New Normal Life, Trend Global, dan Kesiapan Lokal

Hot News

Hotline

New Normal Life, Trend Global, dan Kesiapan Lokal



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Hafla Azzahra


Indonesia saat ini tengah mencoba berdamai dengan Covid-19 di tengah ketidakpastian dan tuntutan pemenuhan kehidupan new normal dianggap menjadi jalan baru terutama untuk menjalankan roda perekonomian yang hampir mati . Hal ini terlihat dari kembali beroperasinya sektor pariwisata dan hiburan, seperti yang dikutip oleh Republik.co.id yang menyatakan bahwa sekitar 67 pusat perbelanjaan di Jakarta sudah ancang-ancang untuk kembali dibuka pada tanggal 5 Juni mendatang, atau 1 hari setelah masa PSBB  di DKI Jakarta usai. Selain itu, kajian awal Kemenko Perekonomian yang sempat tersebar ke publik dan telah dikonfirmasi Sekretaris Kemenko, Susiwijono, pada 7 Mei menunjukkan lima fase new normal yang disiapkan.

Pertama, pada 1 Juni industri dan jasa boleh beroprasi dengan protokol Cocid-19. Kedua, pada 8 Juni toko,pasar,dan mal diperbolehkan buka dengan mengikuti protokol kesehatan. Ketiga, sepekan kemudian mall beroprasi seperti fase kedua tapi mendapat evaluasi untuk pembukaan salon,spa dan lainnya. Tetap dengan protokol Covid-19, sekolah pun mulai dibuka dengan sistem bergilir atau shift. Keempat, pada 6 Juli restoran, cafe,bar, dan lainya kembali dibuka secara bertahap  dengan protokol kebersihan yang ketat. Kegiatan ibadah diperbolehkan dengan jumlah jamaah dibatasi. Kelima, pada rentang 20-27 Juli kegiatan ekonomi dan sosial bersekala besar dibuka dengan harapan awal Agustus semua kegiatan berjalan seperti sebelum pandemi.

Kementerian BUMN melalui Surat Edaran Menteri BUMN bernomor S-336/MBU/05/2020 tertanggal 15 Mei juga mengkaji lima fase normal baru. Pertama, mulai 26 Mei pegawai BUMN usia dibawah 45 tahun masuk kantor dengan protokol Covid-19. Kedua, pada 1 Juni mal dan usaha retail dibuka dengan batasan pengunjung dan batasan jam operasional. Ketiga, membuka tempat wisata mulai 8 Juni. Selanjutnya, kegiatan ekonomi dibuka untuk seluruh sktor dengan evaluasi 29 Juni. Terakhir, evaluasi semua sektor menuju skala normal pada 13 dan 20 Juli (Katadata.co.id 2020/05/28). Selain itu, sejumlah protokol kerja telah dikeluarkan dan diatur sedemikian rupa, hal itu tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Corona Virus Disease Covid-19 di tempat kerja sektor jasa dan perdagangan (area publik) dalam mendukung keberlangsungan  usaha. Perusahaan diwajibkan membatasi jarak pekerjaannya minimal 1 meter penerapan batasan jarak dilakukan baik dititik tempat bekerja maupun bagian lainnya, begitu juga bagi perusahaan ritel wajib memakai pembatas di kasir untuk memberikan jarak dengan konsumen.

Persyaratan New Normal

Epidemologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Ridwan Amiruddin, PhD, mengingatkan kehidupan new normal hanya bisa dicapai ketika suatu negara telah memenuhi sejumlah syarat . Persyaratan yang dikeluarkan oleh Organisasi Dunia (WHO) tersebut menjadi acuan seluruh negara yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kalaupun kita ingin melonggarkan pembatasan ini, negara harus memenuhi syarat.”, ungkap Ridwan dalam diskusi daring bersama Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia, sadargizi.com, dan Departemen Kesehatan Dewan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

Indonesia sendiri jika melihat syarat pertama  yang diajukan WHO untuk  negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19  di wilayahnya telah bisa dikendalikan. Bila mengacu pada angka reproduksi (R0), situasi bisa dikatakan tekendali bila angka R0 di bawah 1. Menurut Ridwan, saat ini  R0 di Indonesia berada di kisaran 2,2 – 3,58.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Hermawan Saputra, mengkritik persiapan pemerintah menjalanan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari dan terlalu dini untuk menerapkan new normal yang membuat presepsi masyaraat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyatannya belum dan perlu persiapan lebih untuk new normal ini. Selain itu, terpenuhinya syarat mesti terus dioptimalkan seperti terjadinya perlambatan kasus. Kedua, telah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakat sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal.

Indonesia seharusnya lebih mawas diri dan bersabar untuk menerapkan new normal ini. Jika mengembalikan roda perekonomian dengan cara membuka mall dan tempat hiburan menjadi solusi agaknya kita bergantung diri, seperti yang diungkapkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)  yang menilai rencana pembukaan mall pada 5 Juni mendatang. Hal ini masih terlalu dini dan merupakan kebijakan yang gegabah karena berpotensi membuat mall menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

New Normal Vs New Sistem

Dalam sistem kapitalis yang menjadikan kebebasan ekonomi sebagai fondasinya memang telah bobrok dan rapuh, apalagi dipicu dengan pandemi Covid-19. Jalan sistem kapitalisme hanya mementingkan keuntungan yang berpikir membangkitkan sektor ekonomi yang lebih utama dibanding memikirkan bahaya yang mengancam nyawa manusia. Hal ini lah yang menjadi bukti mengapa mall, industri hiburan, dan pariwisata tetap dibuka di tengah kurva yang semakin naik. Amerika sebagai pengusung sistem kapitalisme ini terbukti kewalahan dan koleps dalam mengadapi pandemi ini.

 Seperti dijelaskan sebelumnya, landasan new normal adalah untuk menyelamatkan  sektor ekonomi yang memang sedang terjun karena pandemi ini. Belum lagi gagasan hard imunity sebagai solusi permasalahan Covid-19 ketika belum ditemukannya vaksin semakin memperjelas abainya sistem dalam menjamin keselamatan masyarakat.

Islam memiliki pengaturan yang khas mengenai wabah ini, seperti kewajiban karantina segera di daerah yang terjangkit, yang di dalam dilarang keluar dan yang di luar dilarang masuk kawasan. Penjaminan kebutuhan individu termasuk yang berada dalam wilayah karantina baik sandang, pangan, dan papan. Selain itu, seorang pemimpin di dalam sistem Islam akan sangat memastikan keselamatan masyarakatnya karena setiap kebijakan yang mereka keluarkan akan dimintai pertanggung jawaban. Hal ini akan terwujud apabila sistem Islam diterapkan dalam negara.

Wallahu a’lam bishowaab.


 

Editor: Putri Hesti Lestari



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.