Hatiku Tak Sama Aksiku

Hot News

Hotline

Hatiku Tak Sama Aksiku

Ilustrasi/www.dapurpena.com


Oleh : Muhammad Irwan Firmansyah,
Ketua Wilayah Taklim Jurnalistik - TAKTIK Community Perwakilan Jawa Timur
           
Sore di kantin kampus, Andre sedang mengerjakan tugas kuliah deadline. Dengan berbekal laptop dan wifi kantin, ia bak ilmuwan besar mencari-cari dan menyusun makalah dari Pak Hari. Andre selalu bersemangat mengerjakan tugas karena memang sifatnya yang rajin. Segala tugas dari dosen tampak begitu mudah bagi Andre. Termasuk tugas essay yang mesti dikumpul dua hari lagi.
Tetiba Joni, mahasiswa gaul nan borju, datang menghampirinya. Langsung saja tanpa ba-bi-bu Joni duduk di sebelahnya. Rupanya ia baru kembali dari masjid kampus di seberang kantin.
“Udah sholat, Dre?” tanya Joni.
“Alhamdulillah udah, Jon. Tadi aku barengan anak-anak,” sahut Andre tanpa memalingkan wajah dari layar.
“Eh, ya. Kamu kapan bantu ngerjain tugas. Dua hari lagi lho dikumpul. Kamu juga bantu aku, ya, biar kamu juga ada kontribusi,” lanjutnya.
“Wah tenang aja, Dre, insya Allah. Gampanglah, kan, masih ada waktu dua hari lagi. Satu hari aku bisa nyelesaikan semua sisa makalah,” tandas Joni penuh percaya diri. Ia menepuk-nepuk pundak Andre. Seketika Andre mendelik.
“Jon.. Jon.. Kamu gak pernah berubah. Selalu menyepelekan segala hal. Emang kamu yakin besok masih hidup?” Kata-kata Andre seolah menyentak jiwa Joni yang lama tertidur dan terlena. Joni tampak termenung dengan kata-kata Andre.
“Okelah! Nanti aku bantu. Kita ke ruangan Pak Hari aja dulu, gimana? Kita nanya ulang, takutnya salah persepsi dengan konsep tugas?” imbuh Joni menyahuti teguran Andre tadi. Andre mengangguk setuju.
Mereka mengemas tas dan bergegas menuju ruangan Pak Hari, dosen mata kuliah Sosiologi.
            “Assalamualaikum, Pak!!”
“Waalaikumussalam. Silahkan masuk!” suara berat dari arah dalam terdengar.
Setelah sedikit perbincangan, Pak Hari manggut-manggut.
“Memang benar, tugas kali ini mengedepankan alasan logis yang terjadi di lapangan beserta contohnya,” jelasnya. Andre tersenyum dan berterima kasih. Keduanya beranjak hendak pergi dan menyalami Pak Hari.
“Joni! Kamu jangan telat lagi, ya. Saya sering lihat kamu telat tapi saya biarkan. Saya berharap kamu mendapat hikmahnya suatu saat nanti,” tegur Pak Heri sebelum keduanya keluar dari ruangan. Sontak, Joni merasa tersipu malu mendengar sindiran dosen yang dikenal ramah itu.
 “Saya hanya berpesan, kalian berdua masih muda, potensi luar biasa. Jadi jangan pernah merasa bangga dengan apa yang saat ini kalian dapatkan. Hidup itu bagai roda berputar ada kala di atas dan ada kala di bawah,” ucap Pak Heri dijawab anggukan keduanya, membalas senyum dosen baik mereka. Kemudian, mereka melangkah keluar.
Andre menyenangi dosen yang satu ini, sangat memotivasi mahasiswa dan merendah meski ia sudah meraih gelas doktor di Universitas Adelaide.
Waktu berlalu memasuki huru hara kematian. Indonesia digemparkan dengan penyakit mematikan. Masyarakat menyebutnya wabah corona. Silih berganti dokter dan warga biasa menjadi korban, dibilang sembuh, atau dikabarkan duka.
Andre dan Joni merasa semua kejadian tiba-tiba ini sebagai teguran.
Kejadian yang mengajarkan sisi kehidupan sebenarnya bagi orang-orang yang ikhlas, bersyukur, dan sabar.
Andre sedang duduk di teras kosan dan ponselnya menandakan panggilan masuk. Agak malas ia mengangkat.
“Dre! Kamu dimana sekarang?” suara melengking di ujung sana memekakkan telinganya.
“Aku di kosan, Jon. Ada apa?” Andre menyahut datar.
“Ayo, Dre! Ikut kajian online besok pagi. Pematerinya bagus kayaknya. Aku pengen berubah, hehe,” sergah Joni. Andre tertegun lama. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi, ia mencoba bersikap biasa.
