ADRIAN DAN MONSTER CORONA

Hot News

Hotline

ADRIAN DAN MONSTER CORONA

(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)



Oleh: Firdaturrofiah


“ Bun, kenapa kita tidak boleh keluar?” tanya seorang anak kecil sambil menarik-narik baju ibunya.
“ Aku ingin keluar!” anak berumur 6 tahun itu merengek kepada Sang Bunda. Anita mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut. Ia mengalihkan pandangannya kepada Sang Anak.
“ Kamu kenapa, Sayang?” tanya Anita. “ Bosen, ya?” tanya Anita Larasati, seorang guru yang terpaksa libur dari tugasnya karena sebuah wabah baru telah menyerang negeri tercinta. Ia seorang single parent sejak 2 tahun lalu. Suaminya meninggal karena sebuah kecelakaan beruntun.


Sekarang, ia harus menghidupi anak tunggalnya yang bernama Adrian seorang diri dengan hasil pekerjaan guru yang tak seberapa. Namun, ia sangat bersyukur akan kehidupannya. Walau masih tidak bisa disebut serba cukup.
“ Bunda, aku mau main keluar. Aku kangen temen-temen,” rengek Adrian. Adrian menangis sangat kencang membuat Anita tak bisa melanjutkan pekerjaannya.
“ Sayang, dengarkan Bunda. Pilih kata-kata ini, menetap di rumah atau menetap di foto. Mau yang mana?” tanya Anita kepada anaknya.
Adrian bingung akan maksud Bundanya. Ia menggaruk kepalanya. Meletakkan jari telunjuk kanan di dagu seolah tengah mempertimbangkan sesuatu.
“ Kalau di foto gimana?” tanya Adrian balik.
Anita tersenyum melihat tingkah lugu anaknya. Tangannya mengacak rambut Adrian gemas. “Dan, Adrian akan masuk rumah sakit dulu sebelum di foto.” Anita menjawab dengan tingkah seperti anak kecil. Ia mencubit kedua pipi Adrian kemudian memangku ke dalam gendongannya.
“ Eum... jadi Adrian harus masuk rumah sakit dulu ya, Bun? Baru di foto,” ujar Adrian menatap Anita serius.
“ Bukan begitu maksud Bunda. Kalau kamu keluar, nanti kamu ketemu si corona, terus kamu diikat sama dia, terus kamu dilahap sama dia, terus kamu masuk rumah sakit, terus berakhirlah nyawa Adrian. Lalu, dikubur dan akan meninggalkan foto nantinya,” ujar Anita sambil memperagakan gaya ala monster, membuat Adrian bergidik ngeri.
“ Maka dari itu, kita harus tetap di rumah. Maka dari itu, penting adanya lockdown ini. Bunda gak mau kehilangan Adrian. Bunda masih sayang Adrian. Jangan keluar ya, Sayang?” pinta Anita dengan memelas.
Adrian memeluk Sang Bunda erat. “Adrian gak mau keluar lagi. Adrian maunya sama Bunda. Adrian juga gak mau kehilangan Bunda. Bunda juga jangan keluar. Adrian sayang sama Bunda,” ujar Adrian semakin mempererat pelukannya.


Anita merasakan basah di pundaknya. Ia mengelus bahu Adrian yang bergetar. Ia tahu anaknya tengah menangis. “ Adrian sayang Bunda. Bunda gak boleh tinggalkan Adrian seperti ayah....”
Anita memeluk anaknya tak kalah erat. “ Pasti, Sayang. Pasti. Jika Ia berkehendak.” Kedua anak dan ibu itu saling mencurahkan kesedihan masing-masing melalui dekapan hangat yang jarang orang dapat.



Menetap di rumah atau menetap di foto, pilihan yang wajib semua orang pilih di tengah wabah yang merajalela ini. Apa yang telah ia berikan tak akan pernah tanpa alasan. Bersabarlah semua akan indah pada waktunya.




Editor: Putri H.L

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.