Paradoks Demokrasi: Narasi ‘Kebebasan Pendapat’ Hanya Ilusi

Hot News

Hotline

Paradoks Demokrasi: Narasi ‘Kebebasan Pendapat’ Hanya Ilusi

Oleh: Mawar Oktivina, S.Pd., M.Sc.

PBB telah menetapkan 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional. Sebuah narasi yang cukup khas dalam sistem demokrasi yakni ‘Kebebasan Bependapat’ diakui bahwa senantiasa dijunjung tinggi. Narasi inilah yang konon katanya dijaga seiring dengan eksisnya sistem demokrasi hingga saat ini. Lalu apa sebetulnya definisi kebebasan berpendapat itu?

Kebebasan berpendapat atau berbicara (Freedom of speech) adalah kebebasan yang mengacu pada sebuah hak untuk berbicara secara bebas tanpa adanya tindakan sensor atau pembatasan akan tetapi dalam hal ini tidak termasuk dalam hal untuk menyebarkan kebencian. Dapat diidentikan dengan istilah kebebasan berekspresi yang kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan bukan hanya kepada kebebasan berbicara lisan, akan tetapi pada tindakan pencarian, penerimaan dan bagian dari informasi atau ide apapun yang sedang dipergunakan.

Walaupun kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi yang terkait erat dengan sebuah kebebasan, tetapi berbeda dan tidak terkait dengan konsep kebebasan berpikir atau kebebasan hati nurani. (https://id.wikipedia.org/wiki/Kebebasan_berbicara).

Mengacu pada pengertian kebebasan berpendapat di atas, sepertinya terdapat paradoks yang cukup besar terjadi di tengah masyarakat. Kenyataannya tak semua pendapat bebas untuk diutarakan, justru tak sedikit yang dibungkam padahal yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Mari kita ambil sebagai contoh:

Pertama, kasus teror diskusi akademik yang hendak diadakan pada bulan Mei 2020 lalu akhirnya dibatalkan akibat dari panitia dan narasumber diteror setelah sempat tersebar publikasi diksusi yang akan diadakan oleh Constitutional Law Society Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada bertajuk “Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan.

Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Ni’matul Huda angkat bicara terkait adanya dugaan teror lantaran akan jadi pembicara diskusi virtual. Secara singkat, ia menjelaskan kronologi adanya dugaan ancaman teror. Pada kamis pagi, 28/5/2020, Ni’matul mendapatkan banyak WhatsApp melalui gawainya. Padahal berdasarkan penuturannya, tidak ada nikat sama sekali bahwa diskusi tersebut diarahkan pada gerakan makar tehadap Presiden Jokowi. Padahal diskusi tersebut sesuai dengan TOR yang dibuat mahasiswa meliputi tentang sejarah pemakzulan, perkembangan pemakzulan berbagai negara, sampai masuknya ke Indonesia dan pengalaman Indonesia terkait persoalan pemakzulan. (muslimahnews.com, 05/06/2020)

Kedua, kasus kriminalisasi ulama dan pengembangan dakwah Islam yang marak terjadi sejak dulu sampai dengan hari ini pun makin bertambah. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan isu radikalisme dan khilafah. Berbagai pernyataan busuk dan tuduhan keji dilontarkan kepada para ulama dan pengemban dakwah yang aktif dalam menyuarakan ajaran Islam yang belum begitu banyak dipahami secara utuh oleh masyarakat, seperti tolak pemimpin kafir, bendera tauhid al-liwa dan ar-rayah, atau ide khilafah yang saat ini sudah menjadi opini masyarakat.

Di balik perkataan yang dilontarkan ada target untuk membangun citra negatif di tengah masyarakat. Bahkan sampai kadar penyesatan supaya umat mempunyai persepsi jelek tetang khilafah. Padahal Khilafah dan hal-hal yang sering dijadikan bahan untuk mengkriminalisasikan ulama dan para pengemban dakwah adalah sebuah kebenaran dakwah Islam yang harus disampaikan ke tengah masyarakat. Namun dianggap sebuah ancaman bagi sistem demokrasi.

Beginilah wajah demokrasi yang sesungguhnya. Narasi kebebasan berpendapat seolah hanya untuk menjaga eksistensinya saja. Jika pendapat atau kritikan dianggap berbahaya maka pembungkaman, kriminalisasi dan semacamnya akan digelontorkan kepada para pelakunya. Namun jika tidak berbahaya atau malah menyanjung, maka dibiarkan saja bahkan pujian dan penghargaan pasti akan diberikan.

Sistem demokrasi juga tidak hanya memberikan kebebasan berpendapat terhadap sanjungan saja, tapi juga terhadap peruatan ‘orang tua’nya yakni Barat yang sangat membenci Islam dan menebarkan Islamofobia ke seluruh penjuru dunia.

Seperti kasus pelecehan Al-qur’an di Swedia dan Norwegia. Aksi demo anti-Islam di ibu kota Oslo, Norwegia, pada Sabtu (29/8/20) pekan lalu berujung bentrokan akibat insiden penistaan kitab suci Alquran, setelah insiden yang sama terjadi di Swedia. Seperti dilansir WION News, Senin (31/8/20), bentrokan terjadi ketika kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN) berdemo di Oslo. Mereka berunjuk rasa di dekat gedung parlemen (Stortinget) setempat (cnnindonesia.com, 31/8/2020). Ironisnya peristiwa ini memperoleh pembelaan dari Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg. Solberg menyebut aksi itu sebagai bentuk kebebasan berpendapat (cnnindonesia.com, 02/09/2020).

