Kalang kabut Semua Kalangan Pendidikan Serba Online

Hot News

Hotline

Kalang kabut Semua Kalangan Pendidikan Serba Online



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)

  

Oleh : Mawar Oktivina, S.Pd. M.Sc.*

  

Jauh sebelum pandemi, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kurikulum dan standar pendidikan di Indonesia berubah-ubah dari waktu ke waktu. Alih-alih ingin membenahi pendidikan akan, tetapi nyatanya permasalahan pendidikan tak kunjung selesai, malah makin bertambah rumit. Selain itu, mendambakan pendidikan berkualitas, berfasilitas unggul, sekaligus berbiaya ramah bahkan gratis, saat ini bak oase di padang sahara. Pendidikan dengan fasilitas lengkap dan kualitas terjamin hanya bisa dirasakan oleh mereka orang-orang yang memiliki pundi-pundi uang puluhan bahkan ratusan juta.

Bagi mereka yang tidak punya pundi-pundi kekayaan, maka buang jauh angan-angan menyekolahkan anaknya di gedung mewah yang dipenuhi fasilitas gadget. Lalu, cukuplah bersenang hati memasukkan anaknya ke sekolah negeri atau sekolah swasta pinggiran yang umumnya berfasilitas ala kadarnya.

Tapi nyatanya, pilihan terakhir ini pun tak cukup membuat hati orang tua selalu senang. Terbukti umumnya para Ibu merasakan pusing tujuh keliling setiap tahun ajaran baru untuk mempersiapkan dana masuk sekolah, sekali pun di sekolah negeri. Tak sedikit juga yang harus tertunda mengambil rapor atau ijazah karena tunggakan SPP yang belum dilunasi.

Lalu bicara kualitas pendidikan, sudah menjadi rahasia umum bagaimana output generasi saat ini yang dipenuhi prestasi menyedihkan. Mulai dari tawuran, narkoba, pergaulan bebas, LGBT, sampai ke tindak kriminal di kalangan pelajar, hampir selalu menghiasi berita televisi atau pun sosial media setiap harinya. Baru-baru ini pun muncul para content creator ‘sampah’ karena membuat konten-konten sampah demi mengejar follower dan keuntungan materi.

Inilah potret pendidikan saat ini, sebelum pandemi. Pendidikan menjadi barang mewah karena pendidikan dijadikan sebagai komoditas jasa. Siapa yang bisa membeli, dia bisa sekolah di mana pun ia suka. Namun, biaya yang dikeluarkan belum tentu sebanding dengan kualitas output yang diharapkan. Bisa dikatakan, sebelum pandemi pun, pendidikan kita sudah dalam kondisi menghawatirkan. Lalu bagaimana kondisi pendidikan setelah pandemi?

Dunia tak pernah menghendaki wabah penyakit. Apa daya, penyebaran COVID-19 pun mengguncang dunia pendidikan. Akhirnya, siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah. Diawali hanya untuk dua pekan terhitung sejak pertengahan Maret lalu. Namun, seiring waktu masa belajar di rumah diperpanjang hingga batas yang belum bisa ditentukan. Tentu, menjadi waktu yang tidak sebentar. Lantas, bagaimana nasib pendidikan anak-anak? Dan apa solusi terbaiknya?

Setelah kebijakan belajar di rumah via daring untuk seluruh aktivitas KBM, dampak yang terlihat muncul dari berbagai kalangan. Bukan hanya dari kondisi anak-anak peserta didik dan para guru, akan tetapi orangtua pun ikut merasakan kalangkabut akan perubahan proses KBM menjadi daring ini. Memang, setidaknya ada 12 aplikasi pembelajaran daring gratis yang bekerja sama dengan Kemendikbud. Harapannya pembelajaran tatap muka dari guru dapat tergantikan. Namun di lapangan, proses KBM online di rumah penuh dinamika. Dari pihak guru, dengan segala keterbatasannya, banyak yang hanya memberikan tugas kepada siswa tanpa bimbingan ditambah beban tugas online cenderung lebih banyak di banding proses KBM normal.

