Cerita Tentang Santri

Hot News

Hotline

Cerita Tentang Santri



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Mariyam Sundari


Kami titipkan anak kami ke pondok pesantren ini, jangan pernah dikembalikan kepada kami sebelum dia berubah jadi lebih baik apapun yang terjadi.

Ayah Ibu jangan tinggalkan aku disini, aku berlari mengejar kedua orang tuaku yang terus berjalan cepat tanpa melihat kepadaku sampai akhirnya aku naik keatas bukit, aku melihat kebawah dan....

“Tolooong “.....

“Brugkh” aku jatuh dari atas masuk ke dalam gua, dimana ini kenapa gelap sekali, aku terus menelusuri jalan penuh air, aku melihat di kanan kiri ada teman-temanku memanggil tetapi begitu aneh kenapa muka mereka semua terlihat hitam, kotor dan lusuh, pakaiannya compang-camping penuh sobekan mereka tampak kehausan. “Kreeekk” bajuku ditarik kuat, rasanya sulit bernafas. “Tolong... Tolong” aku berteriak, adakah orang disini, dari kejauhan aku melihat cahaya terang, hampir tidak bisa ku lihat apa yang ada disana perlahan aku melihat sosok makhluk yang berdiri tegak menatapku sambil tersenyum dengan wajah yang bersinar memakai pakaian serba putih mengulurkan tangan-nya kepadaku sepertinya aku tidak pernah melihat orang seperti ini sebelumnya tapi aku tidak peduli, dengan gemetar aku terus menggapai tangannya, sampai akhirnya aku melihat ada tanda pada jari jempol tangan kanannya seperti lingkaran hitam hampir saja aku memegang tangannya tiba-tiba ibuku memanggil....

Zuuull... Zuuull... Banguun, matahari sudah tinggi kamu tidak sholat subuh lagi yaa, pasti kamu bergadang semalaman... Ibuku membangunkan aku dengan membuka gordyn jendela lebar-lebar, tampak ada sinar matahari yang menyilaukan mataku.

Iyaa bu, hemmm ternyata mimpi,,, aku duduk sambil membersihkan mata ku dengan tangan.

Kamu mimpi buruk lagi, makanya kalo mau tidur baca doa biar tidurnya terjaga, kata Ibuku sambil mendekat.

Aku...

Sudahlah ayo segera mandi, hari ini ayah ibumu mau mengantarkanmu ke pondok pesantren agar kamu bisa membaca doa sebelum tidur,   lanjut ibuku, aku hanya diam merasa tidak percaya dan  ku fikir ibuku hanya bercanda.

Oh iyaa, perkenalkan namaku Zulkifli aku biasa dipanggil Zul, usiaku remaja setara anak sekolah menengah pertama ayah ku pilot Ibu ku dokter karena kesibukkan orangtua, aku jadi sering ditinggal sendiri dirumah.

teeeng, teeeng, teeeng”

Hanya lonceng jam dinding setiap hari yang aku dengar dirumah terasa penat sunyi sepi tiada berteman.

Kring,,,, kriing”

 handpone berbunyi,

 hallo zul, loe dimana cepat kemari kita ngebut broo ternyata Ari temanku.

“Wokey”.

Akan ku perkenalkan teman-teman-teman ku, pertama Ari yang hobinya mengukur jalan dan jago kebut-kebutan motor, kedua Herman yang hobinya mengganggu anak-anak perempuan yang lewat, ketiga Igo hobinya teriak-teriak dan mahir bermain guitar.

Aku bergegas pergi menggunakan motor vesva kesayanganku dengan kecepatan tak biasa menjumpai teman-temanku.

“Troott... Tot.. Tot.. Tot”

Tiba dipersimpangan jalan,

Hello friends... Apakah kalian siap mengalahkan jagoan terhebat ini...

“Are you ready”....yaaa’!

Sambil berteriak dijalan itulah keseharian kami.

Hey berhentilah kalian, pergilah jauh-jauh,,, kata salah satu warga kampung yang melihat.

Kami tidak peduli dan terus-menerus bernyanyi berteriak dari atas motor.

