Napak Tilas Relasi Khilafah dengan Nusantara

Hot News

Hotline

Napak Tilas Relasi Khilafah dengan Nusantara

 

Oleh : Syameela Zahir

Khilafah merupakan sistem kepemimpinan umum yang menggunakan Islam sebagai mabda' atau ideologinya. Khilafah yang menerapkan sistem peraturan hasil menggali dari sumber dalil-dalil syar'i memiliki tugas mulia menjaga Agama, mengatur urusan dunias serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Khilafah adalah ajaran Islam yang nyata pernah diterapkan oleh para generasi mulia terdahulu. Selama kurang lebih 13 Abad, khilafah telah mengukir sejarah gemilang yang diakui oleh berbagai kalangan termasuk negeri-negeri barat pada saat itu. Khilafah yang kala itu memiliki wilayah kekuasaan meliputi 2/3 dunia tentunya tidak mustahil apabila beberapa wilayah Indonesia atau nusantara menjadi bagian dari teritorial khilafah.

Para sejawaran yang mengakui keberadaan khilafah sebagai kekuatan politik umat Islam menjelaskan bahwa pasca masa khulafaur rasyidin muncul kekuatan politik dibagian barat Asia yang menyatukan umat Islam dari Spayol hingga Sind dibawah kekhilafahan Bani Umayyah (660-749 M). Kekuatan tersebut dilanjutkan oleh kekhilafahan Bani Abbasiyah dalam kurun waktu 750-870 M, hingga terakhir kekhilafahan Utsmaniyah hingga tahun 1924 M.

Kekuatan politik khilafah Umayyah dibagian barat Asia yang berdampingan dengan Cina, mendorong adanya perdagangan di laut Cina selatan, selat Malaka, dan samudra Hindia. Hal ini tentu berdampak bagi penyebaran Islam diwilayah-wilayah yang terjangkau politik khilafah Umayyah. Banyak literatur klasik yang menyebutkan kesultanan Islam di nusantara adalah bagian kekhalifahan Islam.


Pengakuan Kesultanan Aceh

Sultan Aceh ketiga, Alaudin Riayat Syah al-Qahhar yang berkuasa selama 1537-1571, mengirim surat pada khalifah Sulaiman Al-Qanuni pada tahun 1566. Surat tersebut menjadi saksi bahwa kesultanan Aceh telah berbaiat kepada khilafah Turki Utsmaniyah serta memohon bantuan militer untuk malawan pasukan Portugis di Malaka ((Topkapı Sarayı Müsezi Arşivi, E-8009).

Salim II pengganti khalifah Sulaiman Al-Qanuni mengabulkan permohanan Sultan Aceh dan mengirim bala bantuan ke Aceh. Dalam surat balasannya khalifah Salim II menyebutkan bahwa melindungi Islam dan negeri-negeri Islam adalah kewajiban yang diemban oleh khilafah Utsmaniyah.

Sultan Ibrahim Manshur Syah yang berkuasa di Aceh pada Abad 19 menyatakan bahwa negerinya bagian dari khilafah Utsmaniyah. Pernyataan tersebut tertulis jelas dalam suratnya kepada Sultan Abdulmecid I (1950) : “Sesungguhnya kami penduduk negeri Aceh, bahkan seluruh penduduk di Pulau Sumatera, semuanya tergolong sebagai rakyat Negara Adidaya Utsmaniyah dari generasi ke generasi.

Tidak sekedar mengakui wilayah Aceh bagian dari khilafah Utsmani, Sultan Ibrahim juga meminta izin kepada khilafah Utsmani untuk menyatukan para Sultan di Nusantara demi berjihad melawan penjajah belanda. “Maka dari itu, yang diharapkan dari sumber kasih sayang Tuan yang berbahagia (Khalifah Utsmaniyah) adalah menganugrahi kami sebuah titah Kesultanan yang dapat menyatukan seluruh para pembesar rakyat kami dari kaum Muslimin supaya suara mereka bersatu padu dan bulat untuk menegakkan jihad di jalan Allah dan mengusir kaum kafir Nasrani itu dari negeri-negeri kaum Muslimin...” (BOA, I.HR, 73/3551).