Kasus lain dari majalah Charlie Hebdo di Prancis kembali berulah. Mereka bakal menerbitkan kembali karikatur Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Dilansir dari Kompas, 2/9/2020, dalam pernyataannya, Charlie Hebdo mengungkapkan bahwa keputusan mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad sangat diperlukan. Mereka mengklaim alasan untuk tidak melakukannya datang dari politisi maupun jurnalis yang mereka anggap begitu pengecut.  

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberi jawaban diplomatis terkait aksi ini untuk menandai sidang atas peristiwa tahun 2015. Rabu (02/09/2020) Macron mengatakan negaranya memiliki kebebasan berekspresi, termasuk kebebasan pers sehingga sebagai presiden, ia tak memiliki kapasitas untuk memberikan kecaman atas pilihan redaksional sebuah majalah. (Suara.com, 02/09/2020).

Dari beberapa contoh kasus di atas, kebebasan berekspresi justru membuka sentimen anti-Islam. Semua fenomena itu membuktikan bahwa nilai-nilai demokrasi, pluralisme, toleransi, HAM, dan kebebasan yg membuat manusia merasa di junjung tinggi nalurinya hanyalah ilusi. Fatalnya, semua slogan itu bahkan difungsikan demi tujuan menjajah dan meracuni pemikiran kaum muslimin.

Jadi sungguh aneh, jika di seluruh negeri muslim, pemerintah yang diikuti cendekiawan, ulama ataupun aktifis Islam turut latah menyerukan demokrasi, pluralisme ataupun toleransi demi menampilkan wajah Islam yang moderat dan ramah. Ketika pendapat tidak sejalan dan mengancam  rezim maka akan langsung dibungkam seperti di penjara-penjara, diberlakukan nya UU ITE, UU Ormas dsb.

Wajah demokrasi yang antikritik ini tentu sangat berbeda dengan Islam. Dalam mengatur masalah mengemukakan pendapat bagi individu Islam tidak menjanjikan kebebasan berpendapat seperti demokrasi, namun Islam menekan aktivitas yang meliputi:

1. Skala Individu : amar ma'ruf nahi mungkar baik diskusi ataupun beropini di media sosial yang merupakan kebutuhan dakwah saat ini. Tujuan berpendapat bukan untuk menjatuhkan, ujaran kebencian, memfitnah, atau mengkriminalkan pihak lain, tapi saling mengingatkan dan menjaga dalam ketaatan.

2. Skala kelompok: muhasabah Lil-hukkam (mengevaluasi penguasa) demi saling menjaga kehormatan darah, dan harta di antara warga masyarakat.

Dalam sistem Islam (Khilafah) ada mekanisme kontrol (muhasabah) dan check and balance, baik yang dilakukan dari dalam maupun luar kekuasaan. Ada Majelis Umat yang melakukan fungsi muhasabah. Ada Mahkamah Mazhalim yang berfungsi menghilangkan kezaliman oknum penguasa, mulai dari khalifah sampai pejabat negara terendah.

Bahkan, ketika Majelis Umat dan Mahkamah Mazhalim tidak melaksanakan fungsinya, Khilafah membuka ruang kepada partai politik hingga ulama dan umat untuk melakukan fungsi muhasabahcheck and balance, bahkan sampai munabadzah bi as-ssayf (mengangkat senjata) untuk menghilangkan kezaliman yang ada.

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, Khalifah Umar bin Khaththab menjadi sosok pemimpin yang selalu mendengar keluhan rakyat, bahkan hujan kritikan pun tak pernah diabaikannya.

Saat Khalifah Umar dalam perjalanan, seorang nenek tiba-tiba menghentikannya. Nenek itu langsung menceramahinya.

“...dan kini engkau Amirul Mukminin.. Maka bertakwalah engkau kepada Allah atas rakyatmu! Barang siapa yang takut akan ancaman Allah, maka yang jauh (akhirat) akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, dan barang siapa yang yakin akan al-hisab (hari penghitungan), ia akan menghindari azab (Allah).”


Umar hanya terdiam mendengar perkataan sang nenek tua itu. Tak satu kata pun terucap dari mulutnya. Sampai-sampai Al-Jarud Al-Abidy yang menemani Umar merasa terganggu dengan sikap nenek tua itu. Al-Jarud berkata, “Hei Nenek, engkau telah berlebihan atas Amirul Mukminin.”

 “Biarkanlah ia…” cegah Umar Ra kepada Al-Jarud. “Apa engkau tidak mengenalnya? Dialah Khaulah yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas tujuh lapis langit, maka Umar lebih berhak untuk mendengarnya,” tutur Amirul Mukminin.

Bahkan dalam riwayat lain, Amirul Mukminin tak segan-segan untuk memohon maaf jika telah merasa lalai. Ia lalu menuntaskan hajat rakyat yang sudah menjadi kewajibannya. Sebagai Khalifah, ia bahkan pernah memikul sendiri karung gandum dan menyerahkannya pada seorang janda di ujung kota. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Ia menyadari betul, kekuasaannya hanyalah amanah yang harus ia tunaikan kepada para pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, justru menindak tegas dan dipenjarakan jika menyampaikan kritikan pada penguasa.


Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang haus sanjungan. Sebab, ia selalu mengingat firman Allah SWT,

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 188).

Maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengembalikan kepemimpinan Islam (Khilafah). Agar dapat terwujudnya keadilan yang kita rindukan, ketika menyampaikan pendapat yang datangnya dari dorongan keimanan untuk menjalankan syariat-Nya tak lagi menjadi ancaman. Wallahu’alam bish-shawab.

 

Editor: Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.