New Normal, Apakah Indonesia telah Menyerah?

Hot News

Hotline

New Normal, Apakah Indonesia telah Menyerah?



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Lyrziansha


Semua terlihat membingungkan. Hal ini bisa dilihat dari data laju persebaran Covid-19 khususnya di Indonesia menunjukkan bahwa setiap harinya pasien positif Covid-19 terus mengalami peningkatan. Data terakhir pada hari Ahad (31/5/2020) menyatakan total kasus positif Covid-19 mencapai 26.473 orang.

Jika dilihat dari kebijakan awal saat Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, pemerintah tak henti-hentinya memberi peringatan agar tetap di rumah saja, seperti bekerja, belajar yang dilakukan secara daring di rumah. Namun, kita dihadapkan lagi dengan persoalan baru bahwa pemerintah mengajak kita untuk dapat berdamai dengan Covid-19 ini. Ternyata bekerja di rumah seperti himbauan pemerintah kala itu membuat perekonomian mulai terguncang sehingga mampu memukul keras roda perekonomian di Indonesia. Untuk itu, kondisi saat ini akhirnya membawa pemerintah pada konsep new normal life yang secara bertahap akan mulai diimplementasikan dalam kehidupan kita.

New Normal Life?

Sebenarnya sebelum adanya Covid-19 pun kita sudah melakukan new normal life. Seperti halnya ketika zaman sudah mulai canggih dengan perkembangan teknologi, kita sebenarnya dituntut untuk menghadapi arus dari perubahan zaman itu. Perubahan itulah yang saat ini sedang kita lakukan. Perubahan dalam kehidupan sehari-hari yang mulai mengenakan masker dan jaga jarak. Perubahan dari segi ekonomi dan kesehatan tak luput darinya. Pandemi Covid-19 telah merubah  tatanan hidup manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Di sini, kita bukan lagi dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi yang serba modern namun juga harus beradapasi dengan virus. Ketika seseorang mampu menguasai teknologi dengan baik maka ia akan bertahan dalam perubahan zaman tersebut, sama halnya dengan sekarang, siapa yang memiliki imun yang kuat maka ia akan bertahan melawan virus Covid-19 ini. Seperti yang Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita katakan bahwasanya new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas secara normal, dikutip dalam kompas.com, Rabu (20/5/2020).

Di kala pandemi Covid-19 ini tentunya perubahan itu didampingi dengan adanya protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19 ini. Untuk itu pemerintah menerbitkan aturan protokol baru dalam lingkungan pekerjaan ketika sudah masuk bekerja. Dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di tempat kerja terdapat beberapa aturan yang ada yaitu melakukan pembatasan jarak fisik minimal 1 meter dan melakukan upaya untuk meminimalkan kontak dengan pelanggan.

Siapkah Indonesia dengan New Normal Life?

Pemerintah tampaknya ingin segera masyarakat beraktivitas dengan new normal life dalam kehidupan, sehingga roda perekonomian kian lama tidak mengalami keterpurukan, sehingga tak aneh jika pemerintah sudah bersiap dengan adanya beberapa skenario new normal bagi pekerja PNS, BUMN, dan Perusahaan. Namun, secara realitanya, Covid-19 ini belum ada vaksinnya. Jadi, mau tidak mau masyarakat harus tetap waspada.

Dengan adanya new normal life ini, seolah-olah kita sudah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataannya kita belum melewatinya. Bahkan pakar kesehatan menyebutkan bahwa new normal ini bisa dijalankan ketika  memiliki 4 kriteria. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr. Hermawan Saputra mengkritik dalam persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal.

“Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang harus dihadapi dengan banyak prasyaratnya. Pertama, sudah terjadinya perlambatan kasus positif Covid-19. Kedua, sudah dilakukannya PSBB secara optimal. Ketiga, masyarakat harus sudah lebih bersiap diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, berbagai infrastruktur pendukung adanya new normal sudah benar-benar diperhatikan,” ujar Hermawan yang dikutip dari merdeka.com, Senin (25/5/2020).