“Hmm.. insya Allah, Jon. Jika tidak ada halangan, hehe,” Andre berseloroh.
“Ayolah! Biasanya kamu sering ajak aku kajian saat kondisi belum kayak gini,” terdengar suara di seberang sana seakan memelas.
“Jon, aku mau ngirit paketan. Khawatir ga cukup akhir bulan. Apalagi ini wabah nggak tentu kapan berakhir,” Andre menjelaskan yang sebenarnya.
“Ah, begitu! Ya, sudah. Paketannya aku belikan ya. Hitung-hitung sedekah kecil, mudah-mudahan Allah ganti. Setidaknya yang kumiliki sekarang bisa bermanfaat. Aku baru tahu kalau semua yang kumiliki ternyata bukan hak aku. Semua ini akan kembali kepada Allah. Ternyata aku nggak punya apa apa, semua ini hanya titipan. Makasih banyak, ya, Dre, kamu dulu sering kasih aku nasihat kayak gini,” Andre masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Sepertinya semua keadaan pada Joni berbanding seratus delapan puluh derajat dengannya. Andre merenung sejenak. Selama ini ia merasa belum sepenuhnya ikhlas. Masih sering keselip rasa bangga akan suatu hal. Ia merasa seolah apa dilakukan selama ini sia-sia tidak bernilai di mata Tuhan. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata. Ah, lelaki cengeng aku, batin Andre sembari mengusap pipinya.
Ia melihat ke halaman kosannya. Tidak ada orang yang melihatnya menangis, kan. Kosan yang ia tempati juga sudah ditinggal penghuni. Hanya tinggal ia seorang.
            “Dre? Dre? Kok diam aja?” Andre tersadar. Suara di seberang memanggil-manggilnya sedari tadi.
“Bisa, kan? Ntar aku coba ajak temenku yang lain. Dia anak metal, lho, tapi mau ikut kajian,” sambung Joni. Andre mengangguk. Ia tersadar, mereka sekarang dibatasi jarak dan sinyal.
“Iya, Jon. Boleh. Insya Allah mau ikut. Sebelumnya terima kasih sudah mau ngajak aku dan bantuin aku untuk paketan. Terima kasih,” ulang Andre.
“Ah, sudahlah. Yang penting kamu bersedia ikut bareng aku. Ya dah, sampai jumpa di kajian, ya,” seru Joni di sana.
Eh, tunggu! Aku mau nanya, Dre,” sepertinya Joni belum memutuskan sambungan teleponnya.
“Hahahaha! Tanya apa, Dre. Tumben kamu yang nanya, biasanya aku yang sering nanya, hehe,” sahut Joni sembari tertawa kecil.
“Kamu kenapa sekarang mau ikut kajian, Jon? Kenapa berubah banget?,” Andre to the point.
“Gak berubah. Cuma lebih menyadari, semua yang aku miliki bisa aja diambil sama sang Pemilik sebenarnya. Tau nggak? Kemarin aku ketemu anak kecil yang sengaja ngambil manga di pohon depan rumahku. Tapi kemudian aku diejek balik sama dia. Katanya, dia dikasih tahu ibunya kalau dulu aku tuh waktu kecil sering ngambil jajan di warung tanpa izin atau ngambil buah di rumah-rumah orang.”
“Dan, kata-kata terakhir dari mulutnya yang buat aku gemetar. Kakak aja dulu sering gitu. Malah yang sekarang juga sering ambil barang yang bukan haknya. Nanti kalau pemilik aslinya marah dan mengambil semua dari kakak gimana?” ujar Joni menirukan suara anak kecil yang ia maksud.
“Aku termenung mengingat kehidupanku selama ini. Bagaimana jika Sang Pemilik kehidupan mengambil ini semua. Dan aku ingat nasihat-nasihatmu dulu, Dre, sering kamu katakan. Makasih, Dre, sudah sering nasihatin aku, hehe,” suara Joni terdengar parau di ujung sana.
Andre tersenyum simpul. Ia merasa malu bahwa selama ini yang ia banggakan tiada berfaedah. Allah Maha Membolak-balikkan hati. Tak disangka, Joni yang borjuis dan serba mewah bisa berubah meski baru berubah pemahaman akan hakikat kehidupan. Namun, ia tetap merendah. Tidak ada rasa bangga dan angkuh di hatinya.

Editor: Wannajmi Aisyi


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.