PREDATOR SEKSUAL MEMBURU ANAK-ANAK

Hot News

Hotline

PREDATOR SEKSUAL MEMBURU ANAK-ANAK

(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)

Oleh: Kunthi Mandasari

Penjagaan terhadap anak perlu digalakkan. Mengingat keberadaan predator seksual terhadap anak masih berkeliaran. Apalagi setelah berhembus kabar yang menyesakkan. Ketua RW warga Garum, Blitar, ditahan di Polres Blitar atas dugaan pemerkosaan terhadap anak (12) yang ternyata tetangganya sendiri. Pada hari Rabu, 25 Maret 2020, tersangka ditangkap polisi Unit Perlindungan Perempuan & Anak (PPA) Satreskrim Polres Blitar (mayangkaranews.com, 26/03/2020).

Hingga kini pelaku masih dalam penyelidikan. Belum diketahui secara pasti penyebab pelaku melakukan perbuatan bejat ini. Namun sangat disayangkan, perangkat yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap warga justru menjadi pelaku utama.

Namun, terlepas dari faktor apapun yang menjadi pemicu pemerkosaan tersebut, sebenarnya hanyalah permasalahan cabang. Sedangkan faktor utamanya ialah akibat gaya hidup sekuler. Gaya hidup yang melahirkan manusia-manusia tanpa rasa takut jika berbuat dosa. Berani berbuat apa saja untuk memenuhi syahwat nafsunya. Karena Tuhan hanya dianggap ada ketika di tempat peribadahan.

Perpaduan antara nafsu dan gaya hidup sekuler menjadi jalan mulus bagi terbukanya kemaksiatan. Ditambah dengan perkembangan digital. Mempermudah mengakses berbagai tontonan. Di tengah arus media yang semakin canggih, gaya vulgar makin kerap disajikan. Apalagi bersembunyi dibalik kata fashion. Tanpa mengindahkan siapa saja yang menikmati serta risiko apa saja yang mungkin akan terjadi. Sehingga semakin komplit kerusakan moral ini.

Komnas perempuan mencatat pada tahun 2019 terdapat 2.341 kekerasan terhadap anak perempuan. Dari jumlah tersebut sebagian besar dilakukan oleh orang terdekat. Bahkan 770 kasus diantaranya merupakan hubungan inses. Jumlah yang tak bisa dianggap sebelah mata. Terlebih ini hanya jumlah yang masuk dalam pelaporan. Sedangkan jumlah sebenarnya bisa lebih besar.

Oleh karena itu, perlu penangan yang maksimal. Bukan hanya memasukan dalam penjara tetapi tak pernah memberikan efek jera. Harus ada hukum yang tegas. Guna membela kehormatan dan memberikan perlindungan terhadap kaum perempuan.

Islam telah memberikan seperangkat aturan yang sempurna, baik berupa pencegahan maupun penegakan hukuman bagi yang melanggar. Dalam pencegahan, Islam telah mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan wajib menutup aurat secara sempurna. Ketika keluar rumah wanita tidak bertabaruj. Tidak pula berikhtilat maupun berkhalwat dengan laki-laki kecuali yang telah diperbolehkan syariat.

Selain itu Islam akan memastikan setiap tontonan yang akan ditayangkan melalui sejumlah evaluasi ketat sesuai ketentuan syariat. Sehingga tidak akan ada tontonan yang mengundang syahwat berkeliaran. Keberadaan media semata-mata sebagai sumber informasi dan penunjang ketaatan.

Jika elemen pencegahan telah terpenuhi, tetapi terjadi tindak pemerkosaan. Maka perlu diberlakukan hukuman untuk menegakkan keadilan. Pemerkosaan sendiri merupakan hubungan seksual dengan paksaan. Para fuqaha bersepakat, jika seorang laki-laki memerkosa seorang perempuan maka perempuan tersebut tidak patut dijatuhi hukuman zina. Baik berupa hukuman cambuk 100 kali ataupun hukuman rajam. Allah swt. berfirman: "Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-An’am: 145)

Sabda Rasulullah saw. bersabda, ”Telah diangkat dari umatku (dosa/sanksi) karena ketidaksengajaan, karena lupa, dan karena apa-apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR Thabrani dari Tsauban. Imam Nawawi menilainya hasan). Sedangkan dalam pembuktian pemerkosaan sama dengan zina, yaitu dengan salah satu dari tiga bukti terjadinya perzinaan. Pertama, pengakuan orang yang berbuat zina sebanyak empat kali secara jelas dan tidak menarik pengakuannya hingga selesainya eksekusi hukuman. Kedua, kesaksian empat laki-laki Muslim adil dan merdeka yang memberikan kesaksian terhadap satu perzinaan pada waktu dan tempat yang sama. Ketiga, kehamilan pada perempuan tak bersuami.

Apabila telah terbukti melakukan pemerkosaan, maka laki-laki itu harus dijatuhi hukuman zina. Apabila dia belum menikah (ghairu muhshan) maka akan dicambuk 100 kali. Sedangkan apabila sudah menikah atau muhshan dirajam hingga mati. Serta dalam pelaksanaannya hukuman tersebut disaksikan oleh masyarakat luas. Sehingga memberikan efek jera.

Meskipun syariat Islam telah sempurna. Tanpa adanya institusi yang menerapkan akan terasa percuma. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk terus mengedukasi masyarakat bahwa Islam adalah solusi yang tepat untuk seluruh permasalahan. Agar para anak perempuan memiliki rasa aman karena perlindungan yang diberikan oleh Islam. Sebagaimana perempuan yang telah meneriakkan nama Al-Mutasim ketika mengalami pelecehan. Kemudian dibela kehormatannya hingga kota Amuriyah takluk di tangan sang khalifah yang berperan sebagai junnah (perisai). Wallahu'alam bishshawab.



Editor: Mawaddah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.