RAPUHNYA KETAHANAN KELUARGA MUSLIM DITENGAH PANDEMI COVID-19

Hot News

Hotline

RAPUHNYA KETAHANAN KELUARGA MUSLIM DITENGAH PANDEMI COVID-19

(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)

Oleh : Wahyu Utami, S.Pd 

WHO telah menetapkan wabah covid-19 sebagai pandemi dunia. Hingga jumat (27/30), penularan covid-19 di seluruh dunia telah mencapai lebih dari setengah juta kasus. Dari jumlah itu, 24 ribu meninggal dunia (liputan6.com 27/3). Jumlah penularan di luar Cina telah melampaui penularan di negara asal penyebaran virus tersebut. Berbagai negara di dunia memberlakukan langkah darurat dengan karantina wilayah (lockdown). Jutaan manusia hidup dalam isolasi dan keterasingan.

Untuk meminimalisir penyebaran wabah, saat ini semua manusia di dunia dihimbau untuk melakukan seluruh aktivitas di rumah.  Para pekerja memindahkan aktivitas pekerjaan kantor ke rumah (Work From Home/WFH). Anak-anak yang biasanya belajar bersama guru di sekolah, kini juga diganti dengan belajar online di rumah bersama orang tua. Waktu keluarga untuk berkumpul dan melakukan aktivitas bersama menjadi lebih banyak.

Di sinilah ketahanan keluarga muslim diuji. Ketahanan keluarga yang digadang-gadang mampu menjadi solusi penguatan fungsi keluarga semakin menunjukkan kerapuhannya. Di dalam UU No. 10 Tahun 1992, ketahanan keluarga sendiri didefinisikan sebagai kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisik-material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.

Dari definisi ini, nampak bahwa ketahanan keluarga meliputi banyak aspek. Mulai dari aspek kekuatan spiritualitas, aspek ketahanan psikologis dan mentalitas, aspek kemandirian ekonomi, serta aspek keharmonisan pola relasi antar anggota keluarga, terutama suami dan istri. Aspek-aspek itulah yang akan mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin dalam sebuah keluarga.

Masalahnya, kondisi ideal ini sulit diwujudkan saat ini. Di era kapitalis sekarang ini, banyak dari keluarga muslim yang terseret dalam pusaran arus kehidupan ala kapitalis. Orang tua baik bapak maupun ibu bekerja di luar rumah. Para ibu tersebut bekerja karena paradigma kesetaraan gender yang membius mereka untuk berkiprah dan terjun dalam dunia kerja. Walaupun tidak sedikit pula ibu-ibu yang terpaksa bekerja karena tuntutan ekonomi yang memaksa mereka ikut membanting tulang mencukupi kebutuhan keluarga yang semakin besar. Akhirnya waktu tersita di luar rumah dan fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Di saat pandemi covid-19 yang menuntut mereka kembali ke rumah, banyak orang tua yang tidak siap dan kebingungan. Mereka tidak tau harus melakukan kegiatan apa bersama anak-anaknya. Akhirnya anak tetap bermain keluar rumah bersama teman-temannya. Ataupun jika di rumah, banyak menghabiskan waktu untuk bermain games atau berselancar di media sosial. Inilah potret hilangnya keharmonisan, kehangatan dan kedekatan anggota keluarga tak terkecuali keluarga muslim.

Islam Mengatur Fungsi dan Kedudukan Anggota Keluarga Sesuai Fitrahnya

Di dalam Islam, Allah telah mengatur keluarga sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Allah telah memberikan pengaturan yang rinci sehingga akan terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah. Allah telah menempatkan posisi wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Ibulah yang bertanggungjawab penuh atas semua pengaturan rumah  dan terlayaninya semua kebutuhan keluarga di rumah. Sedangkan bagi laki-laki, Allah telah menempatkannya sebagai pemimpin dalam keluarga. Allah meletakkan kewajiban mencari nafkah ada di pundak laki-laki sehingga ibu bisa fokus mendidik dan mengatur rumah tangga tanpa dibebani kewajiban ikut mencari nafkah.

Jika semua fungsi dan peran ini telah dijalankan sebagaimana mestinya maka anak-anak secara alamiahnya akan terbiasa berbagi cerita, melakukan kegiatan di rumah, belajar bersama orang tua dan kegiatan-kegiatan lainnya. Momen kebersamaan di dalam keluarga akan terbentuk dan berkontribusi besar dalam pembentukan kepribadian anak. Keluargapun mampu tetap harmonis ketika ada gempuran pandemi wabah penyakit mematikan seperti saat sekarang ini.

Isolasi yang dilakukan karena wabah covid-19 ini hendaknya menjadi momen bagi keluarga muslim untuk mengembalikan fungsi dan perannya masing-masing sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah. Jadikan keluarga sebagai tempat menebar rahmat, juga sebagai madrasah pencetak generasi terbaik umat.

Peran Negara Mewujudkan Ketahanan Keluarga Muslim

Tak bisa dipungkiri, negara memegang peran yang besar untuk bisa mewujudkan ketahanan keluarga terutama di saat pandemi penyakit mematikan sekarang ini. Negara berfungsi sebagai pengurus sekaligus perisai bagi umat. Negara wajib memberikan bekal ilmu pendidikan bagi pasangan suami istri agar siap mengarungi kehidupan dalam rumah tangga. Negara wajib menyiapkan para wanita agar siap menjalani peran sebagai ibu pendidik generasi dan pengatur rumah tangga suaminya. Negara juga wajib menyiapkan para laki-laki agar siap menjalankan perannya sebagai pemimpin rumah tangga yang bertanggungjawab penuh atas nafkah keluarga. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi laki-laki tanpa harus bersaing dengan para wanita dalam dunia kerja.

Hanya saja sulit berharap hal ini akan terwujud dalam sistem kapitalis sekuler saat ini. Rumusan Undang-undang Ketahanan Keluarga yang hanya memuat secuil hukum Islam dalam pengaturan keluarga saja mendapat penolakan dari kalangan feminis. RUU ini ditolak karena dianggap terlalu jauh mencampuri urusan privat keluarga dan juga dianggap sangat berbau Islam. Bagaimana mungkin kita berharap pelaksanaan hukum-hukum Islam secara kaffah?

Oleh karena itu, saatnya kita kembali pada hukum Islam yang paripurna. Islam telah memberikan seperangkat sistem sosial lengkap yang mengatur keluarga dan pembagian peran masing-masing sehingga akan terwujud keluarga sakinah, mawaddah dan warrohmah. Sistem ekonomi Islam juga akan menjamin kesejahteraan orang per orang karena sistem ini berangkat dari paradigma yang sahih tentang kebutuhan manusia dan bagaimana mengelola seluruh sumber daya alam yang Allah berikan.
 Sistem ini tidak mungkin bisa diwujudkan dalam sistem sekuler yang tidak memberikan tempat bagi agama untuk terlibat dalam urusan pengaturan kehidupan. Kita butuh wadah yang tepat yang berasal dari Ilahi, yaitu sistem Khilafah yang pernah diterapkan berabad-abad lamanya. Sistem yang telah terbukti mampu mewujudkan ketahanan keluarga muslim menuju keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah. 



*/Penulis adalah Guru di Bantul Yogyakarta

Editor: Mawaddah Hasanah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.