Wirausaha : Niatkan dari Hati, Jalani dengan Hati- Hati

Hot News

Hotline

Wirausaha : Niatkan dari Hati, Jalani dengan Hati- Hati

(ilustrasi/www.dapurpena.com)

Oleh: Mu’ayyadah*


Sebuah acara yang mengangkat tema peran dan fungsi Bank Indonesia dalam pengendalian Inflasi oleh Tadris IPS IAIN Kudus menyita perhatian yang berkaitan dengan masalah ekonomi di negeri ini. Meninggalkan kesan penting karena berisikan materi tentang berwirausaha.

Mahasiswa sebagai agent of change diharapkan mampu mendongkrak kemajuan ekonomi dan memperkuat nilai rupiah, salah satunya melalui wirausaha. Dalam kesempatan itu, sebuah kata motivasi terucap oleh Mustofa, Tak ada yang abadi kecuali perubahan, maka berubahlah menuju kemajuan. Seolah menjadi obat akan kemalasan dan stagnasisasi kaum mahasiswa selama ini.

Melihat fenomena malas atau dalam bahasa milenial ‘rebahan’, maka perlunya semangat dan motivasi dalam perubahan. Salah satunya, dukungan moril oleh wakil rakyat. Sebagian mahasiswa saat ini sudah dininabobokan oleh kemudahan tekonologi dan menipisnya kerja keras mereka untuk proses menuju sukses.

Usaha yang tak seberapa sudah dinilai menjadi hal yang luar biasa, sehingga hasil yang diperoleh jauh dari kata berhasil. Keberhasilan memang tak bisa diukur dengan apapun, tetapi kiranya ada presentase tertentu yang diperoleh dari usaha dan hasil. Maka dari itu, saatnya bangun dan bergerak di negeri ini dengan perubahan agar tercapainya kesuksesan. Perubahan dari ketidakbaikan menuju kebaikan, perubahan dari rebahan menuju wirausaha.






Setiap manusia diberi akal dan waktu yang sama oleh Tuhan. Seberapa syukur dengan memanfaatkan anugerah tersebut tergantung pribadi masing-masing. Banyak mahasiswa cukup berpasrah diri dan menyibukkan diri tanpa alasan jelas, banyak yang hanya sekedar ikut organisasi tanpa adanya kontribusi pasti, atau menekuni berbagai mata kuliah untuk mencapai IP tinggi. Sunguh, keegoisan masih dirasakan oleh rata-rata mahasiswa sehingga perlu adanya kontribusi nyata bagi negeri. Salah satunya ya, melalui wirausaha.

Wirausaha bisa dibangun dari hal kecil semisal bidang fashion, kuliner, atau literasi. Menyibukkan diri dengan hal bermanfaat dan berkontribusi lebih dapat dirasakan manfaatnya daripada menekuni satu bidang hanya untuk diri sendiri.

Kontribusi bagi masyarakat luas adalah tugas mahasiswa, baik saat berstatus mahasiswa maupun setelah mendapatkan gelar. Dalam salah satu kesempatan, diceritakan ada seorang mahasiswa dari Fakultas Ushuludin. Ia telah menekuni bidang usaha blogger yang berhasil meraup keuntungan sekira dua belas juta lima ratus ribu rupiah per bulannya. Wow!

Menyandang status mahsiswa telah menjadi blogger sukses tidaklah banyak. Hal ini dapat dijadikan tauladan bagi mahasiswa lainnya untuk dapat menumbuhkan jiwa wirausaha. Kisah mahasiswa itu menjadi tamparan keras. Sudah seharusnya mahasiswa menjadi agen perubahan, bukan penikmat rebahan.

Tak bisa dipungkiri janji manis setia mahasiswa ternyata hanya omong kosong tanpa bukti. Ayo, saatnya berubah ke arah kemajuan. Wirausaha adalah jawabannya. Pelik yang menjeruji bukan jadi alasan untuk berhenti. Tapi sudah seharusnya untuk lebih berusaha menjawab tantangan dengan pasti.

Dunia usaha tidak terlepas dengan klien dan sesama pebisnis. Wajib siapkan mental dan kesungguhan niat. Sebab banyak hal nantinya akan dialami terhadap sesam pebisnis. Seperti, perasaan minder dan insecure yang justru menjadi awal kebangkrutan usaha itu sendiri.

Perlu diingat, kegagalan itu tak jauh. Ia ada dari hal terdekat yakni diri sendiri. Oleh Karen itu, sangat dihargai sebuah keberanian untuk bergerak demi perubahan dalam berwirausaha. Alangkah sangat disayangkan apabila berhenti di tengah jalan karena faktor sepele.

Kendati demikian, peranan mahasiswa dalam berwirausaha tidaklah berhenti pada pergerakan, akan tetapi juga dari pemikiran. Mahasiswa yang berani bergerak tanpa adanya pemikiran visioner juga banyak yang berhenti ditengah jalan. Niat awal adalah kunci keberlanjutan suatu usaha yang dijalani.

Pemikiran inklusif, yakni membuka diri terhadap zaman dan perubahan, memang penting untuk dibekali agar tidak sekedar “angger mlaku”. Akan tetapi, dibangun kemantapan dan pemikiran inklusif. Tantangan wirausahawan, umumnya, adalah diri si wirausahawan sendiri. Maka, seorang wirausahwan mestilah bersikap inklusif dan non eksploitatif. Maksudnya, bukan menutup akses yang malah merupakan seni peluang menjadi pasar. Namun, lebih berhati-hati dalam implementasi.

Jadi, urgensi dari wirausaha sendiri adalah tidak takut untuk memulai dan tidak berhenti bila sudah dijalani. Konsekuensi baik buruk akan terus mengiringi maka niatkan dan mantapkan hati.



*/Penulis adalah Pegiat Literasi dan Aktivis Lembaga Pers Mahasiswa Kudus

Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.