SEMESTA MEMBERIKANKU KEJUTAN

Hot News

Hotline

SEMESTA MEMBERIKANKU KEJUTAN

(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)


Oleh: Putri Anggraini

Kita semua tahu manusia adalah makhluk peka. Peka terhadap emosi, walau nggak semua.

Amora, panggil saja aku Ana. Usiaku 17 tahun, saat ini aku sedang duduk di bangku kelas 2 SMA.

Sinar pagi menyentuh kulitku, paparan cahaya silaunya membuatku terbangun. Aku beranjak dari kasur. Bersiap-siap untuk melakukan kegiatan di akhir pekan. Mengunjungi Rumah Sakit Jiwa, tempat di mana Ibu tinggal sekarang.

Pagi itu, aku tengah bersiap-siap berangkat sekolah. Seperti biasa, Ayah bekerja di pabrik sepatu, gajinya tidak terlalu besar tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Saat sore, aku duduk bersama Ibu di beranda rumah sambil menunggu Ayah pulang kerja.
“Bu, Ayah kok lama ya pulangnya?” aku bertanya pada Ibu merasa risau karena matahari telah pindah hampir terbenam dan hari mulai malam. Namun, Ayah belum juga pulang.
“Ibu juga nggak tahu, mungkin macet makannya Ayah lama pulang”, aku mengangguk paham dengan pernyataan Ibu barusan.
Pukul 08.00 malam Ayah tak kunjung pulang. Tok ... tok ... tok ....
“Biar Ana saja yang bukain pintunya”
“Eh! Pak Edi, nyariin Ayah?” Ayah belum pulang Pak”
“Justru itu saya kemari ingin ngabarin kamu dan Ibumu”
“Ngabarin apa Pak? Sebentar saya panggil Ibu.
“Iya, kenapa Pak Edi?”
“Pak Eko bu, suami Ibu kecelakaan.”
Ibu langsung terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Dengan sigap kami langsung pergi ke rumah sakit tempat dimana ayah ditangani.

“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?”. Aku di samping berusaha menenangkan Ibu, agar tidak terlalu khawatir.
“Maaf bu, suami Ibu tidak bisa kami selamatkan dan sebelum di bawa ke rumah sakit, kondisi suami Ibu telah tak bernyawa lagi”.

Hancur senyumnya, hatiku dan hati Ibu hancur berkeping-keping saat mengetahui nyawa Ayah tak dapat diselamatkan. Demi apapun itu, aku tak akan memaafkan pelaku itu yang tak bertanggungjawab. Semenjak Ayah meninggal dunia, Ibu depresi hingga akhirnya mengharuskan Ibu dirawat dirumah sakit jiwa. Semenjak itu, aku tinggal dan harus mencari uang sendiri dengan cara bekerja demi memenuhi kebutuhanku. Dengan keadaanku yang seperti ini, membuatku harus mengalami putus sekolah. Waktuku, hanya untuk Ibu dan bekerja.

Tidak semua patah hati karena kekasih, cinta terindah adalah keluarga. Kondisi Ibu semakin hari, semakin baik. Namun, Ibu tetap trauma dengan kejadian yang membuatnya terkurung disini. Kejadian ini mengajarkanku banyak hal. Bahwa hidup ini soal perjuangan. Semesta punya banyak cara untuk mengambil sesuatu dan menggantikannya pula dengan sesuatu yang luar biasa. Meskipun, Ayah telah tiada dan Ibu dirawat dirumah sakit.

Aku, menemukan sosok pelindung yang tak jauh beda dari sosok Ayah. Dia adalah Genta, pemuda klasik bergaya visual yang membuatku jatuh cinta. Aku menyukai Genta karena sikapnya kepadaku, dia juga telah tahu tentang seluk-beluk keluargaku. Tidak ada yang dipermasalahkan dalam hubungan kami, hanya satu permasalahannya. Genta adalah pelaku yang telah menabrak Ayahku. Dia adalah pemuda yang telah merenggut semua kebahagiaanku.

Semenjak pernyataan Genta adalah pelakunya. Aku membatalkan semua pernikahan kami. Aku berjanji pada diri sendiri kepada Tuhan tidak akan memaafkan siapapun yang telah membuat Ayahku tiada. Aku memutuskan hubunganku dengan Genta, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku begini sangat membenci diriku sendiri karena telah jatuh cinta kepada pria yang membuat Ayahku tiada.

Akhirnya, kuputuskan untuk tidak memikirkan kehidupan bahagia. Aku hanya fokus pada kesembuhan Ibu. Biar Tuhan mendatangkan jodohku dengan sendirinya. Aku telah lelah untuk kembali berjalan, berlari dan yang tidak tepat tuk segala asa. Barkan dosa yang menguatkan. Untuk segala cinta, biar ikatan yang mengeratkan. Aku mencintai Ibu melebihi apapun.



Editor: Siti Muchliza Ade Ratrini

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.