Akankah Sekolah Berdampingan dengan Corona?

Hot News

Hotline

Akankah Sekolah Berdampingan dengan Corona?



(Ilustrasi/Fathin-www.dapurpena.com)


Oleh : Nia Ramadhini*


Sejak ditemukannya kasus corona di Indonesia dan lajunya penularan virus ini mengharuskan pemerintah mengambil kebijakan dalam rangka memutus mata rantai penularan bagi masyarakat Indonesia, seperti hal nya melakukan social distancing/pshycal distancing dan PSSB (pembatasan sosial berskala besar).

Secepat itu pula banyak keadaan harus mulai berubah dan dihentikan. Salah satunya berimbas juga di ranah pendidikan yang sudah hampir 3 bulan semua sekolah dan perkuliahan di Indonesia melakukankegiatan  belajar mengajar di rumah atau disebut dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang menggunakan perangkat online seperti aplikasi zoom meeting dan google meet.

Perubahan ini memaksa semua orang harus dapat beradaptasi dengan cepat agar tidak terjadi ketertinggalan dan kegagalan dalam pendidikan. Adanya hal ini pula menjadi tantangan baru bagi siswa, orang tua dan guru maupun dosen.

Terutama guru dan dosen harus yang cepat menyesuaikan target capaian, metode pembelajarannya hingga mengubah manajemen pengelolaan pendidikan mengikuti keadaan pembeljaran jarak jauh melalui online.

Tidak tahu sampai kapan situasi ini akan berakhir bahkan menteri pendidikan, Nadiem Makarim  sendiri sudah mulai melakukan simulasi dan perencanaan  PJJ, bila Pandemi terus berlanjut hingga akhir tahun nanti.

Belum usai permasalahan pembelajaran jarak jauh melalui online seperti belum mampunya guru mengkoordinasi jalannya PJJ secara efektif selama pandemi. Tidak adanya regulasi yang jelas antara guru dengan pemertintah pusat dalam  PJJ.

Selain itu, masalah belum meratanya akses fasilitas penunjang seperti internet dan listrik yang masih tidak terjangkau dibeberapa daerah di Indonesia dan minimnya kemampuan perangkat gadget bagi sebagian masyarakat.

Maka muncul lagi sebuah wancana baru bahwa sekolah akan kembali dibuka pada pertengahan Juli 2020, kabar ini seperti yang dilansir dari cnnindonesia.com, “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan  Juli  2020. "Kita merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli," ujar Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid.” (9/5/2020).

Walaupun sudah ada wacana bahwa sekolah akan dibuka kembali, namun belum ada mekanisme tentang menetapkan protokol kesehatan, serta penjelasan pembatasan jumlah siswa yang boleh kembali belajar di sekolah.

Kemdikbud hanya mengatakan bahwa  mesti memperhatikan infrastruktur pendukung penanganan corona di sekolah. Artinya sebelum sekolah dibuka, perlengkapan seperti sabun cuci, hand sanitizer dan masker harus disiapkan.

Semua hal itu belum dapat menjamin rasa aman ketika siswa dan guru harus kembali kesekolah, siapa yang berani menjamin bahwa sudah tidak ada virus dan penyebarannya.

Sedangkan saja pemerintah belum bisa memberikan tes massal dan PCR kepada masyarakat yang alasannya belum dilakukan adalah kekurangan alat hingga biaya untuk mencukupi semua itu. Sehingga masayarakat bila ingin melakukan tes mandiri dengan biaya mahal ditanggung sendiri.

Permasalahan ini juga ditanggapi oleh Federasi Serikat Guru Indonesia melalui Satriawan sebagai Wakil Sekertaris Jendral FSGI, tidak menanggapi positif dikarenakan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah saja terlihat tak sikron  dalam penanganan corona ini.

Data yang dimiliki oleh pemerintah pusat berbeda dengan pemerintah pusat. Akhirnya dapat membuat rasa takut akan kevalidan daerah-daerah mana yang aman sudah dari wabah corona benar atau tidak.

Ada apa gerangan dibalik semua sikap rasanya agak gegabah dan terlalu dipaksakan ? Dibalik semua ini adalah hanya sebagai bentuk dari upaya pemulihan kondisi sosial dan ekonomi Indonesia yang sudah makin terpuruk akibat corona. Agar terjadinya sebuah kondisi “dipaksakan” bahwa Indonesia sudah normal dapat melakukan aktivitas tetapi kenyataannya tidak.

Kita masyarakat hanya akan diberikan bayang-bayang semu rasa aman padahal masih ada wabah corona yang menghantui aktivitas kita. karena pemerintah saja tidak mampu menyanggupi tes massal dan PCR kepada rakyat, selain itu kebijakan menyangkut corona saja tidak ada kejelasan sehingga kita terus-menerus digantung pada keadaan seperti ini. Kapan akan berakhir corona? Bagaimana penanganan pemerintah mengenai corona dan keadaan sesudahnya?

Hal ini membuktikan bahwa pemerintah abai terhadap tugasnya dalam melindungi nyawa rakyat. Mereka lebih memperdulikan turunnya ekonomi akibat corona daripada nyawa rakyat. Sungguh memprihatinkan, rakyat harus tetap waspada dan melindungi diri sendiri.

Sangat berbeda jika kita berada dalam sistem islam yang lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat daripada ekonomi. Dikutip dari sebuah buku yang berjudul Daulah Islam tulisan Syaikh Taqiyuddin An Nabahani, bahwa dalam sistem negara Daulah Islam kebutuhan pokok yang bersifat jama'i (kesehatan, pendidikan) akan menjadi tanggungan negara dalam memenuhinya.

Dana dalam memenuhi kebutugan tersebut diambil dari hasil SDA yang dikelola oleh negara, jika belum mencukupi maka diambul dari fa'i dan kharaj. Jika masih belum mencukupi juga, maka bisa diambil dari baitul mal. Sungguh, islamlah sistem yang paling memanusiakan manusia.

Wallahu a'lam bishowab.

 


*/ Penulis adalah mahasiswi PTN di Kalimantan Selatan

Editor : Fathin R.S


BACA JUGA :  Damai dengan Covid Menambah Keresahan Masyarakat



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.