Sebelumya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny J. A merilis temuannya yang dihimpun dari berbagai sumber ilmiah seperti Worldometer, WHO, dan data Gugus Tugas Nasional, bahwa Indonesia sudah memenuhi syarat untuk hidup normal bekerja kembali dengan beberapa catatan, yaitu new normal dimulai daerah dengan kasus positifnya menurun, usia yang rentan terkena virus dan rentan angka kematian atau 45 tahun ke atas tetap bekerja di rumah, bagi mereka yang mempunyai penyakit penyerta tetap bekerja di rumah, beraktivitas dengan selalu menjaga protokol kesehatan dengan tetap menerapkan social distancing, dan semua pihak harus berperan serta menjaga protokol kesehatan.

Jika kita perhatikan bersama mengenai prasyarat yang disampaikan oleh Dr. Hermawan Saputra, apakah Indonesia sudah memenuhi keempat syarat tersebut? Nyatanya, empat syarat tersebut belum dipenuhi dengan baik. Dilihat dari data positif Covid-19, bukan terjadi perlambatan kasus namun sebaliknya, terjadi pertambahan kasus disetiap harinya. Dalam pemberlakukan PSBB pun pemerintah tidak cukup tegas dalam menyikapinya dan banyak pula masyarakat yang melanggar PSBB. Bagaimana daya tahan tubuh masyarakat kuat jika makanan yang dikonsumsi sehari-hari saja belum mampu menunjang empat sehat lima sempurna dan minimnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan masyarakat. Lalu, dalam kesiapan infrastruktur new normal juga masih dipertanyakan lagi. Dalam hal ini, sebenarnya Indonesia belum siap dalam menerapkan new normal life.

Peta jalan pemerintah dalam new normal life dapat dikatakan belum memiliki kesiapan dengan baik dan cenderung hanya mengikuti tren global saja tanpa diimbangi dengan pemenuhan syarat new normal. Jika dalam menjalankan kehidupan new normal life tidak dibarengi dengan respons panduan program yang jelas maka hal ini akan menjadi sia-sia dan bahkan berpotensi  menciptakan masalah baru.

Ekonomi Meningkat, Apa Kabar Nyawa Manusia?

Memang dalam pelaksanaan new normal ini sangat ditunggu oleh pedagang kecil, UMKM, dan para penguasaha agar mereka dapat menghidupkan sistem ekonomi sehingga kebutuhan dalam hidupnya dapat tercukupi dengan baik. Namun, dalam hal ini upaya yang terus digencarkan oleh pemerintah demi memperbaiki perekonomian Indonesia seharusnya diimbangi dengan adanya peningkatan dalam penanganan Covid-19 ini agar tidak terjadi lonjakan kasus setiap harinya. Jika hal tersebut dilakukan, maka sebaiknya kita perlu bersiap untuk lonjakan kasus yang lebih besar lagi. Memperbaiki perekonomian yang sudah terpuruk itu sangat dapat kita lakukan, namun menumbuhkan orang yang sudah meninggal akibat Covid-19 itu hal yang mustahil kita lakukan. Hal ini, tentu saja seharusnya pemerintah terus mengupayakan dalam penanganan dan terus mengupayakan untuk menekan laju pertumbuhan kasus walaupun disamping itu tak luput juga jika harus dibarengi dengan perbaikan sistem ekonomi.

New normal life ini nampaknya hanyalah cara berperilaku atau cara hidup masyarakat saja yang berubah, namun dari segi kehidupan tetaplah sama. Interaksi yang tercipa akan semakin mengundang virus untuk berdatangan. Terjadinya penutupan dibeberapa pusat perbelanjaanpu masih tidak bisa menekan pertumbuhan kasus, apalagi kita saat ini harus hidup berdampingan dengan virus.

Dengan kehidupan normal yang baru, masyarakat harus bisa beradaptasi dan hidup berdampingan dengan Covid-19. Jika memang perekonomian akan segera memulih dengan adanya new normal, lalu apa kabar dengan nyawa manusia? Pemberlakukan PSBB yang diangap mampu menurunkan kasus Covid-19 saja nyatanya setiap harinya terjadi peningkatan kasus Covid-19, bisa jadi tujuan memulihkan sistem perekonomian di Indonesia justru akan membahayakan nyawa masyarakat, alih-alih dapat menciptakan gelombang kedua pandemi Covid-19.

