Pandemi yang Tak Kunjung Terlihat Ending-nya

Hot News

Hotline

Pandemi yang Tak Kunjung Terlihat Ending-nya



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh: Aina Ramadhanty*


Kurva penyebaran Covid-19 di Indonesia cenderung melesat ke atas. Dari laporan terakhir hari ini, 30 Mei 2020, terhitung penambahan kasus terkonfirmasi sebanyak 678 kasus yang membuat total kasus terkonfirmasi di Indonesia menjadi 25.216 kasus.

Sedikit menarik ke belakang, pada tanggal 21 Mei 2020, Indonesia mengalami peningkatan kasus terkonfirmasi tertinggi sebesar 973 kasus baru dalam sehari (kompas.com). Hal yang perlu diwanti-wanti pula adalah perkembangan kasus Covid-19 pasca lebaran dimana dilansir dari okenews (21/05/2020), Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra memperkirakan lonjakan pasien positif Covid-19 pasca hari raya Idul Fitri lebaran 1441 H. Diperkirakan satu harinya akan ada 1.000 kasus baru pasien positif.

Dilansir dari republika.co.id (25/05/2020), kekhawatiran yang sama juga datang dari pihak IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Wakil Ketua Umum PB IDI, dr. Adib Khumaidi, beliaupun mengharapkan pemerintah untuk melakukan evaluasi sesuai lebaran. Mengingat masa inkubasi virus corona sekitar dua pekan, kata dia, maka setidaknya dua pekan setelah lebaran sudah harus ada hasil evaluasinya sehingga bisa disusun kebijakan lebih lanjut.

Fakta kasus terkonfirmasi Covid-19 yang terus bertambah begitu cepat, ternyata tak seirama dengan laju kebijakan pemerintah dalam menanganinya. Selalu saja, andai bisa kita balik waktu, pada saat pertama berita mengenai penyakit menular yang disebabkan oleh corona virus ini, seharusnya di negeri kita sudah harus lebih waspada dan bisa langsung mulai dilakukan karantina wilayah, yaitu menutup akses keluar masuk dalam dan luar negeri. Mungkin tak semudah yang dibayangkan, mengingat banyak pertimbangan, katanya.

Ya, memang begitu riskannya sebuah sistem kapitalis. Karantina dianggap suatu hal yang sulit dilakukan saat itu, mengingat pertimbangan kehidupan perekonomian Indonesia yang nampaknya dominan dengan kerjasama dari luar negeri dan tetek bengeknya. Pada akhirnya, yang terjadi maka terjadilah.

Pada hari ini kita bisa saksikan, bahwa penanganan penyakit menular itu sebenarnya sederhana: membatasi jalan penularannya dengan tegas, tepat, dan efisien. Penerapan PSBB yang sudah berlangsung dirasa kurang maksimal dalam pelaksanaannya, ditambah kesadaran masyarakat Indonesia yang sangat kurang dalam adanya pandemi ini semakin menambah runyam keadaan.

Kalau dilihat dari segi kebijakan, seharusnya kebijakan yang ada harus benar-benar dilaksanakan dengan tepat, tanpa ada kelonggaran dan semacamnya agar PSBB dapat diakhiri. Kalau PSBB-nya saja tidak tegas, ada yang masih bisa kumpul di mall untuk belanja baju lebaran, dan tidak ada langkah tegas bagi yang melanggar protokol pencegahan Covid-19, tentunya PSBB akan berlangsung terus tiada akhir. Kelihatannya, pemangku kebijakan seakan ‘tergesa-gesa’ ingin mengembalikan kehidupan perekonomian agar berjalan kembali. Tidak salah, tapi harusnya disikapi dan direncanakan dengan tidak buru-buru dan fokus dalam menurunkan dan menormalisasi keadaan pandemi ini terlebih dahulu.

Dalam Islam sendiri, sepertinya sudah sering diulang-ulang terkait bagaimana sebuah negara menyikapi adanya wabah penyakit. Islam yang turun di tengah-tengah manusia dari Pencipta alam semesta berikut isinya yaitu Allah Swt, telah mengatur bahwa keputusan-keputusan yang kita ambil di dunia harus selalu dilandaskan dari wahyu-Nya dan dari ajaran Rasul-Nya, karena Allah Swt meniscayakan kesejahteraan bagi siapa saja yang melaksanakan aturan yang diturunkan-Nya.

Landasan dasar hukum syara tentunya diselaraskan dengan ilmu dan sains, karena pada dasarnya mereka tidak bertolak belakang dan dapat berjalan beriringan dan bertujuan untuk meraih kemaslahatan umat manusia. Selain pengkajian yang diselaraskan dengan ilmu dan sains, negara pun juga harus mempertimbangkan dampak dari adanya wabah penyakit, dimana dalam pencegahannya akan menghambat beberapa hal di masyarakat, sehingga negara harus menjamin kebutuhan pokok warganya, dan memang itu tanggung jawab negara.

Kehidupan perekonomian yang dilandaskan pada ekonomi Islam sudah terbukti anti krisis, sehingga pemenuhan kebutuhan pokok tersebut tidak menjadi sulit. Bahkan, tidak ada wabahpun hampir semua hak rakyat dapat terpenuhi secara murah bahkan gratis. Tentunya, dengan adanya kebijakan untuk mencegah penyebaran penyakit, ditambah kebutuhan pokok rakyat dijamin, maka niscaya Allah Swt. turunkan keberkahan-Nya, dan masa-masa sulit itu akan dilewati bersama.

Begitulah Islam memandangnya. Sebagai muslim tentunya kita harus meyakini asal usul kehidupan tentunya dari Sang Pencipta yaitu Allah swt. Maka, wajar sekali ketika kita menyerahkan panduan untuk hidup di alam semesta ini kepada panduan yang datang dari Sang Pencipta pula. Wallahu’alam bish ashawab.

 

 

*/Penulis adalah aktivis kampus

Editor : Fadillah



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.