dan Perekonomian

Hot News

Hotline

Virus Covid-19 di Indonesia, Harga Nyawa dan Perekonomian

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Humaiyrah*


Siapa yang tidak kenal dengan virus yang sedang diperbincangkan oleh masyarakat dunia ini. Virus yang berasal dari China khususnya di kota Wuhan ini begitu meresahkan banyak kalangan. Sampai kota Wuhan sendiri menerapkan aturan LockDown. Beberapa negara pun ikut menerapkan LockDown ini. Lalu apa kabar dengan Indonesia?

Di Istana Kepresidenan, Presiden Jokowi meminta kepada seluruh gubernur, bupati, dan walikota untuk terus memonitor kondisi daerah dan terus berkonsultasi dengan pakar untuk menelaah siatusi yang ada. Pertanyaannya, mengapa tidak langsung pemerintah pusat saja yang melakukan lockdown? Lantas mengapa pemerintah pusat malah menyerahkan kasus ini ke wilayah daerah masing-masing. Penguasa seperti lepas tangan dengan kasus ini.

Penyebaran virus Covid-19 ini begitu melonjak cepat. Bagaimana tidak? Yang awalnya hanya 2 orang positif, hingga tulisan ini diterbitkan tercatat sekitar 200 orang dinyatakan positif, hanya dalam hitungan hari. Penanganan dari pusat pun terkesan begitu lambat. Munculnya virus ini menyebabkan melonjaknya harga bahan pangan, masker dan hand sanitizer. Miris, di tengah kebutuhan yang mendesak, harga alat kesehatan malah naik. Tidak adakah dermawan yang tidak mencari keuntungan di tengah himpitan ini? Sungguh banyak yang baik hati ingin menolong tapi ternyata memiliki niatan mencari keuntungan. Beginilah jika sistem berazas manfaat sepihak. Semakin menyusahkan rakyat menengah ke bawah sebab kesulitan ekonomi dan kesehatan.

Para pemimpin yang memiliki kekuasaan pun sangat lamban dalam menyikapi virus ini. Seakan-akan nyawa sudah tidak berharga. Kemunculan virus ini telah menelan korban jiwa 20 orang di awal-awal. Seharusnya, jika Indonesia tidak ingin menerapkan aturan LockDown yah paling tidak Indonesia perlu menerapkan tes massal. Seperti yang dilakukan Korea, untuk mengetahui angka pasti penderita Corona dan mengisolasi penyebaran virus ini. Dengan tes massal, pemerintah Indonesia setidaknya memiliki status yang pasti, bukan mengira-ngira, malah terus terdapat peningkatan korban kematian akibat Corona ini.






Semestinya pemerintah mempunyai prioritas. Apabila LockDown diterapkan, maka akan berdampak pada kondisi ekonomi negara. Apabila tidak menerapkan LockDown, maka pemerintah harus tegas menutup akses keluar masuk darat, udara, dan laut. Kita lihat, apa yang pemerintah utamakan? Ekonomi atau nyawa rakyatnya? Percuma apabila ekonomi tinggi tapi rakyat nantinya berjatuhan seperti di Italia. Meski sudah berstatus negara maju, tetap saja rakyat sengsara perekonomiannya. Bahkan hutang negara terus bertambah. Jika dengan alasan perekonomian, maka pemerintah pusat wajib menginstruksikan pemerintah daerah untuk bersama-sama menutup akses orang asing masuk ke Indonesia dan orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar.

Apakah nilai nyawa sudah tidak ada harganya? Ke mana pemimpin yang tegas dan bertanggungjawab serta sigap menangani persoalan mendesak seperti ini? Kenapa menunggu sikap pemerintah daerah? Dan kenapa pemerintah pusat malah menyerang pemerintah daerah yang sigap dengan penanganan terhadap warganya?
  
Kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah saat ini adalah ‘social distancing’ atau menjaga jarak setiap dua meter serta LockDown (berdiam di rumah selama 14 hari penuh). Dengan mengadakan libur panjang untuk para anak sekolah maupun mahasiswa dan penutupan wisata alam. Tapi ini belum cukup mampu untuk penghentian virus Covid-19. Masyarakat belum sadar betul tujuan diadakannya libur panjang. Libur yang dimaksudkan untuk mengisolasi diri dengan berdiam di rumah, untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19, malah digunakan untuk pergi berlibur keluar kota, jalan-jalan atau pulang ke kampung halaman yang akan berdampak kepada penyebaran virus semakin luas. Apabila penyebaran virus meluas bukan hanya korban jiwa yang bertambah tapi kondisi tenaga medis juga akan kewalahan dalam menangani.

Pemerintah pusat seharusnya memiliki tanggung jawab penuh terhadap kasus ini, menanggapi dengan cepat serta mengambil tindakan bukan malah seperti lepas tangan dan menyerahkan kepada pemimpin daerah masing-masing. Seperti pemerintah Malaysia yang melakukan penyemprotan dari atas menggunakan helikopter di seluruh wilayah Malaysia, selain menerapkan LockDown 14 hari.

Pemerintah bisa mencontoh para pemimpin Islam terdahulu seperti Umar bin Khatab. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, di negeri Syam juga pernah terjangkit wabah penyakit seperti Corona ini yaitu wabah Tho'un. Penyakit mengerikan ini menyebar dan apabila terkena ketika pagi sakit, sore meninggal. Bila sore sakit, pagi meninggal. Begitu cepat rantai kematiannya, memakan korban 20 ribu rakyat Syam meninggal hingga Umar bin Khatab bingung.

Beliau memanggil Amr bin Ash. Setelah berbincang-bincang, Amr bin Ash menemukan solusinya yaitu kembali taat kepada Allah dan Rasul. Amr bin Ash meminta agar seluruh masyarakat berpisah dan memisahkan diri sebab wabah ini muncul karena adanya perkumpulan. Tidak lama setelah itu hanya dalam hitungan hari kasus ini selesai.

Pertanyaannya, apakah pemimpin negeri ini seperti Umar bin Khatab? Rakyat butuh pemimpin semacam Umar bin Khatab yang memiliki tanggung jawab penuh, sebagai pelindung, menyejahterakan rakyat dan juga negerinya, bukan malah pemimpin yang masih menghitung untung rugi keuangan dalam menangani virus yang berpotensi membahayakan nyawa rakyatnya ini.



*/Penulis adalah Aktivis Dakwah

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.