Setiap hari aku dan teman-temanku selalu bikin kerusuhan dijalan dikampung, setiap hari kami selalu menjadi bahan perbincangan orang bukan karena perangai kami yang baik tapi karena perilaku dan tindakan kami yang buruk yang selalu bikin keonaran, teriak, bernyanyi keras, menabu guitar, kebut-kebutan di jalan dengan suara knalpot motor yang keras sangat terasa bising, bahkan meminum minuman keras, mengganggu anak perempuan orang mencuri pun pernah kami lakukan, kami tidak peduli apa kata orang-orang yang melihat bagi kami membuat bahagia diri sendiri adalah yang terbaik, maka di berilah aku dan teman-temanku sebagai julukan “sampah masyarakat “, sungguh tidak enak didengar, tapi yaa seperti itulah nyatanya.

“Kreekk” pintu terbuka.

Ibu aku pulang..., aku mencari ibuku ternyata ada didalam kamarnya sedang menangis.

Kenapa ibu siapa yang membuat ibu menangis, tanyaku heran.

“Huuu'huuu'huuu”...

Makin terisak tangisnya.

Aku memeluk ibuku erat-erat.

Ibuuu, aku tidak tega melihat ibu menangis ceritakan kepadaku apa yang terjadi, ibu tenang yaa minum lah dulu, aku memberikan segelas air putih “glegh,-glegh”, ibuku minum.

Sekarang ceritalah buu...

Tadi ada rombongan warga kampung ke rumah kita, mereka resah atas perlakuan kamu dan teman-temanmu nak, dan mengancam akan melaporkan tindakan kalian kepada pihak yang berwajib.

Aku diam tidak bicara...

Kenapa kamu jadi seperti ini nak...

Ibu ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini, karena ayah dan ibu kurang memperhatikan aku selalu sibuk dengan kerjaan kalian masing-masing aku butuh kasih sayang buu, hanya teman-temanku yang perhatian padaku sampai akhirnya aku mengikuti perilaku mereka sehingga aku jadi seperti ini.

Maafkan ayah dan ibumu nak jika sering berada diluar kami bekerja demi untuk masa depan kamu.

Tapi aku juga butuh perhatian dan kasih sayang ayah dan ibu....

Ibu tidak melarang kamu berteman dengan siapapun, tapi harus ingat bertemanlah dengan anak yang baik-baik, agar kamu menjadi baik pula.

Lantas sekarang keinginan ibu apa buatku...

Ayah dan ibunya berencana ingin memasukkan kamu ke pondok pesantren.

Tapi aku tidak bisa mengaji dan sholat buu...

Maka dari itu di pondok pesantren akan diajarkan mengaji dan sholat.

Aku malu buu aku belum bisa mengendalikan perilakuku sendiri...

Sabarlah dan bersiaplah besok kita berangkat.

Aku diam sejenak, baiklah jika hal ini membuat ibu tidak menangis lagi...

akhirnya kedua orang tuaku memasukan aku ke pondok pesantren, di dalam pondok aku masih saja berbuat kejahilan yang tidak biasa.

Hari pertama aku di pondok pesantren, tempat apa ini kotor sekali, aku membersihkan debu di dalam kamar baruku, dari pintu aku melihat, Assalamualaikum akhi, perkenalkan saya Fauzi, kita satu kamar di sini ,,, hai, oh iyaa salam kenal saya Zulkifli panggil aja Zul,,, hey, Fauzi kalo kamar anak santri perempuan dimana yaa, tanyaku ,, santri wati maksudnya,,, iyaa, iyaa,, dari sini lurus belok kanan ada post satpam terus ada pagar di balik pagar itu lah asramanya santri wati, aku keluar dari pintu dengan jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat pagar luas sebagai perbatasan antara pondok pesantren dan asrama  santriwati aku berjalan perlahan mendekati pagar ada bapak satpam sedang berjaga di postnya ketika satpam lengah aku melompat pagar, “huuup”, aku berada di pekarangan belakang tempat menjemur pakaian anak-anak santriwati dengan perlahan aku mengambil pakaian dalam anak-anak santriwati hampir semua aku ambil aku masukkan semua pakaian ke dalam bajuku,, “tiba-tiba “,,,, heeeyy,,, siapa di sana apa yang sedang kau lakukan,,,, teriak salah satu santriwati yang melihat, secepat kilat aku ambil langkah seribu sambil menggendong banyak pakaian yang aku bawa,, “wooow” aku melompati pagar “huup”, sudah mahir rupanya dan sampailah dikamarku dengan nafas yang begitu cepat naik dan turun, “kreekk” aku buka lemari aku simpan pakaian itu dalam lemari baju ku, perlahan aku melihat dari pintu melihat keadaan ternyata sudah aman... “Ahhh” sedikit legah.