Jihad Melawan Penjajah

Islam yang didakwahkan khilafah di Nusantara juga menjadi spirit munculnya jihad melawan penjajah. Salah satunya melalui ungkapkan Khalifah Salim II tentang kewajiban khilafah melindungi negeri-negeri Islam, turut juga memicu semangat para sultan untuk mengusir kaum penjajah yang berniat buruk menyebarkan ideologinya sekaligus mengacau di wilayah-wilayah nusantara.

Islam yang melarang segala bentuk penjajahan telah menginspirasi sebagian besar tokoh-tokoh penting yang melakukan jihad demi kemerdekaan Indonesia. Perpustakaan kerajaan Belanda menyediakan koran Belanda periode 1618-1995. Koran-koran tersebut berisi ulasan-ulasan informasi atau peristiwa dalam kurun waktu tersebut.

Berita dalam koran Belanda terbitan tahun 1850-1930 menuliskan pendapat umum, bahwa Islam menyebabkan rakyat Indonesia 'memberontak'. Misalnya artikel dalam koran Algemeen Handelsbla pada tahun 1859 menyebutkan alasan pemberontakan di Bandjarmasin : Kami telah melihat bahwa, menurut laporan-laporan yang diterima oleh mister Van Twist dari sumber-sumber sangat terpercaya, bahwa pemberontakan-pemberontakan di bagian selatan-timur Borneo jelas bisa ditandai bercirikan Islam atau anti-Eropa. Artinya, menurut koran Algemeen Handelsblad, perlawanan masyarakat Indonesia—di seluruh bagian Nusantara baik itu di Banjarmasin, di Borneo dan di bagian lain di Indonesia—semuanya disebabkan karena spirit Islam.

Koran Het Nieuws van den Dag (1940) menulis artikel yang menyalahkan Islam atas terjadinya pemberontakan di Indonesia : Pada saat itu orang-orang memberitahukan bahwa di Sukabumi terjadi ‘kerusuhan dengan kekerasan’ yang menunjukkan kemiripan yang terjadi dengan kerusuhan di Sumedang dan Sidoarjo. Dia menganggap kerusuhan-kerusuhan itu diakibatkan oleh fanatisme. Dan masih banyak narasi-narasi serupa yang diterbitkan koran-koran Belanda dengan menyoroti Islam sebagai pusat dari 'pemberontakan'.

Bukti-bukti tersebut menguatkan hubungan antara khilafah dan nusantara, baik saat wilayah nusantara masih menjadi bagian dari khilafah hingga semangat juang yang diturunkan oleh para utusan khilafah yang bertugas menyebarkan Islam ke Nusantara. Jadi tidak benar jika ada buku-buku sejarah yang tidak memuat hubungan ini bahkan membantahnya dengan dalih perlawanan terhadap Belanda didasarkan aspirasi-aspirasi nasionalistik semata.

Pemerintahan Islam khilafah telah berjasa besar untuk negeri ini. Landasan sistem khilafah yang lillahita'ala tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendakwahkan Islam sampai ke Nusantara sekalipun jarak yang ditempuh begitu jauh. Para khalifah yang begitu peduli dengan Nusantara rajin mengirim utusan dakwah bahkan bala bantuan mikiter manakala Nusantara membutuhkannya untuk melawan musuh. Mulianya Islam yang mengajarkan ikatan persaudaraan yang tidak mengenal sekat kebangsaan manjadi bagian dari konten dakwah yang disebar oleh khilafah.

Tidak perlu lagi berdalih bahwa khilafah hanya menimbulkan perpecahan akibat yang diterapkan hanya Islam. Sebaliknya ketika menggali lebih jauh fakta-fakta historis, umat akan mampu menemukan kebenaran bahwa Islam yang justru berjasa menyatukan Nusantara dan melawan para penjajah. Keislaman hingga kemerdekaan kita saat ini pada dasarnya merupakan jejak dari khilafah.

Wallahua'alam bissawab


Editor : Sapni Alpionika


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.