Damai dengan Covid Menambah Keresahan Masyarakat

Hot News

Hotline

Damai dengan Covid Menambah Keresahan Masyarakat



(Ilustrasi/Fathin-www.dapurpena.com)


Oleh : Novida Balqis


Beberapa waktu yang lalu sering terdengar kata-kata yang diucapkan oleh pemerintah untuk Lawan Covid-19. Namun berbeda apa yang diucapkan oleh pemerintah hari ini, Presiden justru menghimbau agar masyarakat harus berdamai dengan Covid-19.

Tentu hal ini bertolak belakang apa yang diucapkannya pada awal kemunculan Covid-19 di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Hal ini juga menjadi tanda tanya di masyarakat, sebab ucapan berdamai dengan Covid-19.

Ada apa sebenarnya dibalik ucapan berdamai dengan Covid-19? Apakah hal ini berkaitan dengan kinerja pemerintah saat ini dalam menangani Covid-19?

Dilansir dari cnnindonesia.com (9/5/2020), Presiden memberikan pernyataan yang mengejutkan masyarakat. Presiden menghimbau agar masyarakat berdamai dengan Covid-19 sampai vaksin ditemukan.

Namun pernyataannya tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam KTT G-20 yang dilakukan secara virtual pada Maret lalu. Pada saat itu Jokowi menyatakan agar negara-negara bekerjasama melawan Covid-19, dan menemukan anti virus dan juga obat dari Covid-19. Dan memakai istilah “peperangan” melawan Covid-19.

Pernyataan inilah yang menjadi polemik ditengah masyarakat. Terlihat tidak konsistennya pernyataan pemerintah dalam hal penanganan Covid-19 ini. Perbedaan pernyataan yang disampaikannya pada bulan Maret lalu dan pada saat ini memberi kesan seakan-akan pemerintah sudah menyerah dalam menangani Covid-19.

Sehingga solusinya hanyalah berdamai dengan Covid-19. Tentu hal ini membuat masyarakat panik. Karena pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah telah berlepas tangan dalam menangani Covid-19 dengan istilah “damai”.

Tidak hanya itu, ada kemungkinan masyarakat mempunyai persepsi lain dalam istilah berdamai dengan Covid-19. Bisa saja masyarakat mempunyai persepsi bahwa Covid-19 akan segera berakhir dalam istilah “damai”.

Sehingga masyarakat tidak perlu waspada dengan bahaya Covid-19 ini. Tentu persepsi ini sangat berbahaya bagi masyarakat lainnya. Apa yang akan terjadi jika masyarakat tidak waspada lagi dengan Covid-19 ini? Penyebaran Covid-19 semakin luas dan sulit dikendalikan.

Tidak sampai disitu, dampak dari istilah “damai” ini akan berdampak pada rumah sakit-rumah sakit yang menangani pasien Covid-19. Karena ada kemungkinan membludaknya pasien Korona sebab tidak waspadanya masyarakat terhadap penyebaran virus tersebut.

Tentu tenaga medis yang akan dikorbankan jika hal ini benar-benar terjadi. Sehingga jelas, sangat berbahayanya istilah “berdamai” dengan Covid-19 yang disampaikan Presiden beberapa waktu lalu.

Masyarakat tidak butuh pernyataan-pernyataan semacam itu dalam penanganan Covid-19. Masyarakat hanya butuh kinerja pemerintah dalam memberantas Pandemi agar penyebaran virus ini segera berakhir dan segera beraktivitas normal kembali.

Masyarakat tidak butuh istilah “lawan Covid-19” atau istilah “berdamai dengan Covid-19” apabila kenyataannya pemerinta tidak serius dalam memberantas Covid-19 ini.

Anehnya, pemerintah justru sibuk dengan perbaikan ekonomi dibandingkan mengatasi pandemi Covid-19 ini. Dan hanya memberikan himbauan yang rancu ditengah masyarakat seperti istilah ”damai” dengan Covid-19 yang memunculkan persepsi yang berbahaya jika dipahami salah oleh masyarakat.

Inilah bukti ketidakseriusan pemerintah dalam menangani Covid-19. Dan bukti buruknya sistem demokrasi dalam penanganan Korona. Tidak hanya di Indonesia, akan tetapi di seluruh dunia yang menerapkan sistem demokrasi pun tidak dapat memberantas Covid-19 dengan baik. Justru semakin menyebarnya Covid-19 dan sulit dikendalikan di beberapa negara.

Sehingga pemerintah ataupun masyarakat tidak dapat mengandalkan sistem demokrasi dalam memberantas Covid-19. Butuh sistem lain yang menjadi solusi bagi rakyat dalam memberantas Korona agar dapat beraktivitas secara normal kembali.

Pemimpin yang terbukti serius dalam mengurus masyarakat hanyalah kepemimpinan dalam sistem Islam. Dan sistem Islam telah terbukti dapat mensejahterakan rakyat selama hampir 13 abad lamanya. Berbeda dengan pemimpin dalam sistem demokrasi yang tidak serius dalam menangani Covid-19. Dan menganggap Covid-19 adalah hal kecil.

Sehingga sistem demokrasi tidak dapat diterapkan lagi di negeri ini. Karena terbukti menghasilkan pemimpin yang tidak peduli terhadap rakyatnya dan hanya mementingkan kepentingan sendiri dan golongannya.

Hanya sistem Islamlah yang terbukti serius mengurus rakyat seperti Khaifah Umar bin Khattab yang langsung turun tangan dalam menghadapi wabah tha’un yang pada saat itu terjadi di sekitar wilayah Syam. Umar bin Khattab saat itu tidak memberi himbauan atau istilah yang meresahkan umat. Akan tetapi langsung terjun dan berusaha mencari solusi dari wabah tersebut.

Itulah mengapa masyarakat butuh sistem Islam, bukan demokrasi yang terbukti tidak mensejahterakan rakyat. Hanya penerapan sistem Islamlah yang dapat menangani Covid-19 ini dengan baik.

Dan hanya sistem Islamlah satu-satunya sistem yang menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah dalam seluruh aspek kehidupan termasuk hukum bernegara. Sehingga tidak hanya menjadi solusi, namun penerapan sistem Islam juga memberi keberkahan bagi seluruh alam karena Allah yang memberi keberkahan sebab Al-Qur’an dan Sunnah diterapkan di muka bumi ini.

Wallahu A’lam

 

Editor : Fathin R.S


BACA JUGA : Kontribusi Guru dalam Berdakwah di Tengah Pandemi


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.