GEMA RAMADHAN

Hot News

Hotline

GEMA RAMADHAN


   (Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)
     

Oleh: Siti Muchliza Ade Ratrini

“ Nanti malam sudah salat tarawih loh, yuk kita bareng-bareng pergi salat tarawih di Masjid!” Ajakku girang. “ Hmmm ... kamu saja ya yang pergi, aku tidak ingin salat tarawih.” jawabnya santai. “Astagfirullah al Adzim, kenapa kamu tak ingin pergi salat tarawih?” tanyaku.
“Mager!” ujarnya jujur. “Astagfirullah al Adzim, kamu ini malas gerak kalau salat sedangkan kalau ke Mall enggak?” tandasku kesal.
“ Iyalah, kalau ke Mall kita kan happy bisa belanja, lihat-lihat baju sana-sini kemari, dan nonton bioskop yang super seru. Kalau di Masjid apa? Enggak ada kan!” jawabannya girang.
“ Kita ke Masjid ya ibadah, kita melaksanakan kewajiban kita sebagai umat muslim. Kita mendapatkan pahala buat bekal kita nanti, kalau ke Mall ya jelas kamu jalan-jalan sana sini kemari tapi gak dapat pahala. Malahan dapat dosa, kenapa aku bilang dapat dosa? Ya sudah jelaslah orang-orang terlalu senang di sana sampai-sampai  melupakan kewajibannya! Kamu tahu kan kalau wajib berarti kita harus kerjakan, kalau kita tidak kerjakan akan mendapatkan dosa!” tandasku kecewa melihat sahabatku seperti itu.
“ Ck, Ade gua ngantuk dengar lu ceramah! Kalau ingin ceramah ya di Masjidlah, bukan ke aku!” ucapnya dan meninggalkan aku sendiri di depan toko.
“ Huft! Ya Allah ampunilah segala dosa sahabat hambamu ini. Bantu aku mengubah sifatnya yang telah masuk di golongan kaum kafir, “Amin”. Aku berdoa kepada Allah untuk membantuku mengubah sifat-sifatnya.

Aku pulang naik angkot ke rumah, pasalnya Rere meninggalkan diriku sendirian di depan toko. 30 menit waktu yang aku butuhkan pulang ke rumah. Sesampainya aku di rumah, aku masuk dan memberi salam
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” ucapku memberi salam sembari membuka pintu rumahku.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab Ibu dari dalam dapur.
“Ibu, lagi apa?” tanya Ade kepada Ibu.
“Oh ini, ibu lagi siapin bahan makanan yang akan di masak sebentar subuh buat kita makan sahur nanti.” jawab Ibu sembari tersenyum.
“Oh iya, Bu. Ade naik ke atas dulu ya... ingin mandi, tubuh Ade lengket habis jalan-jalan ke toko buku.” ujarku kepada Ibu.

Sesampaiku di kamar, aku tidak langsung masuk ke kamar mandi, aku duduk sejenak di kasurku dan mencari benda pipihku di dalam tas untuk menelepon Rere. Tapi berkali-kali Rere menolak panggilanku. Sungguh aku sangat khawatir saat ini, aku takut Rere memutuskan tali persahabatanku denganya yang  sejak SD sudah terbangun. 'Aku tahu dirinya tidak patuh apa yang diperintahkan Allah, tapi aku sebagai sahabatnya apa salah memarai dirinya karena ia tak ingin salat? Huft!' Aku pun mematikan handphoneku dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku ini.

Pukul 18.30 wib aku selesai salat dan tadarus, aku menelepon dirinya lagi tapi hasilnya tak berubah. Ia tak kunjung mengangkat teleponku juga. Aku gelisah, aku memikirkan dirinya. Sebelum aku berangkat ke Masjid untuk salat tarawih, aku menelepon dirinya lagi. Tapi, sama saja hasilnya. Usahaku tak membuahkan hasil. Akhirnya, aku mengirim pesan lewat whatsapp.

To: Rere Cantik
Rere, kamu masih marah ya sama aku soal tadi sore? Aku minta maaf ya sama kamu. Aku tahu omonganku tadi kelewat batas. Tapi kamu harus tahu, aku ngomong gitu biar kamu sadar. Kita di dunia hanya sementara saja, kita akan kembali ke pelukan Allah SWT nantinya. Ingat, salah satu persyaratan orang tua masuk surga ialah jika mereka berhasil mendidik anaknya secara moral ataupun agama.

Setelah aku mengirim pesan whatsapp ke Rere, aku bergegas ke Masjid untuk salat tarawih berjamaah. Aku menunggu kedatangan Rere, tapi aku tak melihat wujudnya sama sekali sampai Pak Ustadz naik ke mimbar untuk ceramah. Namun tiba-tiba, Rere muncul. Ia menghampiri dan duduk di belakangku. Aku melihat kedatangan Rere, jujur saja kegirangan pun menyelimutiku.

“Tak, usah banyak bacot. Kita lagi di Masjid, gua tobat seketika saat lu ngirim chat ke gua apalagi lu bawa-bawa nama orang tua. Udah tahu gua runtuh kalau bawa-bawa orang tua. Ambil kesempatan dalam kesempitan!” cerocos Rere, dan aku hanya tersenyum kepadanya tanpa niatan meresponnya.





Editor: Orisa



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.