Ketakutan Pandemik Berimbas Jauhi Korban Corona

Hot News

Hotline

Ketakutan Pandemik Berimbas Jauhi Korban Corona

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : UqieNai


Dahsyatnya penyebaran Covid-19 hingga menelan ratusan korban jiwa di beberapa negara di dunia, telah menyebabkan phobia berlebihan pada sebagian besar masyarakat. Tidak urung menimbulkan ketakutan dalam menyikapi  jenazah yang wafat karena Covid-19. Berita dari media online maupun elektronik telah beberapa kali menyiarkan adanya penolakan warga saat mobil ambulan membawa jenazah Covid-19 yang akan dikebumikan. Hal ini juga dialami oleh keluarga dari seorang perawat asal Kabupaten Semarang.

Rencana pemakaman seorang perawat asal Kabupaten Semarang yang meninggal karena positif Corona atau Covid-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sewakul, Ungaran Timur, akhirnya berubah. Perubahan lokasi tersebut dikarenakan  ada penolakan sebagian warga. Humas Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan, mengatakan bahwa sebelumnya pengurus RT setempat sudah sepakat dengan pemakaman perawat tersebut di Sewakul. Namun, entah kenapa tiba-tiba banyak warga menolak pemakaman korban. (Kompas.com, Kamis (9/4/2020)

Negara Gagap Atasi Wabah  

Ramainya pemberitaan  terkait penolakan pemakaman korban Covid-19 menuai rasa prihatin dari berbagai kalangan hingga dikeluarkannya fatwa dan surat edaran agar masyarakat tidak menolak penguburan jenazah Covid-19. MUI Jawa Barat, misalnya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, KH Rachmat Syafei  saat diwawancarai detik.com (1/4/2020) meminta masyarakat tak menolak bila ada pasien meninggal karena Corona yang hendak dikubur di daerahnya. Menguburkan jenazah adalah fardu kifayah. Pengurusannya tetap harus terlaksana asalkan mengikuti protokol kesehatan. Rachmat juga meminta agar prosedur penanganan jenazah karena Corona diterapkan sesuai aturan medis. Masyarakat juga perlu paham soal prosedur penanganan jenazah positif Corona. Sudah terbungkus plastik dan aman menurut ahli medis, tidak perlu ditakuti karena jenazah harus dimakamkan dan itu tidak akan mengganggu kesehatan yang lain.

Kondisi yang terjadi di tengah masyarakat dengan segala respon dan aksinya bermula dari gagapnya negara menyikapi Covid-19. Ketidaksiapan secara sosial, ekonomi, teknis, dan mekanismenya  disinyalir  menjadi pemicu lambannya penanganan wabah Corona  dari pemerintah pusat. Jika pemerintahnya saja tidak siap menghadapi wabah apalagi masyarakat? Rakyat harus mengatasi dan menghadapi situasi pandemik sendiri hingga muncul perasaan was-was dan khawatir begitu berita korban meninggal akibat virus Corona terus bertambah.

Pemerintah (negara) yang harusnya berfungsi menjadi pelayan dan pelindung umat, faktanya tidak dirasakan oleh masyarakat. Karantina wilayah (lockdown) dan distancing social sebagai tindakan awal saja pemerintah tidak mampu bahkan usulan beberapa pejabat daerah untuk mengkarantina wilayahnya ditolak.

Di saat negara-negara luar sibuk melindungi warganya dengan memblokade keluar masuknya warga asing terlebih warga China sebagai tempat asal virus muncul, kemudian menggelontorkan sejumlah dana untuk mencukupi kebutuhan rakyat selama lockdown, lain halnya dengan negeri ini. Dengan angkuh dan sombongnya pemerintah membiarkan TKA asal China masuk dan diberi tempat tinggal dengan alasan dapat menguntungkan secara ekonomi terutama ditinjau dari sektor wisata.

Dari hari ke hari rakyat menunggu dan berharap wabah segera berakhir dengan kondisi sulit dan penuh keterbatasan terlebih setelah diberlakukannya darurat sipil dan pemberlakuan sosial berskala besar (PSBB). Sementara pemerintah masih tak bergeming dengan fakta miris yang terjadi. Hanya merespon sesekali tanpa solusi menyeluruh dan tak sesuai dengan  harapan rakyat. Beginilah wajah buram pemerintahan ala kapitalis-sekular dalam mengambil sikap terhadap permasalahan umat. Selalu sigap merespon kepentingan pemodal baik  pengusaha lokal maupun asing, tetapi lalai mengurusi kepentingan umat. Tengok saja bagaimana responnya pemerintah terhadap pembangunan ibukota baru. Mudah mengucurkan dana trilyunan rupiah di tengah wabah, tetapi buka rekening donasi untuk masyarakat.

