Menyoal Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Akademik

Hot News

Hotline

Menyoal Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Akademik

 

Oleh : Nuha Amiratul Afifah

Belum lama ini, publik digegerkan dengan adanya kasus pelecehan seksual berkedok riset yang dilakukan oleh mahasiswa salah satu kampus di Surabaya. Setelah ditelusuri, ternyata yang bersangkutan memiliki rekam jejak panjang dan melakukan hal tersebut kepada beberapa korbannya.

Belum reda dengan kasus tersebut, publik kembali dikejutkan dengan pengakuan salah seorang dosen universitas di Yogyakarta yang juga menggunakan kedok riset untuk melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya yang diperkirakan korbannya mencapai angka ratusan.

Bagi mahasiswa UGM pun, masih segar dalam ingatan kasus Agni, penyintas pelecehan seksual yang berjuang mencari keadilan dengan bersusah payah. Dan masih banyak lagi kasus-kasus pelecehan seksual di kampus yang akan bermunculan beritanya jika kita mencari di mesin pencari. Kasus-kasus itu adalah yang terpublikasi, demikian banyaknya. Fenomena ini layaknya gunung es. Kemungkinan, jumlah kasus jauh lebih besar karena para korban seringkali memilih untuk diam dan menderita seorang diri.

Sungguh miris, kampus yang notabene adalah lahan untuk mencetak generasi-generasi unggul dan bermartabat, justru menjadi tempat rusaknya martabat dan kehormatan generasi penerus bangsa. Mengapa yang demikian terjadi? Bahkan jumlah kasusnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Kasus ini seharusnya mendapat perhatian semua pihak, bukan hanya kepolisian dan kampus,  tetapi juga pemerintah. Pemerintah harus menciptakan kondisi yang kondusif dalam dunia pendidikan. Karena pendidikan lah yang akan menentukan masa depan bangsa. Sesuai dengan amanah tujuan dibentuk negara NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yaitu: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mesti ada upaya nyata dari pemerintah untuk mengatasi krisis moralitas di dunia pendidikan.

Istilah pelecehan seksual sendiri menurut muncul dari ide Barat di era 70-an saat emansipasi mulai booming. Pelecehan seksual bisa terjadi kepada siapa saja baik laki-laki maupun perempuan dan tidak terbatas pada rentang usia tertentu. Jika ditelisik lebih dalam, akar permasalahanmya adalah terdapat pada sistem yang saat ini sedang diterapkan, yaitu kapitalisme. Sistem ini memiliki ide yang khas yaitu liberalisme yang meniscayakan terjadinya degradasi sosial.  terdapat beberapa hal yang menjadikan kasus pelecehan seksual marak terjadi dan justru semakin bertambah merajalela di iklim kapitalisme.

1. Berkembangnya paham kebebasan berperilaku yang merupakan "anak" dari liberalisme. Paham ini meniscayakan kebebasan mutlak bagi setiap individu dalam mengekspresikan diri, tidak terkecuali dalam hal perilaku seksual. Maka tidak heran jika kita dapati pacaran menjadi hal yang umum, hamil di luar nikah menjamur, penyimpangan seksual bermunculan, dan pelecehan seksual pun tidak terkecuali.

2. Media dan informasi yang dibiarkan sebebas-bebasnya tanpa ada filter, dan ketidakhadiran Negara dalam mengatur informasi-informasi perusak generasi yang beredar secara masif, bahkan boleh dikatakan justru menjadi tiang penopang ekonomi yang cukup penting dalam menghasilkan pundi-pundi keuangan bagi para kapital.

3. Sistem sanksi yang tidak tegas sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku maupun efek peringatan tegas bagi masyarakat yang lain.

Islam dengan karakternya sebagai ideologi memiliki solusi tuntas untuk mengatasi pelecehan seksual.

1. Fikrah atau ide dasar yang mendasari adalah bersandar kepada aqidah Islam yang mana konsekuensi dari beraqidah islam adalah taat dan tunduk kepada syariat Allah secara mutlak. Tidak ada dalam Islam istilah kebebasan berperilaku karena dalan setiap dimensi hubungan manusia, semua terikat kepada apa-apa yang sudah Allah tetapkan. Termasuk dalam hal menyalurkan hawa nafsu. Islam sudah mengaturnya dengan detail dimulai dari larangan mendekati zina, mensyariatkan hubungan yang halal dengan pernikahan, dan syariat tentang pergaulan antara pria dan wanita. Tidak ada pemisahan antara kehidupan manusia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara dengan kehidupan beragama sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme.

2. Sistem pendidikan dalam Islam tidak hanya fokus kepada transfer ilmu belaka, akan tetapi disertai dengan penanaman aqidah dan menjauhkan dari paham-paham sekuler-liberal yang bertentangan dengan fitrah manusia.

3. Dalam Islam, Negara wajib mengatur informasi yang beredar di tengah-tengah masyarakat sehingga tidak akan ditemui dalam Negara Islam menjamuRnya situs-situs pornografi yang dapat memicu terjadinya penyimpangan dan pelecehan seksual. Hal ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme yang justru menjadikan pornografi sebagai bisnis yang sangat menguntungkan.

4. Negara memberlakukan sistem sanksi yang tegas. Adapun sanksi hukum dalam Islam selain dapat memberi efek jera, juga dihapuskan / diampuni dosanya. Bagi yang belum menikah, hukumannya cambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun. Bagi yang telah menikah dirajam (dikubur hingga menyisakan kepala di atas tanah lalu dilempari batu) hingga mati. Telah ada penelitian di Rusia yang dilakukan oleh pakar medis menjelaskan bahwa hukum cambuk dapat menurunkan kecanduan pada pecandu narkoba, miras, dan syahwat. Karena kecanduan dapat merusak akal. Dipertegas oleh Ustaz Khalid Basalamah bahwa di punggung terdapat urat syaraf untuk menghetikan kecanduan jika di cambuk. Bahkan di Eropa terapi medis untuk menghilangkan kecanduan dengan cambuk dihargai 60 dolar. Hukuman yang diberikan di Indonesia yang paling berat adalah kebiri. Kebiri ini dikhawatirkan justru membuat pelaku lebih sadis lagi. Karena ketika ia tidak bisa terpuaskan, maka ia akan memuaskan syahwatnya dengan cara membunuh.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Alquran ini dan merendahkan juga karenanya.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, kita membutuhkan sistem kehidupan yang sejalan dengan Alquran sebagai sumber peraturan dan pedoman dalam menyelesaikan persoalan dan meninggalkan sistem kehidupan yang rusak dan merusak serta telah tampak tanda-tanda kegagalannya ketika diterapkan.


Editor : Khairun Nisa Panggabean


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.