Pemimpin Beramanah di Tengah Wabah

Hot News

Hotline

Pemimpin Beramanah di Tengah Wabah



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Endang Setyowati



Wabah corona belum ada tanda-tanda bisa di atasi oleh pemerintah saat ini. Justru yang positif semakin banyak merebak. Berdasarkan data terkini yang disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, kasus terkonfirmasi positif virus corona hari ini mengalami penambahan sebanyak 367 pasien.

Dengan demikian, hingga Rabu (6/5/2020) sore ini, jumlah kasus terkonfirmasi positif virus corona telah mencapai angka 12.438 orang. Ada penambahan 23 pasien Covid-19 yang dinyatakan meninggal hingga sore ini. Dengan demikian, hingga saat ini total sudah ada 895 pasien Covid-19 yang dinyatakan meninggal dunia. (Tribunjogja.com, 6/05/2020).

Banyak juga warga yang ikut menyumbang untuk masyarakat yang terdampak wabah corona saat ini. Pemerintah pun tidak tinggal diam, bantuan sosial (Bansos) juga di bagi-bagikan untuk rakyatnya yang terdampak wabah. Namun, ternyata ada keterlambatan dalam pendistribusiannya. Seperti dikutip oleh Merdeka.com (29/04/2020).

Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara mengakui penyaluran bantuan sosial (Bansos) berupa paket sembako untuk warga terdampak virus corona (Covid-19) sempat tersendat. Hal, itu dikarenakan harus menunggu tas pembungkus untuk mengemas paket sembako.

Dia mengungkapkan, pembungkus itu belum tersedia karena produsen tas tersebut mengalami kesulitan impor bahan baku. Sehingga, menyebabkan distribusi 'Bansos’ terkendala meski paket sembako sudah tersedia.

Tas untuk mengemas paket sembako itu berwarna merah putih dan bertuliskan ‘Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19’. Di tas itu juga terdapat logo Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Sosial serta cara-cara agar terhindar dari virus corona.

Lagi-lagi pemerintah masih mengutamakan bahan impor daripada mencari bahan yang ada di dalam negeri. Yang lebih miris lagi, keterlambatan ini hanya gara-gara menunggu tas yang berlogo.

Apakah sepenting itu logo bagi rakyat yang benar-benar sangat membutuhkan saat ini? Kenapa tidak mencari yang praktis, yang sudah tersedia, sehingga pendistribusian bantuan sosial tersebut tidak terlambat? Sehingga, bisa cepat dinikmati oleh rakyat yang membutuhkannya.

Akibat pandemi corona ini dan kurang tanggapnya pemerintah terhadap rakyat yang terpapar. Sehingga, ada yang berusaha bunuh diri dan ada juga keluarga yang hidup di kebun orang.

Kasus keterlambatan bantuan sosial ini dikarenakan menunggu tas yang berlabel ‘bantuan presiden’ makin menegaskan bahwa penanganan dalam pandemi ini tak lepas dari politisasi untuk kepentingan kursi rezim serta, perwujudan sebuah pencitraan.

Padahal membantu rakyat, memang sudah tugas seorang pemimpin untuk membantunya. Entah, ada kamera maupun tidak ada kamera yang menyorot, harus segera dilakukan. Karena mengurusi rakyat lebih penting daripada berpose di depan kamera.

Pernah dicontohkan oleh Umar bin Khattab bagaimana meriah rakyatnya. Beliau jika di siang hari telah meriah rakyatnya. Malam pun demikian, beliau meronda berkeliling ke rumah-rumah penduduk hingga beliau bertemu dengan sebuah gubuk kecil. Di dalam gubuk itu terdengar suara tangis anak-anak.

Sang ibu kelihatan memasak, tetapi setelah sekian lama masakan itu tak kunjung matang. Hingga Umar bin Khattab mengetahui bahwa si Ibu ternyata memasak batu.

Betapa tersentuh hati Umar bin Khattab melihat kehidupan rakyatnya ada yang semiris itu. Lalu, beliau mengambilkan bahan makanan dari baitul mal dan memikulnya sendiri serta diantarkan langsung kepada si Ibu. Saat itu Umar hanya ditemani seorang sahabat saja dan tidak ada yang lain. Bahkan si Ibu saja tidak tahu bahwa pengantar bahan makanan tersebut adalah sang khalifah pemimpin mereka.

Begitu indahnya kehidupan ini jika diatur dengan sistem Islam, seorang pemimpin akan mempunyai rasa empati kepada rakyatnya tanpa embel-embel. Tanpa pamrih, justru ikut merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

Bahkan dilain kisah saat terjadi kekeringan di jaman khalifah Umar bin Khattab dan sang khalifah melihat kondisi kaum muslimin yang begitu memprihatinkan, Umar bersumpah tak akan makan daging dan samin sampai semua kembali seperti sedia kala. Beliau memegang teguh sumpahnya hingga paceklik berakhir hingga badannya kurus kering.

Begitulah,  Islam mengajarkan bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin. Karena pemimpin harusnya menyadari bahwa  sebagai raa’in dan junnah bagi umat. Pemimpin yang beramanah tidak serta merta menggunakan kesempatan untuk memperkaya diri serta koleganya dan memakai fasilitas yang serba mewah. Para pemimpin tahu bahwa semua yang dibebankan di pundaknya adalah sebuah amanah, yang mana kelak akan dipertanggungjawabkan  di hadapan sang Khaliq.

Maka, seorang pemimpin akan selalu berhati-hati dalam menjalankan amanahnya, serta tidak akan takut oleh intervensi siapapun. Yang hanya takut kepada Allah karena yang dicarinya hanyalah ridho Allah SWT.

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Wallahu a’lam.



Editor : Siti Muchliza Ade Ratrini


BACA JUGA : Sistem Islam Vs Kapitalis Menghadapi Pandemi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.