Dilematis Para Pedagang Pasar Tradisional

Hot News

Hotline

Dilematis Para Pedagang Pasar Tradisional



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Suci Tiasari Kaputri

Pasar memang merupakan tempat kerumunan yang paling rawan. Potensi untuk menjadi kluster sangat tinggi. Tetapi disisi lain, pasar menjadi nadi perekonomian rakyat karena bagian dari mata rantai pasok yang vital. Oleh sebab itu, pembukaan kembali pasar harus diprioritaskan. Akan tetapi pengawasan dan penegakan protokol kesehatan diwilayah ini harus dilakukan. Ratusan pedagang pasar diketahui positif terinfeksi covid-19 dan beberapa diantaranya bahkan menjadi korban jiwa. Sebaran virus di pasar diduga karena pedagang tidak patuhi protokol kesehatan dan karena pemerintah melakukan pendekatan yang salah. Kebijakan persuasif tidak dilakukan sejak awal. Dan sosialisasi rapid tes pun tidak dilakukan di pasar-pasar. 

Tak heran ketika diadakan rapid test ditolak warga. Ratusan pedagang dan pengunjung pasar di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengusir petugas covid-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor.  Setelah diberikan arahan oleh anggota TNI, situasi yang tadinya memanas menjadi cair. Ini bukti kurangnya edukasi pada masyarakat. Dalam menangani pasar, berbeda dengan tempat lainnya dalam mencegah penyebaran covid-19.  Aktivitas di dalam pasar itu tidak hanya dari manusia ke manusia saja, melainkan melibatkan barang dan uang. Ada penjual dan pembeli. Jadi ada orang, ada barang dan ada uang. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif corona (Covid-19) di Indonesia. Kemudian, di antara ratusan pedagang yang positif corona tersebut sebanyak 29 lainnya meninggal dunia. Dengan adanya kabar ini tentu membuat khawatir banyak pihak, terutama  masyarakat yang takut berbelanja di pasar tradisional.

Pemerintah seharusnya  lebih gencar lagi dalam melakukan program penanganan covid-19 di pasar-pasar tradisional khususnya. Seperti program sosialisasi bahaya covid-19 dan melaksanakan protokol kesehatan. Juga memberikan bantuan masker dan handsanitizer gratis untuk para pedagang. Serta penyemprotan disinfektan di pasar-pasar secara rutin. Ini menegaskan pemerintah tidak cukup menyediakan sarana tes dan himbauan agar patuh, tapi juga butuh pendekatan agar sadar protokol kesehatan. Tak lupa pula pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan sehingga rakyat tidak memaksakan untuk berjualan yang beresiko besar terhadap penyebaran virus. Serta harus ada sanksi tegas yang dijalankan oleh aparat setelah edukasi memadai.

Pada masa Rasulullah dan sahabat, umat islam pernah terkena wabah penyakit. Cara yang dilakukan dalam menangani wabah saat itu ternyata bisa diterapkan pada zaman modern saat ini, termasuk menangani covid-19. Anjuran untuk selalu menjaga kebersihan, cuci tangan, juga karantina. Serta berdoa kepada Allah SWT, dan dalam Islam menjaga kebersihan diharuskan, sebelum beraktifitas selalu cuci tangan, berwudhu selalu dilakukan lima waktu dalam sehari sebelum menjalankan shalat. Bahkan ilmu pengetahuan membuktikan dengan seringnya cuci tangan pakai sabun bisa mencegah infeksi virus. Hal tersebut hanya dapat terlaksana jika pemimpin sadar bahwa tugasnya adalah pelindung dan pengayom rakyat. Berbagai kebijakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan sang khalik. Dibutuhkan pula rakyat yang patuh kepada pemimpinnya atas dasar iman kepada Allah, sehingga tercipta keharmonisan hubungan antara pemimpin juga rakyatnya. Ikatan harmonis pemimpin dan rakyat berdasarkan iman mustahil lahir dari lingkungan rusak, dari sistem yang bathil seperti sekarang ini. Dunia ini butuh lingkungan yang baik, sistem yang haq yang berasal dari sang pencipta. Satu-satunya sistem pemerintahan yang haq, yang menciptakan lingkungan yang baik adalah islam. Saatnya dunia berganti dan diperbaiki hanya dengan islam.

 

 

*/Penulis merupakan aktivis muslimah Cikarang

Editor : Khairunnisa Panggabean






This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.