Allahuakbar allahuakbar,,, suara adzan dzuhur terdengar dari masjid pondok pesantren, Fauzi datang, Zull ayo sholat,, oh. Iya, iyaa.. padahal selama ini aku tidak pernah sholat dalam hatiku gimana caranya “hemmm”.

Zuull kemarilah, aku dipanggil ustadz Eko salah satu guru pembimbing anak-anak santriwan ketika sesudah shalat, iyaa ustadz ada apa yaa memanggil saya, kata Zul sambil garuk-garuk kepala,,, aku dengar ada keributan di asrama santriwati banyak santriwati yang kehilangan pakaian dalamnya apakah kamu tahu siapa yang melakukan semua itu, kata ustadz,,, tiii.. Tidaakk.. Ustadz saya tidak tahu, Ustadz tersenyum,, di pondok pesantren ini tidak pernah ada pencurian sebelumnya kamu tahu apa hukumannya bila mencuri yaitu mendapat dosa besar dari Allah Swt dan akan dikeluarkan dari pondok pesantren ini,, aku diam merasa bersalah, iyaa ustadz saya minta maaf saya akan kembalikan pakaian itu, Zul merasa malu sambil menundukkan kepalanya ,,, saya terima maaf kamu  juga minta maaf lah kepada anak-anak santriwati dan mohon ampun lah kepada Allah, dan jangan mengulangi perbuatan itu lagi.

Baik ustadz...

Saya dapat kabar dari anak-anak santriwati, mereka sudah memaafkan tapi,,,,tapi apa ustadz, mereka menuntut agar kamu dikeluarkan dari pondok pesantren ini, dengan alasan untuk membersihkan nama baik pondok pesantren, mohon maaf saya tidak bisa membantu atas hal ini untuk mempertahankan kamu disini dengan berat hati kami akan mengeluarkan kamu dari sini, aku diam merunduk.

Aku terusir dari pondok pesantren karena perbuatanku yang memalukan tapi pak kiayi Zen yang mempunyai pondok pesantren itu mendengar masalahku datang mencegahku untuk pergi.

Mau pergi kemana nak? tanya pak kiayi Zen, aku sedikit heran,, bukankah kedua orang tuamu menitipkan engkau kepada ku kenapa kamu mau pergi, jika engkau pulang kembali ke rumah orang tuamu dan berteman lagi dengan teman-temanmu yang masih belum lurus itu mau jadi apa kamu di masa depan, ayo kemarilah biar saya yang akan mengurus kamu, aku diam tidak bisa mengelak, kiayi Zen membawaku pergi kerumahnya dan aku di minta untuk tinggal bersamanya, beliau membimbingku megajari aku untuk jadi lebih baik dengan penuh kesabaran akupun mulai berubah hingga pencerahan ada didepan mataku.

Assalamualaikum warahmatullah, menoleh ke kanan, Assalamualaikum warahmatullah, menoleh ke kiri, aku sholat shubuh berjama’ah bersama kiayi Zen, nak,, Alhamdulillah sekarang perilaku dan akhlakmu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya tidak terasa sudah lima tahun kamu disini, kamu anak yang cerdas dan tajam ingatan banyak ayat-ayat Allah dan hadits shahih yang kamu hafalkan amal kan lah di dalam kehidupan sehari-hari pulanglah pada kedua orang tuamu nasehati lah teman-teman mu jika mereka masih berbuat kurang baik jadilah engkau penyejuk hati bagi keluargamu berpeganglah pada tali agama Allah Swt yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw Insya’Allah kita akan selamat baik di dunia maupun di akhirat.

Insya’Allah pak kiayi,,, dengan mata yang berkaca-kaca aku  memeluk pak kiayi Zen erat-erat kemudian berpamitan aku bersalaman begitu lama dengan pak kiayi aku cium tangannya dengan air mata yang tiada terbendung lagi dan berterima kasih kepada pak kiyai yang mau mengurusku sampai aku berubah jadi lebih baik.

Terima kasih pak kiayi, rasanya aku tidak mau melepaskan tangannya aku lihat-lihat dan aku ingat-ingat jari bagian jempol pak kiayi ada tanda lingkaran hitam, ini sama seperti mimpi ku dulu ternyata orang yang memakai jubah putih dengan muka yang penuh cahaya menggapai tanganku didalam mimpiku itu adalah pak kiyai Zen “Subhanallah” dalam hatiku bersyukur...”Alhamdulillah”.

