Doubel Pandemi Global (Kelaparan dan COVID-19)

Hot News

Hotline

Doubel Pandemi Global (Kelaparan dan COVID-19)



(Ilustrasi/Naufal-www.dapurpena.com)


Oleh : Fani Setiati


Kelaparan seakan menjadi realita yang menghantui masyarakat global saat ini. Terutama mereka kaum rentan yang mengalami keterbatasan ekonomi dan keterbatasan akses terhadap sumber pangan. Fenomena kelaparan ini sebenarnya bukan masalah baru yang muncul ke permukaan dunia, namun kelaparan sejak dahulu sudah menjadi pandemi yang tak kunjung usai.

Dalam laporannya, FAO mengatakan bahwa saat ini setidaknya ada 805 juta penduduk menderita kelaparan dan malnutrisi. Di tingkat Nasional, Asian Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) merilis laporan yang menyatakan bahwa sebanyak 22 juta warga Indonesia mengalami kelaparan kronis. Jumlah ini hampir menyamai jumlah penduduk miskin yang berada diangka 25 juta jiwa.

Artinya hampir setiap orang yang miskin mengalami kelaparan. Di sisi lain, ada sekitar 7 juta jiwa yang tersebar dalam 88 daerah mengalami rawan pangan karena tidak bisa menjangkau sumber pangan (Food Security and Vulnerability Atlas, 2018). Maka tak mengherankan jika ada kurang-lebih 24.000 orang setiap harinya yang meninggal dunia karena lapar atau hal-hal yang berkenaan dengan kelaparan (www.lonweb.org). Mirisnya, tiga perempat dari jumlah kematian tersebut adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

Adanya wabah COVID-19 ini, seakan menjadi double pandemi. Selain diintai oleh makhluk perkasa tak kasat mata, COVID-19, intaian kelaparan juga tak kalah mematikan. FAO menyebutkan bahwa pandemi COVID-19 akan menimbulkan resesi global yang dapat menganggu rantai pasokan makanan pada tahun ini.

Menurut WEF negara-negara Eropa sudah mulai mengalami gangguan pasokan pangan, karena sejumlah negara produsen pangan mengalami wabah yang parah, misalnya Italia dan Spanyol. Kedua negara tersebut mengalami gagal panen karena kesulitan memasukkan tenaga buruh tani yang biasanya didatangkan dari luar negeri serta adanya pembatasan jam kerja. Padahal keduanya adalah penyuplai buah-buahan terbesar untuk kawasan Eropa.

Kegiatan ekspor bahan pangan banyak yang tertunda. Seperti Vietanam dan Thailand yang biasa mengekspor beras, akibat wabah tidak bisa mengekspor karena harus mencukupi kebutuhan di negaranya sendiri. India sebagai pemasok daging kerbau dan gula juga menunda ekspor karena kebijakan lockdown di negaranya.

Selain itu, pandemi tersebut juga dapat menghancurkan mata pencaharian dan ketahanan pangan. Terutama bagi orang-orang yang bekerja di sektor pertanian dan pekerja informal. Dalam hal ini, COVID-19 merupakan triggering fakctor yang mampu meningkatkan risiko kelaparan dan kerentanan pangan. Akibatnya derita kelaparan semakin parah dan meluas. World Food Program (WFP) memperkirakan jumlah yang menderita kelaparan bisa meningkat dari 135 juta menjadi 250 juta orang.

Khususnya di negara Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Venezuela, Ethiopia, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, Nigeria, dan Haiti yang rawan terhadap konflik, krisis ekonomi, dan perubahan iklim. Bahkan jika kondisi ini dibiarkan, maka lebih lanjut WFP memproyeksikan 30 juta orang atau lebih bisa mati dalam hitungan bulan. Seorang ibu di Mombasa, Kenya bernama Peninah Bahati Kitsao terpaksa memasak batu untuk mengatasi anak-anaknya yang kelaparan. Ibu Peninah terpaksa melakukan ini karena tidak ada lagi uang untuk membeli bahan makanan. Pekerjaan sehari-hari sebagi buruh cuci sudah tidak bisa dilakoninya akibat kebijakan pandemi COVID-19 ini. Ia berpuran-pura memasak untuk menenangkan anaknya. Padahal yang sedang ia masak adalah batu.

Kisah menyedihkan juga datang dari Indonesia. Yulie Nuramelia, seorang warga Serang, Banten akhirnya meninggal dunia karena kelaparan. Ia bahkan harus minum air galon isi ulang selama dua hari. Suaminya yang bekerja sebagai pemulung tidak bisa memberikan penghasilan karena adanya  kebijakan pembatasan sosial seperti work from home. Di sisi lain ia harus menghidupi istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Keluarga ini hanya bisa makan singkong muda yang belum layak konsumsi.

Kisah lain datang dari satu keluarga di Bandung yang kesehariannya hanya bisa makan nasi aking. Hal ini tetap dilakukan karena sudah tidak ada lagi makanan lain yang bisa dimakan. Bahkan tak jarang pula kelaparan berujung pada tindak kejahatan. Seorang pria di Medan nekat mencuri beras untuk sekedar bisa makan. Sungguh memilukan, ternyata pandemi kelaparan dan COVID-19 telah menjadi kolaborasi hitam yang mematikan.

