HILANG

Hot News

Hotline

HILANG

 (Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)

Hidup ini sejatinya tak pernah lepas dari sesuatu yang berunsur cinta. Berbagai kisah romansa pun sudah terlalu banyak menghiasi dunia. Terlebih ketika memasuki perkuliahan, masa ini seperti membawa kita melayang dan dikelilingi derai-derai asmara.

Seperti Rio dan Tari yang hanya insan biasa. Pun tak akan lekang dari romansa. Rio yang kerap kali pergi ke kampus memakai sepatu putih, baju-baju berwarna terang, atau jaket berwarna merah maroon lengkap dengan gelang coklat di pergelangan tangannya, ditambah perilakunya yang lemah lembut. Tak ayal membuat banyak orang mengecapnya sebagai laki-laki feminin.

Dalam kesehariannya, ia juga lebih banyak berteman dengan lawan jenis dibanding berteman dengan laki-laki. Tentu, terdapat banyak pula hal positif yang ada pada dirinya. Rio sangat suka menolong, cerdas, dan murah senyum. Ia juga mahir dalam bermain piano. Pribadi Rio jauh berbeda dengan Tari. Gadis yang jutek, sombong, dan pemarah, begitulah karakter Tari yang dapat dilihat. Bagi Tari, Rio adalah laki-laki yang paling menjijikan yang pernah ia temui. Namun ada suatu saat yang membuat hati Tari terenyuh akan sikap Rio. Saat Tari sedang seorang diri berlatih musik gamelan dengan kesulitan, Rio datang menghampiri dan mengajarinya.
“Aduh! Lo lagi...lo lagi. Udah deh mending lo jauh-jauh dari gue!” bentak Tari pada Rio.
“Tapi, gue ke sini niat mau bantu lo main gamelan...” ujar Rio dengan tenang.
“Ih! Apaan, sih! Nggak usah sok peduli gitu, deh!”
“Itu lo megang sticknya aja kebalik. Ini yang bener....” ujar Rio seraya memainkan alat musik tersebut di hadapanku.

Sejak itulah tumbuh benih-benih cinta di hati Tari. Tari menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada Rio. Kemudian keduanya berhasil menjalani hubungan.

Namun, suatu siang yang sangat terik membuat hati Tari meringis sakit. Ia melihat Rio merangkul seorang gadis di bangku taman kampus. Tari pun menghampiri dua orang yang tengah bercanda ria di taman tersebut.
“Rio! Siapa dia?”, tanya Tari dengan alis mengkerut.
“Eh, Tari! Sayang. Kenalin ini yang namanya Tari!”, pinta Rio pada gadis di sampingnya itu.
“Oh! Ini dia cewek yang udah berhasil kamu kerjain!”
“Apa-apaan ini maksudnya?” tanya Tari dengan nada tinggi.
“Keren juga gue udah berhasil ngerjain cewek sombong kayak lo! Hahahaha!” tawa Rio menggelegar.
“Iya! Hahahaha! Hebat kamu, sayang!” ujar cewek di samping Rio.
“Tega ya kamu, Rio! Aku benci sama kamu!”
“Ya! Baguslah kalo gitu! Hahaha!” Rio masih tertawa bersama perempuan yang dirangkulnya itu. Tari lantas berlari sambil merintih tangis. Sejak itu, ia merasa Rio adalah laki-laki yang paling jahat yang pernah ia kenal.

Hari-hari berlalu, namun Rio merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Ia merasa sepi, meskipun kini ia telah cukup dikenal di kalangan kampus. Ia merasa sebuah kesepian. Ia tak mendengar lagi tawa ceria Tari pada hari-harinya. Bayangan dan suara-suara Tari seperti mengikutinya ke mana pun ia pergi. Padahal, sudah seminggu lebih ia tak melihat sosok Tari. Saat malam sebelum tidur, ia baru menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Tari. Ya, Rio akhirnya mengakui bahwa Tari telah merebut hatinya tanpa ia sadari sebelumnya.

Terlambat, Rio baru mengetahui bahwa Tari telah pindah ke Singapura. Ia pun kehilangan seluruh akses untuk menghubungi Tari kembali. Ia menyesal telah berpura-pura, ia menyesal telah berlaku jahat pada seorang wanita.



Editor: Orisa

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.