Islam dan Mahkota Kewajiban

Islam dan syariatnya telah mewajibkan (kifayah) kepada kaum muslimin bagaimana memperlakukan  jenazah. Dari mulai memandikan, mengkafani, mensholatkan hingga meguburkan. Demikian halnya dengan jenazah seorang muslim yang terpapar virus Corona memiliki kedudukan yang sama dengan jenazah muslim pada umumnya. Jenazah muslim korban virus mematikan tetap diperlakukan sebagaimana jenazah lainnya, yakni memandikan, menshalatkan, mengkafani serta menguburkan. Bagaimanapun itu adalah hak bagi si mayit dan kewajiban bagi yang hidup. Bahkan Rasul saw. memberikan penghargaan mulia untuk orang-orang yang wafat karena wabah sebagai syahid.

Rasulullah saw. sebagai suri tauladan yang agung bagi umatnya telah mengajarkan kedudukan syahid bagi orang-orang tertentu. Beliau pernah menguji sahabatnya dengan pertanyaan, “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” ‘‘Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah,’’ jawab mereka. ‘’Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid.’’ ‘’Mereka (yang lain) itu lalu siapa ya Rasul?’’ ‘‘Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah juga syahid, orang yang kena tha’un (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid,’’ jawab Nabi Muhammad saw,” (HR Muslim).

Tidak sampai di situ, Rasulullah saw. juga mengingatkan akan datangnya suatu masa, di mana kekejian muncul. Suatu hari, di hadapan kaum Muhajirin, Nabi saw. memberikan pesan penting untuk diperhatikan. Kata beliau, “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya!” Beliau melanjutkan: “Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan sakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang dhalim. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan, tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR Ibnu Majah)

Apa yang disampaikan Rasul saw. dalam hadits di atas mengandung ilmu yang sangat bermanfaat bagi para pemimpin, agar mereka senantiasa memperhatikan rakyatnya. Mereka menegakkan keadilan yang seadil-adilnya, tidak berbuat zalim terhadap masyarakatnya, tidak berhukum dengan hukum selain hukum Allah. Karena dengan inilah apa yang ia pimpin akan mendapatkan rahmat dam keberkahan dari Allah.

Kesempurnaan Islam yang dibawa Rasulullah saw. mengandung pelajaran berharga untuk tegaknya syariah di tengah umat. Permasalahan apa pun yang dihadapi masyarakat, Islam punya solusinya. Dari mulai thaharoh hingga pemerintahan. Baik ranah ibadah maupun muamalah (ekonomi, sosial, politik, budaya dan hankam), termasuk sikap pemimpin saat menghadapi wabah dan memperlakukan korban  akibat wabah. Rasulullah saw. dengan kapasitasnya sebagai pemimpin dan kepala negara di Madinah telah memberlakukan social distancing saat ada wabah kusta di masanya, lalu melakukan lockdown saat terdengar wabah tha’un melanda. Sikap ini dilanjutkan kembali saat wabah serupa terulang di masa kepemimpinan Umar bin Al-Khathtab ra.

Menebarnya wabah serta penyakit yang sebelumnya belum ada karena adanya kekejian yang merajalela dan dilakukan secara terang-terangan semakin nampak. Kemaksiatan menjadi sesuatu yang lumrah di tengah masyarakat. Zina, pelacuran, perselingkuhan, korupsi, dan sebagainya menghiasi kehidupan masyarakat hari ini. Kemaksiatan yang dianggap biasa-biasa saja, bahkan mereka dengan lancang membela segala bentuk kemaksiatan dan mencela segala bentuk kebaikan.

Oleh karena itu, solusi dalam menghadapi virus dan wabah yang menyebar hari ini  adalah senantiasa merenung dan beristighfar dengan segala kemaksiatan yang telah dilakukan baik secara individu, kelompok atau sistem.  Banyak manusia  sangat berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan karena takut penyakit. Namun, tidak berhati-hati dari dosa karena takut neraka atau murka Allah swt.

Dengan demikian, kesadaran individu, masyarakat dan negara  untuk kembali dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah hal yang lebih utama. Sikap mengahadapi wabah, taat menjalankan kewajiban serta empati kepada korban wabah akan kembali terlaksana sempurna tanpa khawatir dan merasa takut manakala pemimpin beserta kaum muslimin berupaya menerapkan aturan islam dalam sistem Islam warisan Rasulullah saw., yakni dawlah al-Khilafah al-Rasyidah karena bagaimanapun penegakan ini merupakan tajul al furud (mahkota kewajiban) hingga masalah yang menimpa masyarakat bisa teratasi secara maksimal.

Wallahu a’lam bi ash Shawab.



*/Penulis adalah seorang Ibu dan Alumni Branding for Writer 212

Editor: Firdaturrofiah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.