Ulama Protes: Ekonomi Diangkat Ibadah Dihambat

Hot News

Hotline

Ulama Protes: Ekonomi Diangkat Ibadah Dihambat



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)

Oleh : Tantri*


Dilansir dari tribunnews.com, (14/5/2020), wacana relaksasi tempat ibadah yang digaungkan Menteri Agama Fachrul Razi didukung oleh Persaudaraan Alumni 212. Menurut mereka jangan sampai ada pemerintah membuka akses bandara tetapi rumah ibadah tidak dibuka.Penerbangan buka, bandara buka, transportasi longgar, mal buka dan lainya sementara tempat ibadah masih tutup, ibadah diawasi, kacau ini. Hati-hati kalau menyangkut urusan agama ini sangat sensitif.” Ujar Slamet.Sebab kalau tidak ini bisa jadi bom waktu pembangkangan massal umat Islam karena merasa ada diskriminasi kebijakan,” ujar Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif, Rabu(13/5/2020).

Ia pun berharap wacana tersebut bisa cepat direalisasikan dan dikomunikasikan dengan pihak terkait termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).Hal ini pula yang mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta kejelasan dari pemerintah dalam menjalani kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal itu guna menindak lanjuti fatwah shalat Jumat yang juga akan ditetapkan bila ada kejelasan sikap.

Bagaimana jawaban pemerintah ? Hampir tak ada respon. Bisa dimaklumi, jika untuk kepentingan ekonomi,bisnis dan investasi ( yang tentunya lebih menguntungkan pengusaha dari pada kepentingan rakyat), maka ancaman bahaya virus bisa diupayakan untuk diminimalisasi. Itu sebabnya bandara dibuka dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat.Sementara untuk kepentingan ibadah, bahkan yang wajib sekalipun ( seperti shalat Jumat), terpaksa umat Islam harus mengalah. Dengan alasan hifzhu nafs ( menjaga nyawa manusia), umat dilarang ke masjid.Demikianlah semakin tampak bagaimana rezim kapitalis sekuler hari ini memosisikan para ulama. Kedudukan ulama di hadapan negara hanya sekedar formalitas, jika dibutuhkan diminta fatwa untuk legalitas kebijakan negara, jika tidak dibutuhkan maka pendapatnya diabaikan.

Mereka adalah pewaris para nabi sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :

“Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi.” ( HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi ).

Ilmu yang mereka miliki menghantarkan mereka pada kedudukan terbaik dan derajat muttaqin, yang dengannya tinggilah kedudukan derajat mereka. Sebagaimana firman Allah Swt :“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian beberapa derajat, dan Dialah yang Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS Al Mujadilah : 11).

Negara tak bersungguh-sungguh mendengarkan pendapat para ulama, menerima masukannya, apalagi menjalankannya. Bahkan sebagai ulama yang kritis dan menyampaikan nasehat dalam rangka amar makruf nahi mungkar, malah dianggap menentang pemerintah. Tentu ini membodohi dan sangat menyakitkan umat Islam.Dari sini seharusnya ulama bersuara lantang untuk mengangkat setiap jenis aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan rezim kapitalis. Juga mengangkat kritik bahwa wabah covid selayaknya menyadarkan agar kembali pada solusi syariah.Karena ulama adalah lambang iman dan harapan umat, mereka tak kenal lelah memberikan petunjuk dengan hanya berpegang pada Islam. Siang hari mereka habiskan untuk membina umat dan membentenginya dari kekufuran, kedzaliman, dan kefasikan.Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. Maka apabila hilang bintang gemintang itu hampir hampir tersesatlah yang tertunjuki itu”. (HR Ahmad).Dan ulama adalah sosok yang harus dihormati dan dimuliakan. Perkataannya adalah nasihat yang seharusnya didengar, karena ia adalah guru bagi para penguasa sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali,

“Sultan atau penguasa tugasnya mengurusi rakyat. Sementara sultan sendiri untuk mengurusi rakyat membutuhkan sebuah undang-undang. Sedangkan ahli fikih atau ulama ialah orang yang tahu tentang undang-undang siyasah. Jadi, ahli fikih atau ulama itu posisinya adalah gurunya sultan atau penguasa dan tugas guru ialah menjelaskan atau meluruskan murid jika sang murid berjalan tidak sesuai materi undang-undang.” (Ihya Ulumuddin; Juz 1).

Demikianlah Islam memosisikan para ulama. Sungguh sangat jauh berbeda dengan bagaimana sistem kapitalisme dengan rezim sekulernya memosisikan para ulama.Dalam Islam, para ulama mendapatkan tempat terhormat sebagai penasihat yang menentukan kebijakan penguasa. Sementara dalam sistem kapitalisme, ulama justru dimanfaatkan hanya sebagai stempel legalitas kebijakan penguasa.Sungguh mulia apa yang disampaikannya. Mengingatkan penguasa untuk lebih memperhatikan akhiratnya. 

Dan sebaik baik akhirat itu akan didapatkan penguasa ketika ia benar benar menjalankan kepemimpinannya dengan amanah. Menjalankan fungsi raa’in (pengurus dan pengatur) dan junnah (penjaga dan pelindung) dengan sebaik baiknya.Sungguh, hanya sistem Islam yang akan memuliakan para ulama. Menempatkan mereka pada posisi terhormat sebagaimana Allah telah tetapkan untuk mereka. 

Hanya dalam Daulah Khilafah, hubungan ulama dan penguasa (umara) menjadi hubungan yang diberkahi dan dirahmati Allah.Penguasa menjalankan amanah mengatur dan mengurus rakyatnya dengan sebaik baiknya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.Sementara ulama menasihati penguasa, membimbingnya agar selalu berada di jalan kebenaran dan menerapkan hukum Allah secara keseluruhan bagi rakyatnya. Wallahu A’lam bisawab

 

 

*/ Penulis adalah Aktivis Dakwah Cikarang

Editor : Khairun Nisa Panggabean


BACA JUGA :  Kemenangan Hakiki


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.