DILEMA IBU TIDAK SIAP MENJADI GURU

Hot News

Hotline

DILEMA IBU TIDAK SIAP MENJADI GURU

(Ilustrasi/Desain-www.dapurpena.com)

Oleh : Nursyam


Covid 19 atau yang disebut virus corona kini sedang mewabah di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa virus yang berasal dari Wuhan, China ini sangat berbahaya. Sebab penularan virus corona ini sangat cepat. Virus ini menyerang rongga pernapasan sehingga bisa sampai mengancam nyawa manusia yang  sudah terinfeksi. Hal ini terbukti dengan banyaknya angka kematian akibat tertular covid 19 ini.
Sejak hari pertama covid 19 diumumkan di Indonesia,   hingga sampai saat ini sudah menelan puluhan korban jiwa. Satu persatu para medis yang menangani kasus ini pun ikut terinfeksi hingga nyawa mereka tidak bisa terselamatkan. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi semakin maraknya penularan virus ini, diantaranya dengan meliburkan seluruh anak sekolah.
Meski anak-anak diliburkan sekolah namun anak-anak diwajibkan untuk tetap belajar di rumah. Yakni ibu harus menjadi guru bagi anak, agar bisa tetap belajar selama mereka diliburkan. Namun yang menjadi persoalan adalah bahwa tidak semua ibu bisa menjadi guru. Banyak dari orang tua merasa kesulitan dalam memberikan mata pelajaran kepada anak-anaknya.

Pengalaman ibu Pertiwi menghadapi anak belajar di rumah membuatnya merasa stres, di mana dia harus mengerjakan tugas kantor, mengurus rumah, dan harus menjadi guru. Sehingga dia merasa tidak bisa fokus untuk memberikan pelajaran kepada anaknya.(kompas.com18/3/2020).
Perempuan di jaman ini ibarat buah simalakama di satu sisi ingin memfokuskan diri dalam mengurus keluarganya. Namun juga tidak bisa menutup mata akan tawaran rupiah di luar rumah, yakni menjadi seorang wanita karir.
Bahwa penerapan sistem pendidikan ala sekuler adalah akar dari semua masalah yang dialami masyarakat saat ini, yang mana kurikulum sekuler ini pondasinya adalah memisahkan agama dari kehidupan. Materi serta metode pengajaran mata pelajaran sengaja dibentuk untuk menjadikan Islam sebagai ilmu pengetahuan saja. Yakni agama tidak dijadikan pondasi dalam mendidik pelajar, sehingga para pelajar tidak sampai kepada pemahaman tentang keridoan Allah SWT sebagai ukuran kebahagiaan yang harus diraih.

Oleh karena itu, tidak heran jika sistem ini melahirkan generasi yang memikirkan dunia semata. Menjadikan ukuran kemaslahatan selalu lebih tinggi dari ukuran halal dan haram. Materi dijadikan tujuan dalam hidupnya bahkan berlomba dalam keeksistensian. Bahwa generasi saat  ini merupakan generasi gersang akan iman, juga generasi yang menjadikan materi adalah segalanya.
Tuntutan zaman mau tidak mau telah merubah cara pandang masyarakat, yang mana wanita dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Jargon kesetaraan gender dimana kaum perempuan diberikan posisi yang sama dengan laki-laki, dari berbagai bidang.  Bisa kita lihat saat ini hampir semua pekerjaan laki-laki bisa dilakukan perempuan.
Berbagai bidang pekerjaan pun tersedia buat kaum hawa, baik itu bekerja di perkantoran maupun sebagai buruh pabrik.  Pekerjaan yang sejatinya hanya bisa dikerjakan di luar rumah ini semua bisa mereka kerjakan. Hingga menanggalkan sifat alamiah mereka dan meninggalkan kewajiban utama mereka sebagai perempuan, juga sebagai seorang ibu, yang seharusnya memiliki tanggung jawab di dalam rumah untuk mengurus keluarganya.

Namun tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, mari kita mengambil hikmah dari terjadinya kasus korona ini dengan meliburkan anak sekolah. Saat yang tepat bagi seorang ibu untuk kembali kepada fitrahnya.  manfaatkan kesempatan libur sekolah ini untuk mengambil peran sebagai guru kepada anak-anak kita.
Berikanlah mereka pendidikan yang terbaik, dimulai dengan bagaimana harus bersikap, bertutur, sopan santun, hingga memahamkan pendidikan agama, agar mereka menjadi generasi yang terdidik, generasi yang bisa diandalkan. Allah SWT menciptakan manusia sesuai fitrahnya dengan kedudukannya dan tanggung jawabnya masing-masing. Wanita tidak dibebankan dalam hal mencari nafkah karena perihal  mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Wallahu alam bishowab.



*/Penulis adalah Anggota MT Khairunnisa Bal-Tim

Editor : Fariz Maulana

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.