“Kreekk” aku keluar dari pintu menuju motor vespa kesayanganku, sampai jumpa lagi pak kiayi mudah-mudahan Allah Swt menjadikan kita saudara dunia maupun akhirat, Assalamualaikum,,, Waalaikummussallam, jawab pak kiayi.

“Trot,,tot,,, tot,,tot” dengan hati yang gembira aku tidak sabar untuk bertemu kedua orangtuaku.

Sampailah aku di rumahku, perlahan aku melangkah

“tok, tok, tok”

Assalamualaikum, ayah ibu aku pulang, Waalaikummussallam, terdengar suara dari kamar ibuku, ibuuuu,,, sambil memeluk ibuku, Alhamdulillah kamu pulang nak, Masyaallah kamu berubah tidak seperti dulu lagi, iyaa Buu pak kiayi Zen yang mengurusku, mana ayah bu, ibuku terdiam, buu mana ayah, tanyaku lagi, ayahmu sudah tenang nak, maksud ibu apa? ayahmu sudah tidak ada lagi di dunia ini semenjak satu tahun silam dia sakit dari sejak awal melepas kepergian mu ke pondok pesantren ayahmu selalu mendoakan kamu agar kamu jadi anak yang solih hanya satu pesan dari ayahmu yaitu dia akan selalu menunggu doa darimu, besok kita ziarah ke makam ayahmu,,, baik buu tapi mengapa ibu tidak mengabari aku buu, ayahmu berpesan walau dia sudah tiada perintahnya jangan pernah mengabarkan kepdamu biarkanlah kamu tetap berada di pondok pesantren itu ayah mu tidak ingin mengganggu aktifitas dan belajarmu,  sebab itu adalah perjanjian kami  kepada pak kiayi, tidak menginginkan kamu pulang sampai kamu benar-benar berubah, iyaa Bu maafkan anakmu, kupeluk ibuku.

Satu tahun aku di rumah,

“tok,,tok,,tok”

Assalamualaikum,, ternyata  pak Romli ketua rt dikampung kami datang, silahkan masuk pak ada keperluan apa sepertinya penting sekali, begini nak Zul kami menginginkan agar kamu menolong kami yaitu bersedia bertugas menjadi imam masjid serta memberikan tausiyah dari masjid kemasjid yang sudah kami jadwal, harapan kami nak Zul tidak menolak tawaran ini, Alhamdulillah dengan senang hati saya terima pak, baik saya sangat berterimakasih dan mohon pamit kata pak Romli, Assalamualaikum,,, Waalaikummussallam,,.

Saya mendapat pekerjaan yang mulia, memang itu tujuanku untuk meminta maaf dan memperbaiki diri dan orang-orang dikampung ku untuk menebus semua kesalahanku.

Kreekk” aku keluar kamar setelah sholat isya’, ku lihat ke arah depan ruang tamu.

Trimakasih pak semoga semuanya lancar, ada tamu menemui ibuku dan memberikan koper aku tidak mengenalnya, setelah pulang aku bertanya? Siapa orang itu Buu itu pak lurah baru kampung kita nak, dalam koper itu apa isinya buu,,, ini uang, ibu menjual rumah kita dan ibu punya niat ingin mendirikan pondok pesantren buat kamu kelola dan memberikan banyak manfaat bagi orang lain, Alhamdulillah aku bangga pada ibu, kupeluk ibuku.

Aku dijodohkan oleh ibuku dengan seorang gadis lulusan Kairo, Amalia namanya aku menikah dan dikaruniai dua orang anak, aku dan anak istri ku termasuk ibuku kami semua tinggal di pondok pesantren yang akan kami kelola, “Alhamdulillah” tidak henti-hentinya aku selalu bersyukur kepada Allah Swt dan tidak lupa aku selalu  berdoa untuk ayahku juga ibuku,, sesuatu yang sangat aku syukuri yaitu teman-temanku, berkat nasihat yang aku berikan dan ada tanda-tanda hidayah Allah Swt akhirnya mereka mau berubah memperbaiki akhlak dan tingkah laku mereka dan ikut tinggal di pondok pesantren kami untuk belajar islam lebih dalam.

“Alhamdulillah “

Rasulullah Saw bersabda :

“Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap dapat mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pada ayat 69 surat an-Nisa, Allah Swt berfirman, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Alhamdulillah.

“TAMAT”

 

 

Editor : M. Hamka


BACA JUGA : Hatiku Tak Sama Aksiku

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.