Disintegrasi ‘Sense of Crisis’ Dalam Tubuh Pemerintahan

Hot News

Hotline

Disintegrasi ‘Sense of Crisis’ Dalam Tubuh Pemerintahan



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Rizki Annisa


Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan beredarnya video marahnya Presiden Jokowi pada saat sidang kabinet paripurna, akibat kinerja kementerian yang tidak memiliki progress (Kompas, 28 Juni 2020). Langkah-langkah yang diambil oleh para menteri dinilai tidak extraordinary di tengah masa extraordinary. Presiden mengatakan akan mengambil semua langkah demi menuntaskan permasalahan yang tengah dialami saat ini, bahkan jika harus sampai membuat PerPu, reshuffle sampai pembubaran lembaga. Presiden juga meminta ‘sense of crisis’ yang sama dalam menghadapi pandemi Covid yang sedang berlangsung.

Salah satu bidang yang disorot dalam sidang adalah masalah kesehatan. Dari sekitar 75 T dana yang dianggarkan , baru sekitar 1,53% yang cair. Selain itu, pembayaran tunjangan tenaga medis yang terlibat langsung menangani pasien covid belum turun seluruhnya. Menurut penuturan Sri Mulyani, keadaan ini disebabkan oleh penyerapan belanja yang belum maksimal (IDNTimes, 27 Juni 2020). Selain itu, bukan rahasia umum lagi, jika birokrasi yang ada di Indonesia saat ini sangat lama dan lamban merespons keadaan. Sehingga tidak heran, jika proses turunnya dana bantuan pemerintah pusat sangat lamban. Dana yang turun sampai ke tangan masyarakat pun, biasanya tidak sesuai dengan anggaran yang telah dicanangkan, akibat dari permainan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Keterlambatan respons pemerintah ini dapat dilihat dari pergerakan masif kementerian setelah sidang kabinet paripurna berlangsung.

Realita rusaknya kehidupan masa kini tidak lain akibat dari bercokolnya ideologi kapitalisme dalam kehidupan dimana bersumber dari kreasi manusia. Sehingga tidak heran, jika diimplementasikan dalam kehidupan akan membawa dampak kerusakan yang bukan main hebatnya. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai bentuk suara rakyat pun hanya berupa intrik belaka, termasuk kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Walaupun berdalih untuk membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik, justru membuka gerbang kedzaliman dan kesengsaraan. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada faktanya hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, bahkan dapat dinilai tidak berpihak pada rakyat.

Dalam tubuh pemerintahan pun, sering ditemui fakta bahwa para pejabat negara banyak yang menyalahgunakan posisinya demi kepentingan pribadi. Jelas bahwa banyak orang yang menduduki posisi di pemerintahan hanya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya atau kelompoknya saja. Jadi tidak heran, di tengah masa-masa pandemi seperti sekarang, ‘sense of crisis’ kementerian yang ada di dalam pemerintahan tidaklah sama. Sehingga Langkah-langkah yang diambil pun tidak mudah diambil dan dapat mengikuti keadaan. Selama sistem yang digunakan berasal ideologi yang rusak, mau sehebat apapun pemimpin beserta wacana yang dicanangkan, jika tidak ada integrasi dalam tubuh pemerintahan, partisipasi dan orientasi rakyat, maka tidak akan pernah tercapai kehidupan yang baik bagi manusia.

Namun, semua realita ini jarang bahkan tidak akan terjadi Ketika Islam diterapkan dalam kehidupan. Islam bukan hanya sebatas agama, namun juga sebagai suatu ideologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Karena Islam bersumber dari Allah Subhanahu Wa Ta ’ala, Sang Pencipta yang pastinya paling tahu mengenai ciptaan-Nya. Dengan asal sumbernya dari Sang Pencipta, pastilah sesuai dengan fitrah manusia dan membawa rahmat bagi seluruh alam berdasarkan aturan-aturan yang ada di dalamnya. Selain itu, pemimpin serta para pejabat negara menjalankan pemerintah sesuai dengan koridor hukum syariat, termasuk penanganan pandemik seperti saat ini. Sehingga tidak akan ditemui realita main-mainnya penanganan pemerintah di tengah merebaknya wabah masa kini ketika Islam diterapkan dalam kehidupan.

Seperti penanganan wabah thaun yang pernah terjadi pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam melalui Usamah bin Zaid, “Rasulullah pernah bersabda: wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR. Bukhari-Muslim). Dalam versi sekarang, biasa disebut dengan lockdown, namun dengan dukungan penuh dari pemerintah, dan rakyat pun taat pada kebijakan yang diambil oleh pemimpin. Selain melindungi jiwa yang ada di dalam daerah wabah, juga mencegah menyebar ke luar daerah. Eksistensi Islam pun tidak perlu diragukan lagi, karena pernah menaungi dunia dengan penuh kemaslahatan selama urang lebih 13 abad lamanya. Walaupun kini Islam sedang tidak menaungi dunia, namun janji Allah adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi. Sehingga tidak perlu diragukan lagi bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bish-shawab



Editor : Khairunnisa Panggabean


BACA JUGA :  Mahalnya Tes Corona Nyawa Taruhannya


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.