Sekuler-Kapitalis Lahan Subur Perilaku Seksual Menyimpang

Hot News

Hotline

Sekuler-Kapitalis Lahan Subur Perilaku Seksual Menyimpang



(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)


Oleh : Lisa Ariani

Awal bulan Juni 2020, masyarakat Lombok dibuat geger dengan berita pernikahan sejenis yang terjadi antara MU (31 Tahun) warga Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, Lombok Barat dengan SU alias Mita (25 Tahun) warga Ampenan Kota Mataram. MU melaporkan istrinya, Mita, yang ternyata seorang pria karena merasa telah ditipu.

Dilansir dari detik.com bahwa MU mulai menemui kejanggalan ketika hendak melakukan hubungan malam pertama usai menikah. Hasrat MU ditolak mentah-mentah oleh Mita dengan alasan sedang datang bulan.

"Pada malam selanjutnya, Mita pun meminta cerai tanpa alasan yang jelas kepada MU. Rasa curiga pun semakin besar oleh MU hingga akhirnya mencari tahu tentang identitas Mita yang sebenarnya," kata Kasat Reskrim Polres Lobar, AKP Dhafiq Siddiq pada detik.com, Senin (8/6/2020). MU dan Mita melangsungkan pernikahan di Desa Gelogor, Kecamatan Kediri. Mereka dinikahkan oleh kepala dusun tanpa wali nikah. Lantaran SU mengaku hidup sebatang kara. “Mereka nikah siri,” terkait identitas di KTP, pihak kepolisian mendapatkan data jika SU melakukan pemalsuan. “Dia pinjam KTP seseorang atas nama Mita lalu diganti fotonya kemudian difotokopi. Sehingga saat pernikahan dia menggunakan KTP palsu,” beber Kasatreskrim Polres Lobar AKP Dhafid Shiddiq. Motif penipuan yang dilakukan Mita kini masih di dalami. Apakah ia melakukannya karena motif uang atau suka dengan sesama jenis. Jika terbukti melakukan penipuan, maka amcaman hukumannya empat tahun penjara.(lombokpost.jawapos.com)

 

Perkawinan Sejenis Dalam Islam

Perkawinan sejenis baik yang bernama gay maupun lesbian adalah suatu yang sangat dilarang dalam Islam. Tak hanya Islam yang melarang pernikahan sejenis namun dalam agama Nasrani pun perkawinan sejenis merupakan hal yang dilarang.

Perkawinan sejenis, jika cermati dari sisi bahasa saja sudah memperlihatkan suatu ketidakcocokan makna yaitu antara kata “perkawinan” dan “sejenis”.  Perkawinan merupakan penggabungan, persilangan antara dua jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan pada manusia, jantan dan betina pada hewan dan tumbuhan. Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kawin bermakna membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau beristri; menikah, melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan), bersetubuh. Sehingga tidak tepat jika perkawinan terjadi antara satu jenis makhluk hidup.

Adapun dalam kitab Nizhomul Ijtima’I karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani disebutkan bahwa perkawinan merupakan pengaturan hubungan antara unsur kelelakian (adz-dzukuurah/maskulinitas) dengan unsur keperempuanan atau kewanitaan (al-unuutsah/feminitas). Dengan kata lain, perkawinan merupakan  pengaturan pertemuan (interaksi) antara dua jenis kelamin yakni pria dan wanita, dengan aturan khusus. Peraturan yang khusus ini mengatur hubungan-hubungan maskulinitas dengan feminitas dengan bentuk pengaturan tertentu. Peraturan tersebut mewajibkan agar keturunan dihasilkan hanya dari hubungan perkawinan saja. Melalui hubungan perkawinan tersebut akan terealisasi perkembang-biakan spesies umat manusia.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perkawinan yang lazimnya terjadi yaitu perkawinan antara pria dengan wanita. Tidak dibenarkan suatu perkawinan, kecuali antara dua jenis kelamin yang berbeda yakni pria dan wanita. Adapun fenomena pernikahan sejenis yang dilegalkan dibeberapa negeri-negeri Eropa (Barat), tidak layak disebut pernikahan namun lebih kayak disebut hubungan sejenis karena tidak lebih dari sekedar pelampiasan nafsu birahi dengan cara yang salah yang tak sesuai dengan syari’ah Islam. Tidak memenuhi  syarat dan tujuan pernikahan yakni melestarikan  keturunan (umat manusia) namun akan merusak peradaban manusia.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. (an-Nabâ’: 8])

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (ar-Rûm :21).

