SMART PARENTING

Hot News

Hotline

SMART PARENTING

( ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)                     


   Oleh: As'ad Bukhari, S.Sos., M.A

Orang tua adalah aktor utama dalam mendidik anak agar dapat tumbuh dewasa dengan pendidikan ataupun pembelajaran. Orang tua juga merupakan sekolah pertama seorang anak untuk bisa belajar dari segi karakter dan kebiasaan hidup dalam sehari-hari. Segala gerak-gerik kita pasti akan selalu diperhatikan dan ditirukan oleh buah hati kita. Maka, sangat penting pula melihat latar belakang orang tua yang sebelumnya telah merasakan dan menjadi seorang anak yang tumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa.
Keseharian kita saat masa kanak-kanak atau masih kecil kita juga melihat perilaku orang tua dan belajar dari lingkungan sekitar. Kehidupan yang kita jalani dari kecil sampai dewasa adalah sejarah hidup yang telah kita lalui untuk menciptakan suasana dan keadaan yang begitu indah. Namun, tantangannya saat ini adalah ketika seorang anak sudah memasuki dunia dan zaman yang sangat, serta begitu jauh, dari masa kehidupan orang tuanya. Sehingga orang tua kesulitan dalam mengawasi dan mengontrol aktivitas dan perilaku anaknya.
Anak zaman sekarang ini atau disebut dengan anak kekinian, zaman now ataupun milenial, pola pikir dan pola belajarnya berbeda jauh dengan anak yang dulu atau generasi terdahulu. Maka, konsep dari  "Smart Parenting"  adalah pola mendidik anak yang diterapkan oleh orang tua. Yakni, dengan memahami segala proses pembelajaran yang disesuaikan dengan suasana maupun keadaan yang lebih dinamis. Sehingga, orang tua dituntut harus cerdas dan berkarakter dalam mendidik anak yang semakin hari semakin mudah berdaptasi. Untuk membentuk karakternya dengan segala akses yang mereka rasakan.
Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya, yakni:

1) Care yaitu sikap peduli seorang ayah dan ibu terhadap anaknya, meskipun kesibukan atau aktivitas lainnya sehingga kurang perhatian terhadap anaknya sendiri.

2) Protect yaitu sikap melindungi anaknya dari bahaya apapun atau dari kondisi apapun baik itu dalam perilaku anak yang bersalah sekalipun harus mampu melindunginya agar tidak merasa dicampakkan, dibuang, disakiti sebagai anaknya sendiri.

3.) Respons yaitu orang tua harus cepat dan sigap dalam merespon apapun yang ditanyakan maupun dibicarakan anak kepada kita, meskipun kita masih belum mengerti atau tidak paham. Sebab, dengan kita merespon apa yang menjadi keluh kesah mereka atau curahan hati mereka haruslah dilakukan dengan baik.

4.) Advice yaitu menasihati dengan baik dalam artian menasihatinya dengan bentuk semangat serta membangun kembali gelora anak dalam beraktivitas agar selalu kreatif, inovatif, proaktif, progresif dan kontribusi. Nasihat yang terbaik adalah nasihat yang santun dan tidak memvonis apalagi nasihat yang tidak diberikan contoh. Sebab, nasihat adalah kondisi dan keadaan anak yang paling sulit diterima ketika berkomunikasi kepada orang tua. Dikarenakan dengan nasihat, seorang anak selalu terlihat salah dan tidak pernah benar. Sehingga kondisi anak bisa menjadi down, patah semangat, dan tidak menghargai orang tuanya sendiri.

5.) Lovely yaitu sikap cinta, kasih, dan sayang orang tua terhadap kita yang memang harus selalu terlihat dan diwujudkan agar anak merasa nyaman, aman, dan tenang berada dengan orangtuanya sendiri. Hanya saja, jangan sampai hal ini begitu berlebihan apalagi sampai membuat anak terlalu nyaman sehingga menjadi pribadi yang manja, cengeng, pecundang, arogan, egois, dan bahkan menjadi nakal hingga brandal berlebihan dan kelewat batas.

Maka, sebagai orang tua juga harus cerdas dalam menyikapi anaknya untuk mendidik agar menjadi anak yang membanggakan dengan prestasinya, produktivitasnya, profesionalitasnya, kemampuannya, dan potensinya. Sudah seharusnya orang tua juga memperhatikan dirinya agar kelak dengan modal belajar serta wawasan keilmuan mampu menghadapi anaknya dalam masa depan. Tentunya masa depan itu sudah jauh berbeda zamannya. Serta tantangan zaman di saat orang tua dulu pernah menjadi anak, dan merasakan ketika masih kecil.

Hal ini bisa dilakukan dengan metode yang cukup sederhana, yakni dengan permainan kecil terhadap anak. Serta sesekali orang tua harus mengenalkan masa bahagianya di saat kecil, saat bermain, ataupun menghabiskan waktu kecilnya dengan bermain, bernyanyi, bercanda, dan tawa kepada anaknya agar si anak bisa belajar juga bagaimana ayah dan ibunya bermain. Secara edukatif, anak akan terdorong dan menumbuhkan rasa penasaran serta emosionalnya terhadap orang tuanya yang mungkin tidak pernah dirasakannya saat bermain bersama teman-temannya seusia dengannya dan satu zaman perkembangan. Itulah kenapa orang tua yang menerapkan smart parenting akan menjadi ayah dan ibu yang kharismatik, demokratis, solutif, konstruktif, dan partisipatif.




Editor: All Redaction

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.