Jeritan Batin di Sistem Kapitalisme

Hot News

Hotline

Jeritan Batin di Sistem Kapitalisme

(Ilustrator/design-www.dapurpena.com)


Oleh: Nurintan Aini


Suara motor dan mobil berdengun di telingaku saat melewati jalan yang gelap dan sunyi, hanya lampu motor kendaraanku yang dapat menerangi jalan gelap itu. Setiba di keramain pasar suara bising membuatku berhenti dan memarkirkan motor. Langkahku menuju pada sayuran yang dipajangkan dipasar. Hanya sekantung berisikan tahu, kangkung, bawang dan cabai yang ku beli hingga kakiku beranjak untuk kembali pulang. Saat menuju parkiran motor eh! Banyak motor yang parkir hingga mengalangi akses keluar untuk motorku. Lantas aku berpikir sejenak  bagimana cara mengeluarkannya. Eh! Di pojokan penjual Langsat ada sosok lelaki yg tinggi, berambut ikal sedang sibuk sendiri mengatur motor untuk diparkir, tak lama ada pemuda memberikan uang senilai RP 2000 ( dua ribu rupiah) kepada Lelaki berambut ikal dan sesegera mungkin dia meranjak pergi. Aku masih terpaku binggun untuk mengeluarkan motorku. Terdengar suara disebelah kiri, "Hei, kamu malam ini yang jaga parkir ya!" Kata sesosok paru baya kira-kira berusia 39 tahun. “Bantu dia dong, dia mau keluar tuh," ucapnya kepada Penjaga parkir . Kemudian motorku dikeluarkan dan diparkir dengan baik. Lalu ku ulurkan tangan mengambil selembar yang berharga, uang Rp 2000 dan ku berikan padanya. "Terimakasih" ucapan yg terlontar dari mulutnya . Lalu aku beranjak pergi. Ehist! Tidak mau panjang kali lebar kali tinggi jadi Satu novel di ujung malam. Hehehe!

Cerita singkat tadi mengambarkan betapa buruknya sistem perekonomian dinegeri anta beranta, mengaku burung garuda yang lebih hebat dibanding burung unta. Negeri disepanjang lautan diatas daratan tambang. Negeri yang dijuluki paru-paru dunia sebab hutan belantara yang masih hijau bak globe hijau . Negeri yang memiliki kekayaan dari kolam susu, kayu dan jalar cukup menghidupinya, ikan dan udang menghampirinya namun semua hanyalah K-a-t-a-n-y-a!.
Pada faktanya masih terlihat pemandangan yg memiluhkan seperti halnya di pulau penghasil cengkeh dan  pala ini (Ternate), pulau yg kecil ini masih terdapat rakyatnya yang meminta-minta di emperan toko atau lansung mengadahkan tangan  pada setiap orang yang ditemui. Rakyat masih merasakan betapa susahnya mendapatkan uang untuk memenuhi gudang tengahnya, seperti halnya lelaki penjaga parkir tadi. Tak terlihat kesejahteran seperti yang tercantum di UUD alinea 4. Kemiskinan masih menghantui negeri yang memiliki kekayaan melimpah. Bahkan Persentase Penduduk Miskin Maret 2019 Sebesar 9,41 Persen dengan Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang dilansir dari Badan Pusat Statistik. (https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/07/15/1629/persentase-penduduk-miskin-maret-2019-sebesar-9-41-persen.html).

Negeri +62 ini layaknya tikus yang mati dilumbung padi. Banyak kekayaan alam tapi masih juga mengalami gizi buruk. Seperti kata Elver dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/4). "Saya ingin menarik perhatian Anda semua pada sebuah insiden yang sangat tragis. Dalam beberapa bulan terakhir, 72 anak meninggal di Kabupaten Asmat, Papua--66 anak meninggal akibat campak dan 6 lainnya akibat gizi buruk," ( https://m.cnnindonesia.com/internasional/20180418144828-106-291739/pbb-sebut-kasus-gizi-buruk-di-asmat-papua-insiden-tragis).