Indonesia Seharusnya Mampu Belajar

Seharusnya kita mampu belajar dari Korea Selatan yang telah menerapkan sistem new normal life, namun tak lama kemudian akan segera diberlakukan kembali pembatasan sosial. Kebijakan new normal yang diterapkan di Korea Selatan selepas menurunnya pasien posirif Covid-19 ini justru malah terjadi lonjakan pasien yang cukup besar. Museum, taman, galeri, dan sekolah yang dibuka kini akan ditutup kembali.

Dalam suara.com, The Guardian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan ada 79 kasus baru dengan 67 diantaranya berasal dari daerah ibukota Seoul.

Hal ini menunjukkan bahwa penerapan new normal life dianggap kurang efektif dalam menangani Covid-19. Lonjakan kasus baru menjadi gambaran bahwa penerapan new normal demi mengembalikan kembali roda perekonomian sangatlah beresiko meningkatnya kembali jumlah pasien covid-19 dan akan beresiko terjadinya gelombang kedua Covid-19.

Oleh karena itu, sebaiknya Indonesia belajar dari negara lain dan terus berupaya untuk memberikan kebijakan terbaik sehingga nyawa masyarakat tidak lagi dipertaruhkan dan tidak ada lagi lonjakan pasien akibat Covid-19.

Bagaimana Islam Memandang New Normal Life?

Dalam sistem kapitalisme, menyelamatkan perekonomian jauh lebih penting dibandingkan dengan menyelamatkan nyawa rakyatnya sendiri. Oleh karena itu, tak hentinya new normal life terus saja dicanangkan dengan membiarkan rakyat bekerja seperti pada umumnya tanpa dibarengi dengan adanya upaya perlindungan yang menajamin kesehatan masyarakat sehingga hanya mengandalkan daya imun masyarakat di mana yang kuat maka ia yang akan bisa bertahan. Inilah bukti bobroknya sistem kapitaslisme.

Sangat berbeda jika dibandingkan dengan sistem yang berbasis akidah Islam. Di dalam kekuasaan Islam, urusan umat senantiasa ditempatkan dalam urusan yang utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa manusia dipandang sangat berharga. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan akan tampil sebagai perisai utama untuk membela rakyat dan mendahulukan kepentingan-kepentingan rakyat dibanding kepentingan seorang penguasa.

Konsep new normal life ini tidak lain adalah peradaban kapitalisme yang membiarkan nyawa rakyat menjadi taruhannya demi meraih nilai materi. Dalam hal ini, negara semakin tidak peduli terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat. Namun, di saat yang sama, para petugas medis harus berjuang lebih berat untuk berusaha menyelamatkan pasien serta setiap orang yang bekerja keras untuk mengurusi kehidupannya sehari-hari di tengah wabah ini.

Untuk itu, peradaban islam adalah satu-satunya peradaban yang berkarakter mulai, pemberi rasa tentram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah kami memutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya’/21:107).

Di samping itu, gambaran tentang kehidupan berjalan sesuai perintah dan larangan Allah. Semua hal yang terwujud dari nilai materi, spiritual, kemanusiaan, dan moral berdampingan secara seimbang. Tidak sekadar konsep saja, peradaban Islam selalu mewujudkan kesejahteraan seluruh alam dan ini telah teruji selama puluhan abad.

Sehingga, kini tampak sangat jelas wajah bobroknya sistem kapitalisme yang diadopsi oleh negeri ini. Pemerintah senantiasa berpihak dengan korporasi yang menyepelekan nyawa manusia dan lebih mementingkan sistem ekonomi. Maka dari itu, Indonesia perlu diselamatkan dan duniapun juga harus diselamatkan.

Sistem yang mampu menyelamatkan hanyalah yang berasal dari Allah, penguasa alam semesta ini. Inilah Islam, sistem yang sungguh paripurna yang menghadirkan pemimpin yang dapat mengurusi rakyatnya dan mencintai serta dicintai rakyat. Dan dengan sistem inilah keberkahan akan senantiasa membersamai negeri juga alam semesta ini.


Editor : Khairun Nisa Panggabean


BACA JUGA :  Ancaman Limbah Medis COVID-19 yang Menghantui


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.