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Laki-laki berpasangan dengan perempuan begitupun sebaliknya. Pernikahan atau perkawinan merupakan salah satu penampakan dari gharizah an-naw’ (Naluri seksual) yang dimiliki manusia. Seperti yang diketahui bahwa setiap naluri menuntut pemenuhun tak terkecuali naluri seksual. Namun, pemenuhannya harus senantiasa mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh syari’ah, jika setiap pemenuhan naluri tak dilandasi dengan hukum syari’ah, maka apalah bedanya manusia dengan hewan. Bahkan manusia bisa lebih hina dari hewan. Hewan saja tak ada yang melakukan pernikahan atau pernikahan sesama jenis.

Sungguh Allah telah mengingatkan kita dalam QS: Al A’raf: 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 179)

Islam mengharamkan perkawinan sejenis karena hal ini termasuk ke dalam perbuatan yang sangat keji dan hina  serta sangat dibenci oleh Allah. Sebagaimana kisah kaum Nabi Luth yang diabadikan dalam berbagai surah dalam Al-Qur’an. Di antaranya QS. Al-A’raf ayat 80-84 berikut.

وَلُوۡطًا اِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهٖۤ اَتَاۡتُوۡنَ الۡفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمۡ بِهَا مِنۡ اَحَدٍ مِّنَ الۡعٰلَمِيۡنَ‏ ﴿80﴾ اِنَّكُمۡ لَـتَاۡتُوۡنَ الرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّنۡ دُوۡنِ النِّسَآءِ​ ؕ بَلۡ اَنۡـتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُوۡنَ‏ ﴿81﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُـوۡۤا اَخۡرِجُوۡهُمۡ مِّنۡ قَرۡيَتِكُمۡ​ ۚ اِنَّهُمۡ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوۡنَ‏ ﴿82﴾ فَاَنۡجَيۡنٰهُ وَاَهۡلَهٗۤ اِلَّا امۡرَاَتَهٗ ​ۖ كَانَتۡ مِنَ الۡغٰبِرِيۡنَ‏  ﴿7:83﴾ وَاَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ مَّطَرًا ​ؕ فَانْظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الۡمُجۡرِمِيۡنَ ﴿84﴾

 

Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas, dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal.  Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.

 

Sekuler -Kapitalisme Menyuburkan Perilaku Seksual Menyimpang

Belum usai masyarakat dikejutkan dengan pernikahan sesama jenis yang terjadi di Lombok Barat NTB. Beberapa pekan setelah itu, masyarakat kembali dikejutkan dengan pernikahan sesama jenis antara wanita dengan wanita yang terjadi di Sopeng,  Sulawesi Selatan.

Kasus pernikahan sejenis seakan tak usai kita dengar setiap waktunya. Bak jamur yang menggerogoti. Hal ini tak lain disebabkan oleh sistem sekuler kapitalis yang diam-diam dianut bangsa ini. Sistem sekuler kapitalis tegak diatas dasar pemisahan agama dalam kehidupan (sekuler). Sekuler-kapitalis memang mengakui adanya agama, namun agama hanya dijadikan sekedar formalitas belaka sehingga dalam melaksanakan kehidupan, manusia berhak membuat peraturan hidupnya.

Sistem sekuler-kapitalisme sangat menjamin kebebasan individu. Mengingat bahwa sekuler-kapitalis adalah mabda atau ideologi individualis. Memandang masyarakat terbentuk dari individu-individu. Sehingga dari sinilah muncul kebebasan beraqidah dan macam-macam kebebasan lainnya yang selalu mereka bangga-banggakan. Mereka pertahankan kebebasan manusia yang terdiri dari kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik, dan kebebasan pribadi.

