Warga Negara Bukan Bukan

Hot News

Hotline

Warga Negara Bukan Bukan

(Ilustrasi/Mahesa-www.dapurpena.com)


Oleh : Muh Fattah Dwi Artanto



Almarhum Gusdur pernah ditanya, Indonesia ini negara apa ? Beliau menjawab. Indonesia bukan negara sekuler karena agama punya peranan. Indonesia juga bukan negara Islam karena ada enam agama yang diakui di Indonesia. Gusdur kemudian melanjutkan, karena Indonesia bukan negara sekuler, juga bukan negara agama, berarti Indonesia adalah negara yang bukan-bukan.

Pernyataan ini dianggap lelucon. Tapi dibalik leluconnya, ia sarat akan makna. Gusdur ingin mengajarkan kita agar sebagai bangsa, sebagai warga negara, kita tidak lagi disibukkan oleh ideologi bangsa. Perihal ideologi telah dirumuskan dan diselesaikan oleh founding father kita.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pemerhati ideologi bangsa disibukkan oleh beberapa organisasi yang membawa paham keagamaan yang bertentangan dengan kebhinekaan kita. Sebut saja ikhwanul muslimin dan HTI. Ia berusaha mengambil hati warga Indonesia dan berupaya menyebarkan paham keagamaannya demi terwujud cita-cita untuk menerapkan sistem Islam. Atau mendirikan negara Islam di tanah yang plural seperti Indonesia. Padahal jelas, Indonesia bukan hanya diperjuangkan oleh satu agama saja, tetapi kemerdekaan Indonesia sebab keterlibatan berbagai agama.





Indonesia merdeka bukan hanya kerja keras satu bangsa maupun satu suku saja. Tetapi, Indonesia merdeka karena kolabarasi maupun sinergitas diantara banyaknya bangsa dan suku yang ada di Indonesia. Karena cita-cita yang sama dari pemeluk agama, bangsa, dan suku berbeda sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang merdeka.

Dalam menjaga kerukunan antar bangsa, antar suku, dan agama, founding father kita merumuskan sebuah nilai. Nilai inilah yang disebut sebagai Pancasila. Inilah menjadi pedoman dalam bernegara di Indonesia yang plural ini. Hanya saja oleh organisasi yang membawa ideologi transnasional menganggap pancasila bertentangan dengan agama. Apakah benar anggapan tersebut? Mari kita simak butir-butir pancasila.

Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Prof Quraish Shihab, Penulis Tafsir Almishbah, mengatakan bahwa nilai yang paling tinggi di dalam Islam adalah LAILAHA ILLALLAH. Dan Ketuhanan yang Maha Esa adalah matahari kehidupan jiwa. Disekeliling matahari itu ada planet-planet tata surya yang selalu harus berkaitan dengan matahari. Jika tidak, maka planetnya akan runtuh. Beliau melanjutkan penjelasannya, bila tingkat yang paling tinggi adalah Ketuhanan yang Masa Esa maka tingkat yang dibawahnya yang berkaitan dengan matahari itu adalah persatuan dan kesatuan umat manusia. Itulah sebabnya sila kedua adalah kemanusian. Kemanusiaan bagaimana? Kemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah nilai-nilai kita. Dibawahnya ada lagi, sila ketiga: persatuan Indonesia. Dibawahnya ada lagi untuk mewujudkan persatuan Indonesia, sila keempat: musyawarah. Hasil dari musyawarah itulah yang menjadi sila kelima: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari penjelasan di atas, kira-kira sila mana yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam? Bukankah Islam mengajarkan agar kita meyakini Tuhan adalah ESA? Bukankah Islam mengajarkan agar kita menjaga hubungan kemanusiaan? Bukankah Islam membenci perpecahan? Bukankah Islam menganjurkan musyawarah dalam mengambil keputusan? Dan bukankah Islam juga mengharapkan agar manusia  berlaku adil agar tercipta masyarakat yang sejahtera? Dari pertanyaan-pertanyaan ini, harapannya semoga pembaca dapat merefleksikan kembali pemahaman keindonesiaan dan keagamaannya.

Sebagai warga negara, harusnya kita tidak lagi disibukkan oleh ideologi, tidak mudah tergerus oleh arus ideologi transnasional, karena kita telah memiliki nilai. Nilai yang disebut sebagai pancasila. Sebagai warga negara, harusnya kita mengisi kemerdekaan dengan terus menempa diri agar menjadi warga yang dapat memberikan sumbangsih karya untuk kemajuan Indonesia. 

Mulailah dengan hal yang sederhana. Karena Indonesia adalah negara yang heterogen, maka kita harus menghormati agama lain sekalipun kita tidak mempercayainya. Itu hanya dengan mengakui eksistensinya saja kita bisa hidup berdampingan, walaupun ditengah-tengah perbedaan yang ada.

Akhirnya dapat kita gariskan, Indonesia bukanlah negara bukan-bukan. Karena Indonesia memiliki nilai yang disebut dengan Pancasila (lima sila). Boleh jadi kitalah yang menjadi 'warga negara bukan-bukan', karena dengan sombong mengobrak-abrik kebhinekaan kita. Dengan khilafah, misalnya?




*/ Penulis adalah Mahasiswa FDK UIN Alauddin Makassar


Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.