Urgensi Negara Menjamin Kehalalan Produk

Hot News

Hotline

Urgensi Negara Menjamin Kehalalan Produk



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Rima Septiani*


Di tengah masalah pandemi yang belum terselesaikan secara tuntas, muncul lagi kasus baru yang meresahkan masyarakat. Fenomena beredarnya daging babi yang dioplos dengan daging sapi kembali terkuak.

Baru-baru ini, Polresta Bandung mengamankan empat pelaku pengedar daging babi yang dijual seolah-olah daging sapi di wilayah Kabupaten Bandung. Selama setahun mereka telah menjual dan mengedarkan 63 ton daging palsu tersebut. Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan mengatakan empat pelaku itu berinisial T (54), MP (46), AR (38), dan AS (39). Mereka mengolah daging babi hingga menyerupai daging  sapi dengan menggunakan boraks.(CNN.indonesia/11/5/2020)

Di mana Peran Negara!

Terkuaknya modus penjualan daging babi yang menyerupai daging sapi merupakan bentuk kelalaian penguasa dalam menangani beredarnya makanan halal  di tengah masyarakat. Padahal Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim, di mana masalah seperti ini wajib menjadi perhatian besar negara untuk menjaga jiwa dan kesehatan rakyatnya dengan makanan yang halal dan baik (tayyib). Hal ini pula merupakan cerminan ketatatan terhadap syariat Allah SWT.

Ajaran Islam mengharamkan umatnya untuk mengkonsumsi daging babi atau memanfaatkan seluruh anggota tubuh babi, baik untuk penggunaan alat-alat kosmetik, kuas, dan sebagainya. Apalagi dikonsumsi sebagai pelengkap  makanan.

Selain itu, negara harus hadir untuk mengawasi produk-produk hasil industri yang akan disebarkan di tengah masyarakat. Seperti kewajiban mencantumkan bahan-bahan komposisi dan kandungan pada bungkus kemasan makanan. Walaupun begitu, label bukan jaminan kehalalan, karena dalam sistem kapitaslisme,  industri akan melakukan segala cara untuk mendapat keuntungan lebih banyak, termasuk memanfaatkan label MUI di setiap produk agar laku terjual. Oleh karena itu kewajiban negara untuk membentuk lembaga independen yang mengawasi segala produk yang melanggar syariat Islam.

Dari kasus ini kita bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan haram seperti menipu dalam jual beli sangat mudah dilakukan di sistem kapitalis. Atas nama keuntungan besar, para pedagang menghalalkan cara untuk mendapatkan uang, contohnya menjual daging babi yang jelas haram. Inilah tabiat buruk sistem demokrasi , biang dari segala kebobrokan. Hal seperti ini sangat mudah terjadi dan terulang di sistem demokrasi, melihat negeri ini memiliki standar hukum yang berdasar kepada  akal manusia bukan hukum Allah SWT.

Sistem demokrasi melarang aturan Islam menyentuh roda perekonomian negeri ini. Membuat kesadaran masyarakat semakin berkurang dalam memahami ilmu perdagangan dalam standar Islam. Akibatnya masalah halal haram ini menjadi perkara yang teracuhkan atau tidak dianggap penting. Masyarakat justu berkiblat pada prinsip kapitalis dalam menjalankan  aktivitas jual beli. Orientasinya hanya  mengumpulkan pundu-pundi rupiah sebanyak apapun,  tanpa mempertimbangkan aturan agama dan tanpa mengetahui hukum-hukum jual beli dalam Islam.

Kembali Pada Sistem Islam

Ketaatan dalam hal jual beli merupakan bentuk keberkahan ekonomi yang harusnya dijalankan dalam suatu negeri. Islam menegaskan bahwa aktivitas jual beli merupakan perkara yang dihalalkan, selama tetap memenuhi peraturan dalam hukum syariat. Misalnya tidak ada kecurangan, mengurangi timbangan atau menimbun barang. Semua ini  merupakan perkara yang dapat merusak keberkahan dalam aktifitas jual beli dan ini diharamkan oleh Allah SWT.

Jika merujuk pada penerapan sistem Islam secara kaffah, kita patut mencontoh Umar bin Khattab memainkan perannya sebagai Khalifah kala itu, dengan membuat sejenis regulasi untuk melindungi pasar rakyatnya, beliau pernah menyampaikan ultimatum yang ditujukan kepada para pedagang di pasar-pasar Madinah, bahwa pedagang  yang tidak memenuhi aturan jual beli, akan dicabut perizinan operasional dagangnya. Beliau menyatakan bahwa tidak boleh berjualan di pasar-pasar umat Islam, kepada orang yang tidak mengetahui halal dan haram. Sehingga ia pun terjatuh pada riba dan menjerumuskan kaum muslimin pada riba ( lihat : Ihya ‘ulumuddin 2/59, dikutip dari Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh hal.  8)

Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan durhaka, kecuali  orang yang bertakwa kepada Allah, berbuat kebajikan dan bersedekah.” (HR . Tirmidzi)

Inilah pentingnya memiliki perisai/junnah yaitu seorang pemimpin yang paham dan taat terhadap syariat dan mau menjalankan syariat secara kaffah. Kemudian dengan peraturan Islam tersebut, mampu menjaga akidah umat dengan memberantas secara tuntas peredaran barang haram di tengah masyarakat, seperti peredaran daging babi, khamr, dan produk  haram lainnya. Kini saatnya umat Islam bangkit dan memperjuangkan penerapan sistem Islam secara kaffah  seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya yaitu tegaknya khilafah Islam dalam bingkai daulah Islamiyah.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (TQS Al-Baqaroh : 168)

 

Wallahu ‘alam bi ash shawwab.

 

 

*/Penulis adalah aktivis mahasiswi kendari

Editor : Hadhil Kedang


BACA JUGA : Pelayanan Kesehatan yang Membuat Sakit


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.