Begitupun halnya dengan perilaku seksual menyimpang. Bermunculannya kasus-kasus perkawinan sejenis dan berbagai jenis perilaku  seksual menyimpang lainnya tak  lain adalah hasil dari penerapan sistem sekuler-kapitalis. Kebebasan pribadi yang diagung-agungkan oleh sistem ini telah membuat perilaku seksual menyimpang semacam ini tumbuh subur. Belum lagi kebebasan pribadi yang didukung oleh HAM (Hak Asasi Manusia). HAM secara nyata telah membolehkan manusia berekspresi sebebas mungkin selama tidak menganggu orang lain tak terkecuali mengekspresikan perilaku seksual yang menyimpang. Tak heran, jika mereka makin hari, makin berani menampakkan diri. Namun, HAM hanya berlaku bagi segelintir orang saja. HAM tak berlaku bagi para korban dari pelaku orientasi seksual menyimpang. Bukankah begitu banyak korban berjatuhan akibat dari perilaku seksual menyimpang ini. Baik yang harus tertular penyakit mematikan seperti HIV/AIDS, dan korban meninggal dunia korban predator seksual.  Namun, para pendukung HAM mendadak bungkam. Seolah-olah HAM tak berlaku bagi para korban. Bukankah korban juga berhak merasakan kebebasan dan rasa aman?

Begitulah sistem sekuler-kapitalis bekerja. Ketika manusia berhak membuat aturannya sendiri. Ketika kebebasan dijunjung tinggi. Ketika kebahagiaan dipandang sebatas materi, pemuas kebutuhan jasmani dan kenikmatan. Ketika halal haram tak jadi urusan.Ketika manusia bebas berperilaku sekehendak hawa nafsunya. Maka yang terjadi hanya kerusakan demi kerusakan. Yang lambat laun akan dikhawatirkan akan mendatangkan murka Allah.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam memandang bahwa di balik alam semesta, manusia, dan hidup, terdapat  Al-Khaliq (pencipta) yang menciptakan segala sesuatu yaitu Allah.  Islam juga menetapkan bahwa sebelum kehidupan ini ada sesuatu yang wajib di imani keberadaannya, yaitu Allah. Islam juga menetapkan iman terhadap alam sesudah kehidupan dunia yaitu hari kimat. Setiap amal perbutan manusia di dunia ada perhitungannya kelak di akhirat. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa manusia senantiasa harus terikat dengan perintah dan larangan Allah karena ketaatannnya di dunia akan sangat berpengaruh terhadap hasil perhitungan amalnya kelak di akhirat.

Tujuan akhir atas ketatatan manusia terhadap perintah dan larangan Allah adalah untuk meraih ridho Allah. Bagi seorang muslim kebahagiaan bukan lagi sebatas materi untuk memuaskan kebutuhan jasmani atau memperoleh kenikmatan melainkan kebahagiaan yang hakiki adalah meraih ridho Allah. Ridho allah hanya akan diraih ketika muslim patuh terhadap perintah dan larangan Allah.

Perintah dan larangan Allah sejatinya bukan untuk menyusahkan manusia. Namun, semata-mata untuk kebaikan manusia karena Allah yang menciptakan manusia, otomatis Allah yang lebih mengetahui setiap kebutuhan makhluk ciptaan-Nya. Dengan demikian, hendaknya setiap muslim maupun negara dalam menjalankan aktivitasnya harus menyesuaikan diri dengan perintah dan larangan Allah. Bukan beraktifitas sekehendak hawa nafsunya. Seperti halnya dalam hal kebutuhan jasmani dan naluri manusia. Pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri inilah yang terkadang sering menimbulkan masalah jika tidak dipandu dengan hukum syara’. Islam telah mengatur dengan sangat lengkap dan mendetail tata cara pemenuhannya. Untuk mencegah terjadinya tumpang tindih dalam pemenuhan kebutuhan baik itu kebutuhan jasmani dan rohani. Islam menyelaraskannya dengan aturan untuk memungkinkan manusia mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, serta mencegah terjadinya hal-hal yang dapat mejerumuskannya pada martabat hewani yaitu pelampiasan naluri tanpa kendali.

 


Editor : Putri Hesti Lestari




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.