Sangat prihatin kondisi ekonomi yang tak membawakan realita kesejahteran bak penyakit yang sudah sangat kronis. Kata kesejahteran bak serigala yg mengaung digelapnya malam. Kesejahteran hanya milik sekelintir para kapitalis yang menguras hasil alam ini. Para kapitalis lah yang hanya meminum susu, menjual kayu dan jalar untuk kesejahteran mereka. Ditambah lagi Sistem Kapitalisme buatan Makhluk lemah mendukung dan melindungi para kapitalis tersebut. Sistem kapitalisme memberikan hak kepemilikan jadi tak perlu membuka mulut lebar-lebar dan wajah yang terkejut. Sistem kapitalisme tak berpihak pada rakyat seperti slogam Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Faktanya terbalik dari rakyat, oleh kapitalis dan untuk kapitalis.

Lalu bagaimana solusinya agar penderitaan bisa hilang dan perekonomian dapat memberikan kesejahteran  pada rakyat jika di Sistem saat ini saja tak menjamin hal itu.

Negeri dari Sabang sampai meraoke ini dikelilingi lautan, beraneka ras, budaya dan agama. kembali ke sejarah, pada saat mau memerdekan negeri ini dari para penjajah, terdengar petikan Takbir untuk merontokan hati mereka. Jadi bisa ditebak negeri Nusantara ini mayoritasnya muslim. Jika berbicara muslim berarti tak lepas dari Islam. Nah, Islam telah resmi dikatakan oleh Sang Maha Pencipta seluruh Makhluk hidup dimuka bumi bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Sebagiamana Allah Azza wa jalla berfirman:
Artinya: " ...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang". (QS Al-Maidah [5]:3)

Islam adalah agama yang sempurna, Islam mengatur  dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar. Dari bangun tidur sampai bangun negara. Jadi bagaimana mungkin Islam tak mengurusi perekonomian untuk mensejahterahkan rakyat. Jika ada ocehan seperti itu yang keluar pada mulut seseorang, berarti bisa dipastikan dia sedang mabuk berat dan tak pernah belajar dari sejarah. Bukankah, Sejarah itu telah terjadi dan terbukti, jadi tak ada keraguan, bukan! Seperti hal nya ketika Islam memiliki Negara Daulah Islam atau Khilafah yang berlandasan dari Qur'an dan Sunnah. Kuatnya suatu bangun kan dilihat oleh landasanya.

Bahkan dalam sejarah, Islam pernah menguasai 2/3 dunia, melahirkan para ilmuan seperti Ibnu Sinna (kedokteran), Al Haytham (ilmu optik), Ahmad Ibn Tulun (mencetuskan perawatan medis modern berupa rumah sakit Al-Fustat di Kairo, Mesir). Rufaida Al-Aslamia (perawat dan ahli pengobatan) dan masih banyak lagi para Ilmuan yang hebat. Bahkan dipimpin juga oleh Seorang yang hebat dialah Rasulullah Saw. yang menyatukan kaum muhajirin dan Ansar. Membawa perekonomian Islam agar bisa terlepas dari kemiskian dan menuju kesejahterahaan, mencetak generasi berakhlak karimah, Umar bin khattab rela memikul sekarung gandum dari baitul mal hingga ke keluarga yg kelaparan, membedakan yg hak dan batil, Umar bin Abdul Aziz sulitnya mendapat orang miskin, mereka semua adalah pemimpin yang terdidik dari Islam.  Bukan pada saat ini, pemimpin malah acuh tak tahu kewajibanya mengurus rakyat.

Bagaimana tidak ada orang miskin mata uangnya saja dinar (emas) dan dirham (perak). Jika di rupiahkan emas per gram itu RP 600,000 (enam ratus ribu). Jadi tak heran  jika Islam mampu mensejahterakan. Bukan mata uang yang ada di Sistem Kapaitalisme yang berasal dari kertas sehingga cepat rusak, basah, dan robek bahkan mudah dimakan rayap. Uang kertas itu tak akan bernilai jika sudah rusak. Islam itu perfect jika sudh ada yang perfect kenapa harus milih yang lain. So, pentingnya mendirikan Sebuah Negara Islam atau Khilafah agar dapat terciptanya Perekonomian yang mensejahterakan Rakyat. Waallahu aalam bissawab!



Editor: Orisa

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.