Dari pihak orang tua juga merasakan kalangkabutnya, karena keterbatasan kemampuan dalam mendampingi anak-anaknya ketika belajar di rumah. Ini pasti cukup sulit, mengingat sistem pendidikan di negeri kita tidak mendorong dan mengontrol secara penuh tentang pendidikan di lingkungan keuarga. Akhirnya, cukup banyak orang tua dan anak mengalami stres, bahkan cukup banyak juga berita kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangan dan anak-anak. Sudahlah pusing memikirkan kondisi ekonomi keluarga terdampak pandemi dan managemen menghadapi KBM online di sekolah. Ditambah minimnya pendidikan agama yang seharusnya bisa menjadi penguat keimanan dan keyakinan pada sang Khalik di saat pandemi seperti ini. Pendidikan di negeri kita hanya berorientasi pada asas materi, pendidikan untuk bekerja, tanpa mempertimbangkan aspek keimanan, akhlak dan akidah sebagai dasar dalam melakukan segala sesuatu, termasuk menuntut ilmu. Sebagaimana ciri khas sistem Kapitalisme yang menyandarkan semuanya pada aspek keuntungan materi belaka.

Inilah kondisi yang sesungguhnya. Para guru, siswa dan orang tua bahkan pemerintah gagap menghadapi kondisi baru yang serba online. Ditambah targetan kurikulum yang cukup padat, juga fasilitas dan akses yang minimal. Baru-baru ini juga berita kematian siswa yang terjatuh dari atap rumah karena mencari sinyal internet untuk KBM online.

Haruskah anak-anak kehilangan banyak kesempatan belajar hanya karena wabah? Padahal belajar di rumah adalah keharusan. Bisakah mereka menjalaninya tanpa keluh kesah?

Dari sini kita memahami, sistem pendidikan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Lemahnya guru, rapuhnya kurikulum pendidikan, dan minimnya support system dari negara pada aspek pendidikan sebenarnya merupakan produk lanjutan dari pengelolaan negara yang sekuler kapitalis. Sudahlah rusak sistem pendidikan kita, semakin rusak dan hancur ketika wabah datang. Kondisi politik pemerintahan yang lemah, ekonomi yang rapuh, telah membuat berbagai penanganan musibah di masa wabah menjadi semakin sulit. Dampaknya pun kepada dunia pendidikan.

Ketidakmampuan negara menanggung beban ekonomi tiap keluarga, ketika harus lockdown menyebabkan sebagian besar orang tua tetap bekerja mencari nafkah. Kondisi ini amat tidak mendukung proses belajar di rumah. Hasilnya, anak-anak tidak tertangani secara baik. Selain itu, Ibu telah kehilangan fungsi sebagai madrasah bagi anak-anak. Kapitalisme juga telah minimalisir perhatian negara pada dunia pendidikan. Rendahnya anggaran pendidikan membuat biaya pendidikan terutama pendidikan tinggi amat membebani rakyat.

Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan masa wabah dalam Khilafah. Dalam kondisi wabah, Islam menetapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Ketika Khilafah menerapkan kebijakan lockdown, esensi pendidikan tidak akan berkurang sama sekali. Hal ini dikarenakan:

Sesuai dengan landasan akidah negara, yakni syariah, maka tujuan pendidikan juga sebagaimana yang ditetapkan dalam syariah yaitu pembentukan kepribadian Islam dan penguasaan ilmu pengetahuan. Visi pendidikan ini harus diemban oleh semua pilar kehidupan, yaitu: negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban kepada Allah, belajar di rumah memuat semua konten pendidikan hakiki, yakni pembentukan kepribadian Islam dan life skill bisa 30%, konten materi tsaqofah Islam 30%, sedangkan materi sains dan teknologi 40%. Sehingga, beban pendidikan tak akan berat dan tiap kalangan juga dalam keadaan berpikir sehat walaupun dalam keadaan di tengah wabah.

Negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang andal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa di minimalisir. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.

Negara Khilafah mampu menopang ekonomi rakyat karena mengelola sumber daya alam sesuai syariah, di mana kepemilikan umat tidak dimiliki oleh swasta. Sehingga saat lockdown orang tua tetap tenang dalam mendampingi anak-anaknya belajar di rumah tanpa dihantui ketakutan akan kelaparan. Selain kebutuhan pokok, Khilafah juga akan memberikan fasilitas yang memadai secara merata, sehingga kasus seperti tidak memiliki alat dan akses tidak mungkin terdengar lagi.

Demikianlah, hanya negara Khilafah Islam yang mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak. Belajar di rumah saat wabah pun tak perlu keluh kesah. Semoga wabah kali ini membawa spirit kuat bagi kaum muslim untuk berjuang menegakkan Khilafah

 


*/Penulis adalah dosen dan aktivis muslimah

Editor : Siti Muchliza Ade Ratrini


BACA JUGA : Kampus Merdeka Vs Kampus Melejitkan Peradaban


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.