JPS, Janji Manis di Masa Pandemi

Hot News

Hotline

JPS, Janji Manis di Masa Pandemi



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Meitya Rahma


Sudah satu bulan lebih kondisi masing masing daerah belum menunjukkan menuju arah yang lebih baik. Hingga hari ini, data kasus positif Covid-19 di Indonesia terus menunjukkan lonjakan jumlah pasien. Kondisi semakin parah, beberapa daerah menjadi zona merah penyebaran Covid-19. Pemerintah pun belum memutuskan untuk lockdown nasional. Jokowi memilih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berbeda dengan kebijakan negara-negara lain yang juga terdampak Covid-19 yang menerapkan kebijakan lockdown. Seperti Itali yang menerapkan sistem lockdown secara nasional agar meminimalisir laju penularan virus ini. Menindaklanjuti kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk masyarakat lapisan bawah agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.  Untuk itu  Presiden Jokowi mengumumkan enam program Jaring Pengaman Sosial sebagai upaya menekan dampak wabah virus corona. Presiden dalam keterangan pers secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (31/3/2020), mengatakan bahwa pemerintah fokus pada penyiapan bantuan pada masyarakat lapis bawah antara lain (suarasurabaya.net) :

1. Pertama, PKH (Program Keluarga Harapan) jumlah penerima dari 9,2 juta jadi 10 juta keluarga penerima manfaat, besaran manfaatnya dinaikkan 25 persen.

2. Kebijakan kedua, soal kartu sembako, di mana jumlah penerimanya akan dinaikkan menjadi 20 juta penerima manfaat dan nilainya naik 30 persen dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu dan akan diberikan selama sembilan bulan.

3.Program ketiga, kartu prakerja yang anggarannya dinaikkan dari Rp10 triliun menjadi Rp20 triliun.

4. Selanjutnya, keempat, terkait tarif listrik untuk pelanggan listrik 450 VA yang jumlahnya sekitar 24 juta pelanggan akan digratiskan selama tiga bulan ke depan, sampai Juni 2020. Sementara untuk tarif pelanggan 900 VA  akan didiskon 50 persen atau membayar separuh saja untuk April, Mei, dan Juni 2020.

5.Kelima, untuk mengantisipasi kebutuhan pokok, pemerintah mencadangkan dana Rp25 triliun untuk operasi pasar dan logistik.

6. Keenam, keringanan pembayaran kredit bagi para pekerja informal, baik ojek online, sopir taksi, UMKM, nelayan, dengan penghasilan harian dan kredit di bawah Rp10 miliar.

Kebijakan lockdown ala pemerintah ini, justru menimbulkan kekacauan dan menambah jumlah wilayah terdampak. Meskipun kebijakan  Jaring Pengaman Sosial telah disusun, namun banyak pihak menyangsikan kebijakan ini  efektif. Bahkan ada anggapan bahwa kebijakan Jaring Pengaman Sosial adalah bentuk cuci tangan pemerintah dalam mengurusi rakyatnya. Sebaiknya masyarakat jangan terlalu berharap pada program kebijakan tersebut, walaupun rencananya disiapkan dana sebanyak Rp110 triliun  yang digunakan untuk perlindungan sosial. Hal ini dikarenakan pemerintah belum dapat memastikan sistem penyaluran sistem JPS tersebut karena terkendala pendataan pekerja informal yang terdampak Virus Corona. Jadi, pendataannya saja baru akan dilaksanakan, serta mensinkronkan data tersebut dengan data BPJS Tenaga Kerja. Jadi, jelas akan lama realisasinya. Masyarakat pun jangan terlalu berobsesi untuk mendapatkan JPS karena ternyata ekonomi negara kita baru mengalami krisis.  Lalu, mau pakai uang dari mana untuk memberi jaring pengaman nasional ini. Presidennya menjanjikan ini dan itu, tetapi menteri keungannya berkata lain. Sri Mulyani Indrawati telah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan ambruk akibat pandemik virus corona, terbukti dengan tindakan beliau yang akan membuka rekening khusus untuk menampung donasi untuk membantu kegiatan pencegahan atau penanganan virus  Covid-19.

