Mewabahnya Dengue di Tengah Pandemi

Hot News

Hotline

Mewabahnya Dengue di Tengah Pandemi

 


(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Suci Tiasari Kaputri*


Selama ini, banyak orang yang mengira penyakit demam berdarah disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Padahal, nyamuk ini hanya berperan sebagai perantara. Penyebab sebenarnya adalah virus dengue yang dibawa oleh nyamuk dan masuk ketubuh manusia melalui gigitan.

DBD merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Penyakit DBD pada mulanya berjangkit di Manila tahun 1953 dan telah menyebar luas diberbagai negara. Baik dikawasan Asia Fasifik maupun Caribia dan Amerika Latin.

Di Indonesia, penyakit DBD pertama kalinya ditemukan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Pada saat itu penyebarannya cenderung meluas pada tahun 1992, sudah 187 daerah tingkat 2 yang terjangkit penyakit DBD dari 324 daerah tingkat 2 yang ada. Semenjak kemunculannya di tengah virus Corona, sejumlah kota di Jawa Barat diintai penyakit DBD. Kasus di kota Bekasi pun terus bertambah pada tahun 2020.

Tiga kecamatan yang dinilai rawan DBD itu yakni Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Bekasi Barat, dan Jati Asih. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Bekasi, ada 684 kasus DBD sejak awal tahun 2020. Menurut data, kasus DBD dari awal tahun hingga April jumlahnya terus meningkat. Data tertinggi jumlah kasus DBD di Kota Bekasi pada bulan April yakni 179 kasus. Bersamaan dengan munculnya kasus Covid-19. Namun angka tersebut turun kembali pada bulan Mei 2020 menjadi 165 kasus.

Kasus DBD di Kota Bekasi pada tahun ini masih fluktuatif atau naik turun. Demam berdarah dipicu oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang berperilaku menggigit 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. DBD itu sendiri terjadi karena beberapa penyebaran di antaranya akibat penularan transovarial. Yakni telor nyamuk sudah mengandung virus DBD. Dengan kondisi ini, saat nyamuk menjadi dewasa tidak perlu menggigit penderita DBD lebih dulu untuk bisa menularkan penyakitnya. Namun langsung bisa menginfeksi manusia. Begitu pula dengan adanya kemungkinan resistensi insektisida karena fogging yang terlalu sering dan berdekatan waktunya.

Masalah DBD masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Bukan hanya terkait dengan penanganan DBD seperti menerima pasien atau melakukan fogging, tetapi masalah jentik nyamuk masih menjadi masalah yang terus berulang. Dikarenakan masih sering diabaikan. Ini menyebabkan masalah DBD terus berulang dari tahun ke tahun.

Ini memang tantangan bagi pemerintah daerah bagaimana mengurus rakyatnya, menghadapi jentik, dan memasukan kampanye ini ke dalam intruksi masing-masing pemerintah daerah. Keberadaan pengawas jentik nyamuk mesti didukung dengan pengaturan dari pemerintah setempat serta peran aktif masyarakat. Sejauh ini kondisi DBD di Indonesia masih jalan ditempat, kalau masih belum memenuhi target IR dibawah standar, maka kondisinya berarti masih jelek.

Selama masih ada tempat untuk nyamuk dan jentik, ini tidak akan pernah selesai. Dibutuhkan perhatian lebih terhadap kasus ini serta peran masyarakat juga sangat dibutuhkan. Dari masyarakat untuk masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama memberantas penyakit apapun itu, dalam hal ini DBD.

Begitupun dengan kesulitan dalam penegakan diagnosis, sehingga kebanyakan dari kasus DBD ini dikategorikan suspect dan pemeriksaan laboratoriumnya pun secara manual, yaitu hanya melihat hasil pemeriksaan darah saja. Jadi tak sampai konfirmasi virus dengue-nya. Masyarakat pun perlu waspada dengan ancaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk ini. Biasanya DBD merebak pada musim pancaroba. Terutama di daerah dengan angka kasus covid -19 yang tinggi.

Kemungkinan besar, seseorang yang terinfeksi Covid -19 juga beresiko terinfeksi DBD. Karena demam berdarah adalah suatu penyakit yang hingga kini belum ada obatnya. Maka dari itu, masyarakat dihimbau untuk berinisiatif dalam pemberantasan nyamuk sehingga penyakit ini dapat dicegah.

Nyatanya, nyamuk Aedes aegypti tidak senang bersarang ditempat yang kotor. Nyamuk ini justru lebih senang bersarang di air bersih yang dibiarkan tergenang. Oleh karenanya, mengeringkan genangan air, menutup dan menguras penampungan air bersih, serta mengubur barang bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk merupakan langkah utama pencegahan DBD. Juga adanya ventilasi yang baik dan tidak menggantung atau menumpuk pakaian. Serta adanya penyuluhan terkait demam berdarah (DBD).

Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar.

Namun demikian, penguasapun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai.

Para penguasa muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khathab ra, menunjukan akan peran penting penguasa dalam pemerintahan untuk tidak abai dan melindungi rakyatnya, tanpa terkecuali. Sistem yang mampu melindungi rakyatnya tanpa memikirkan untung dan rugi hanya bersumber dari sistem yang mengambil dari aturan sang pencipta yaitu Allah swt. Yang memanusiakan manusia. Dan melindungi segenap manusia tanpa melihat lagi ras dan agamanya. Sistem ini adalah sistem Islam. Wallahu a’lam.

 

 

*Penulis adalah Aktivis Dakwah Cikarang

Editor : M. N. Fadillah


BACA JUGA :  LGBT, Tak Sekedar Boikot, Perlu Solusi Berbobot



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.