Dari fenomena kelaparan yang terjadi di dunia dan Indonesia secara khusunya seakan membuka mata kita. Disaat teknologi di dunia pertanian dan pangan sudah mulai maju dengan pesat tetapi kelaparan justru meningkat. Berbagai ilmuwan sudah banyak yang melakukan riset dan mereka pun mendapat pencapaian di bidang pangan yang luar biasa. Bahkan saat ini, kecukupan pangan untuk 10 miliar orang di dunia bisa dicukupi dengan mudah. Jikalah begitu, maka asumsinya setiap orang tidak ada yang menderita kelaparan. Tetapi kenyataan berkata sebaliknya, lalu ke mana sebenarnya hasil teknologi ini termanfaatkan dan untuk siapa kemajuan ini dapat dirasakan? Besarnya ketimpangan pendapatan, banyak dari warga miskin di dunia yang tak memiliki daya beli terhadap hasil pangan. Kemajuan teknologi tidak berpengaruh pada mereka yang tidak mampu membeli. Bahkan bisa dibilang ada atau tidak teknologi ini mereka tetap kelaparan.

Maka tak bisa disangkal bahwa kelaparan yang melanda dunia saat ini dipengaruhi oleh sistem kapitalisme yang hanya memanjakan kaum bermodal. Eksploitasi sumberdaya dan ekonomi secara besar-besaran hanya untuk kepentingan segelintir orang dan keuntungannya berputar-putar diantara mereka saja. Sistem ini tidak peduli akan kesejateraan masyarakat. Kaum lemah selamanya akan tetap tertindas dan menderita.

Maka tidak mengherankan jika di tengah peradaban yang semakin berkembang, teknologi yang semakin maju, dan di tengah kekayaan alam yang melimpah, tetapi kematian akibat kelaparan selalu mengintai. Hal ini karena kekayaan dan kemajuan tersebut hanya untuk kaum elit global. Kaum marginal tak memiliki akses untuk menikmatinya. Akibatnya kemiskinan menjadi sulit terentaskan dan kelaparan menjadi penyakit kronis tahunan yang tak terpisahkan dari mereka. Sungguh suatu hal yang ironi.

Sistem kapitalis neoliberalia secara nyata terbukti tidak mampu mengentaskan kelaparan dan gagal menghadapi krisis multidimensi ketika wabah. Ketahanan dan kedaulatan pangan hanya sebatas retorika belaka. Sistem ekonomi dijalankan berbasis ribawi dan penuh manipulasi. Sayangnya, sistem yang digadang-gadang memiliki ketangguhan sejati, seketika ambruk kala ditimpa pandemi. Melihat kondisi tersebut, masihkan kita bertahan pada sitem yang rusak ini? Maka tidak ada pilihan lain untuk keluar dari derita kelaparan selain mengubah tatanan kehidupan global.

Islam hadir dengan aturan yang sempurna dan paripurna. Terbukti sudah selama 13 abad lamanya, kehidupan di bawah naungan Islam memberi kebahagiaan dan kemakmuran. Hal ini karena pemimpin memiliki kesadaran penuh bahwa dirinya bertanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Jabatan kepemimpinan bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi justru berfungsi sebagai raain (pelayan/pengurus) dan junnah (pelindung) rakyat. Dengan kedua fungsi tersebut, maka seluruh rantai pasok pangan akan dikuasai negara.

Kebijakan produksi dan stok pangan menjadi kewenangan negara secara penuh, sehingga tidak bisa diintervensi oleh asing. Tidak ada lagi mafia maupun kartel yang memainkan harga pasar. Negara menjamin penuh kebutuhan dasar rakyatnya dengan pengelolaan kekayaan negara yang shahih. Pemimpin akan memaksimalkan semua potensi alam yang bisa dimanfaatkan sehingga tidak bergantung pada asing.

Dalam Islam, haram hukumnya memprivatisasi sumberdaya alam oleh sekelompok orang, tetapi kekayaan alam (hutan, laut, tambang) ialah kepemilikan umum yang hasilnya akan dinikmati secara bersama. Nantinya dari penghasilan tersebut akan dijadikan sebagai pemasukan keuangan negara. Pemasukan lain bersumber dari  jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, dst, bukan iuran pajak yang menjerat kaum lemah.

Hal ini tentunya ditunjang dengan pengelolaan keuangan yang benar dan penerapan sistem ekonomi yang syar’i.  Dengan kekayaan yang dikelola dengan benar, maka kebutuhan dasar setiap rakyat akan sangat mudah terpenuhi. Bahkan ketika menghadapi wabah pun negara sudah siap dengan cadangan makanannya untuk dibagikan secara gratis kepada rakyatnya. Jikalah kebutuhan dasar sudah terpenuhi, maka kelaparan menjadi sangat jarang terjadi. Dengan demikian penerapan Islam secara sempurna dalam kehidupan bernegara meniscayakan ketahanan dan kedaulatan pangan yang tangguh di masa normal maupun ketika menghadapi pandemi.

 

 

Editor : Hadhil Channel


BACA JUGA :  Dakwah di Tengah Wabah, Segera Ber-Islam secara Kaffah


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.