Donasi yang terkumpul akan dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai pemimpin gugus tugas penanganan Covid-19 secara nasional. Seharusnya pemerintah tidak lepas tangan pada kondisi saat ini, mereka harus melayani rakyatnya tanpa pamrih. Negara  tidak boleh ceroboh dalam membuat kebijakan yang akan membawa bahaya besar kehidupan rakyatnya. Namun pada faktanya, seperti itulah penguasa saat ini. Kapitalisme telah menjadi pijakan dalam bernegara sehingga yang ada dibenak penguasa hanyalah keuntungan dan kekuasaan.

Mengedepankan pertimbangan ekonomi daripada nyawa rakyat sungguh kontras dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh kholifah pada masa daulah Islam. Dengan penerapan Islam secara sempurna tak ada satu pun masalah yang tidak terselesaikan. Begitu pula masalah  wabah, Islam memberlakukan lockdown total. Hal ini ditujukan agar terjaga kehidupan rakyat. Kehidupan dalam pandangan Islam sangat berarti, nyawa dalam Islam begitu tinggi. Nyawa bahkan dalam ranah Ushul Fiqih masuk dalam kategori “al-Dharūriyāt al-Khamsah” (lima hal primer yang wajib dipelihara). Artinya, pada asalnya, nyawa manusia (baik kafir maupun muslim) tidak boleh dihilangkan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Terkait hal tersebut, Allah berfirman dalam QS Al Maidah: 32,

مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Dari firman Allah di atas sudah jelas bahwa nyawa begitu berharga dalam Islam. Namun, kapitalisme telah mengakar dalam aturan kehidupan bernegara sehingga  penguasa hanya berfikir keuntungan dan kekuasaan daripada nyawa rakyatnya.  Untuk memberikan gambaran keunggulan Syariat Islam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat, termasuk dalam situasi krisis masa kepemimpinan Umar bisa menjadi contoh. Pada masa Khalifah Umar ketika beliau menghadapi situasi krisis di masa kepemimpinannya.

Dalam buku The Great leader of Umar bin Khathab, kisah kehidupan dan kepemimpinan khalifah kedua, diceritakan bahwa ketika terjadi krisis, Khalifah Umar Ra. melakukan beberapa hal yang dapat menyelamatkan rakyatnya. Ketika krisis ekonomi, Khalifah Umar memberi contoh terbaik dengan cara berhemat dan bergaya hidup sederhana, Khalifah Umar Ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko. Hal ini yang tidak ditemui di negara kita. Saat rakyat susah payah hadapi wabah, DPR pun mendapat mobil baru. Semua ini membukakan  pikiran umat bahwa penguasa  memang tidak akan pernah tulus mengurusi rakyatnya. Konsep  negara demokrasi tidak akan pernah memunculkan sosok penguasa yang seperti Umar. Sosok penguasa yang benar-benar tulus menyayangi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya sejatinya hanya lahir dalam peradaban Islam. Kesempurnaan aturan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, dalam mengatur politik dan ekonomi negara membuat khalifah atau pemimpin memiliki ketaqwaan diri membuat khalifah berhati-hati dalam mengambil keputusan, jangan sampai mendzolimi rakyat.

Kewenangan penuh khalifah ketika mengambil keputusan, terbukti efektif dan efisien menyelesaikan persoalan di masyarakat. Terutama dalam situasi seperti wabah pandemik. Tidak seperti penguasa kita saat ini, menangani wabah dan menyelamatkan rakyat macam seperti kampanye saja. Saat kampanye, mereka berlomba-lomba memberi janji manis berupa program-program yang nampak berpihak pada rakyat. Jaringan Pengaman Sosial yang diklaim presiden untuk atasi pandemik ini seperti janji manis saat kampanye. Hanya saja realisasinya jauh dari kata efektif. Rakyat sudah lelah dengan bualan penguasa. Musim pandemi ini Allah tampakkan pada rakyat para penguasa yang tidak mampu mengurusi rakyat. Mereka sebenarnya menginginkan perubahan sistem tatanan bernegara yang dapat mensejahterakan. Hanya khilafah jawaban dari keinginan rakyat yang tidak lama lagi akan tegak atas izin Allah.



Editor: Putri Hesti Lestari

BACA JUGA : Mengungkap Islamophobia di Tengah Pandemi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.