Ancaman Limbah Medis COVID-19 yang Menghantui

Hot News

Hotline

Ancaman Limbah Medis COVID-19 yang Menghantui



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)

Oleh : Hafla Azzahra

Disaat semua sibuk melakukan penaganan bagaimana caranya agar pandemic COVID-19 berakhir, dunia dan Indonesia khususnya dihantui oleh meningkatnya limbah medis, tak bisa dipungkiri limbah medis menjadi momok yang sangat besar jika tidak dikelola secara tepat dan benar, limbah medis disebut bisa menjadi sumber penularan . Menurut penelitian ahli virus dari National Institutes of Health Amerika Serikat dan Rocky Mountain Laboratorius Montana, Covid-19 dapat bertahan dalam droplet hingga tiga jam setelah terlepas ke udara. Hasil penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine itu juga menunjukkan virus korona bisa bertahan di permukaan kardus selama 24 jam dan bertahan dua sampai tiga hari di permukaan plastik dan stainless steel.  

Hal inilah yang menyebabkan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Bagong Suyoto mengatakan limbah medis yang dihasilkan dari penanganan pandemi COVID-19 potensial menimbulkan masalah. Jika limbah tidak dikelola sesuai prosedur, maka ada potensi virus menyebar ke warga terutama para pemulung. Ditambah lagi saat ini banyak rumah sakit yang belum memiliki teknologi pengelolaan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) yang memadai, sehingga pihak RS biasanya menggunakan jasa pihak ketiga, dan dari pihak ketiga inilah terdapat potensi limbah medis di daur ulang. Persoalan akan bertambah runyam ketika limbah medis COVID-19 mungkin berasal dari rumah-rumah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang melakukan karantina mandiri. Limbah medis ini, contohnya masker, botol obat, dan tisu tercampur dengan sampah rumah tangga biasa saat dibuang tanpa ada penangan lebih.

Sekjen Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association/IESA) Lina Tri Mugi Astuti memperingatkan akan terjadi penambahan limbah infeksius di tengah pandemi Covid-19 sehingga perlu upaya cepat untuk menanganinya. Studi kasus berdasarkan data dari China, yang lebih dahulu menghadapi wabah yang disebabkan virus corona jenis baru itu, memperlihatkan terjadi penambahan limbah medis dari 4.902,8 ton per hari menjadi 6.066 ton per hari. Hal yang sama bisa terjadi di Indonesia seiring dengan bertambahnya kasus positif Covid-19. Setiap pasien bisa menyumbang 14,3 kg limbah medis per hari saat wabah korona. Peningkatan volume limbah medis sudah terjadi di RSPI Sulianti Suroso Jakarta, rumah sakit rujukan nasional untuk penanganan Covid-19. Pada Januari 2020, rumah sakit itu mengolah 2.750 kg limbah medis dan APD menggunakan insinerator. Pada Maret 2020, saat rumah sakit mulai menangani pasien Covid-19, limbah medis yang masuk ke insinerator meningkat tajam menjadi sekitar 4.500 kg.

Ditengah terus meningkatnya limbah medis nyatanya tak semua RS memiliki teknologi pengelolaan limbah medis, dari 2852 rumah sakit, baru 96 yang punya insenator ,itu pun di beberapa rumah sakit sudah tidak layak oprasional . Berdasarkan survey data persi kepada 95 rumah sakit yang dilakukan PERSI, sebagian besar rumah sakit (hampir 70%) tidak memiliki pengelolaan limbah padat. Dari 30% yang memiliki alat pengolah limbah padat (incenerator) baru 55% yang memiliki izin. Hal ini menyadarkan bahwa sebagian besar limbah rumah sakit tidak tertangani dengan tepat, Pengelolaan limbah medis diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pada Pasal 3 disebutkan bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan. Akan tetapi jika tidak mampu mengelola limbah B3, dapat diserahkan kepada pihak ketiga yang telah mendapatkan izin dari pemerintah

Namun pada praktiknya masih banyak pelanggaran pelanggaran yang dilakukan seperti banyaknya kasus pelanggaran yang dilakukan pihak ketiga, selain itu jika dikelola oleh RS sendiri limbah RS yang biasanya dikelola dengan incenerator menimbulkan dampak kedepannya , seperti  racun ke udara berupa dioksin dan feron yang ditimbukan dari incenerator, yang bisa menyebabkan kanker. Ketersediaan incenerator di RS terbatas dikarenakan ongkos dari pembelian incenerator sendiri yang memiliki budget yang cukup tinggi, dan hanya RS tertentu yang memilikinya. 

Pada sistem kapitalisme pelayanan umum bisa dimiliki oleh individu sehingga individu bebas mengkomersilkan apa yang dia miliki seperti pengelolaan limbah medis oleh pihak ketiga, RS dengan pihak mitra pengelolaan B3 yang bekerja sama pada tahun 2015 dikatakan bahwa nilai operasional,pemeliharaan, dan fasilitas pendukung disepakati sebesar Rp. 8300/kg dengan prediksi nilai limbah 160.000 kg sehingga total nilai kontrak Rp. 1.460.800.000. Nila biyaya produksi itu terjadi pada tahun 2015 bisa dibayangkan bagaimana dengan 2020, apalagi peningkatan limbah medis di saat pandemi cukup meningkat drastis dan memerlukan biyaya yang cukup tinggi dalam menyelesaikan limbah ini, maka tak heran penumpukan danpengelolaan yang tidak baik terjadi.

Dalam sistem islam kepemilikan umum diatur dan dikelola oleh negara seperti dalam sebuah  hadist “ kaum muslim sama sama mebutuhkan tiga perkara : padang, air, dan api”. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah). Walaupun akses terhadapnya terbuka bagi kaum muslim, regulasinya diatur oleh negara. Kekayaan ini merupakan salah satu pendapatan Baitul Mal kaum muslim. Khalafah, selaku pemimpin negara bisa berijtihad dalam rangka mendistribusikan harta tersebut kepada kaum muslim demi kemaslahatan islam dan kaum muslim.



Editor : Khairun Nisa Panggabean


BACA JUGA :  Ulama Protes: Ekonomi Diangkat Ibadah Dihambat


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.