Dilema Pernikahan Usia Dini, Melarang Namun Mendiamkan Sarana Perusak Moral Anak Bangsa

Hot News

Hotline

Dilema Pernikahan Usia Dini, Melarang Namun Mendiamkan Sarana Perusak Moral Anak Bangsa

 

Oleh: Lisa Ariani

Lagi, setelah dihebohkan dengan pernikahan bermaharkan sendal jepit, air putih, uang Rp2.000 beberapa waktu lalu. Kini masyarakat Lombok kembali dihebohkan oleh pernikahan dini yang dilakukan oleh siswa SMP bernama Suhaemi  (16 Tahun) dan Nur Herawati (14 Tahun).

Suhaemi dan Nur Herawati mendadak viral di medsos disebabkan pernikahan usia dini yang mereka langsungkan pada Sabtu, 12 September 2020. Pernikahan tersebut terjadi berawal dari Suhaemi mengajak Nur Herawati pergi berjalan-jalan. Akibat Suhaemi telat mengantarkan Nur Herawati pulang ke rumahnya, ayah Nur Herawati pun tidak terima anaknya pulang terlambat setelah diajak jalan-jalan oleh Suhaemi. Ayah Nur Herawati pun memaksa Suhaemi untuk menikahi Nur Herawati. (https://insidelombok.id/)

Pernikahan usia dini atau dalam bahasa sasak Lombok “Merarik Kodek” adalah bukan hal yang asing bagi masyarakat Lombok. Pernikahan usia dini adalah suatu yang sering dan lumrah terjadi. Bahkan menurut keterangan Joko Jumadi selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram yang juga mantan Koodinator Bidang Hukum dan Advoksi LPA NTB melalui radarlombok.co.id. Berdasarkan data yang dihimpun dari Pengadilan Agama, dari bulan Januari hingga tanggal 8 September 2020 tercatat ada 522 orang anak di bawah umur yang mengajukan dispensasi untuk melangsungkan pernikahan secara resmi di Pengadilan Agama. Hal ini tentu menandakan bahwa tingginya pernikahan usia dini yang terjadi di Lombok dan NTB secara umum.

Joko Juga menuturkan bahwa angka tersebut adalah angka kasar, dan pasti akan bertambah jumlahnya. Selain itu kasus perkawinan usia anak hingga saat ini masih cukup tinggi, tentu tidak telepas dari berbagai faktor terutama ketika mewabahnya pendemi Covid-19.

 

Covid-19 meningkatkan interakasi sosial di dunia maya

Covid-19 tak kunjung usai. Entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Covid-19 pun mulai menimbulkan berbagai dampak dalam kehidupan. Covid-19 telah menjadikan banyak negara di dunia mengalami resesi ekonomi. Sekarang Indonesia pun tak bisa menghindarkan diri dari resesi.

Tak hanya berdampak pada ekonomi, covid-19 pun berdampak pada interaksi sosial masyarakat. Covid-19 mau tidak mau mengharuskan masyarakat dunia untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Masyarakat yang semula bebas aktif bergerak melakukan aktivitas di luar rumah, kini  ruang gerak dan interaksi sosial dibatasi. Hampir semua aktivitas kini dianjurkan dan dihimbau untuk dilakukan di rumah dan jikalau harus beraktifitas di luar rumah maka diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan.

 Tak terkecuali dengan aktivitas belajar mengajar. Untuk mencegah penularan covid-19 semakin meluas sekolah-sekolah pun diliburkan. Sekolah diganti dengan pembelajaran online (daring). Covid-19 berdampak pada pembatasan interaksi sosial anak. Anak-anak mau tidak mau harus menghabiskan sebagian waktunya di rumah dan lebih bnayak berinteraksi dengan gadgetnya.

Penggunaan gadget pada anak sejatinya bagaikan mata pisau yang berguna untuk membantu memotong bahkan melukai. Penggunaan gadget pada anak jika tanpa adanya atau kurangnya pengawasan pada anak, maka dikhawatirkan akan membawa dampak negatif pada anak. Melaui gadget anak bisa mengakses konten apapun yang di mau. Berselancar di dunia maya, yang nyatanya dunia maya lebih liar dan menyeramkan dari pada dunia nyata. Anak bisa saja mengakses konten-konten pornografi, kekerasan, dan konten-onten berbahaya lain yang dikhawtirkan akan membuat anak penasaran untuk mecoba apa yang ia dilihat dan tonton di dunia maya. Karena tontonan bisa menjadi tuntunan.

Lebih parahnya lagi, gadget sering digunakan anak untuk chating dengan pacarnya. Hal ini tentu dapat menjadi peluang atau resiko terjadinya pergaulan bebas remaja atau anak di dunia maya. Yang pada akhirnya dikhawatirkan akan berakhir pada pernikahan usia dini.

 

Dilema larangan pernikahan usia dini

Praktek pernikahan usia dini atau perkawinan anak disebut sebagai perkawinan di bawah umur dianggap sebagai masalah dan pelanggaran hukum dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia.  Berdasarkan pasal 1 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, yang dimaksud dengan anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. Dalam pasal 26 Undang-Undang yang sama juga disebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan atau pernikahan anak atau pernikahan usia dini.

Selain itu alasan lain yang mendasari dianggapnya pernikahan usia dini sebagai suatu masalah adalah terkait dengan kesehatan psikis dan biologis anak yang dianggap belum matang untuk membina suatu rumah tangga. Dari sisi kesehatan hubungan seks usia anak beresiko meningkatkan kanker mulut rahim dikemudian hari.

Sedangkan dari sisi psikis, anak belum memiliki kesiapan dan kematangan mental dalam membina rumah tangga hingga rentan terhadap masalah perceraian. Pernikaan usia dini juga dianggap bisa mencederai hak anak untuk tumbuh dan berkembang. Hal inilah yang selalu menjadi alasan bagi pemerintah dan aktivis gender untuk terus mengkampanyekan sekaligus melakukan penyuluhan guna mencegah pernikahan usia dini.

Namun di lain sisi, pemerintah melarang pernikahan dini. Di lain sisi pula kerusakan moral anak bangsa semakin parah. Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan semakin hari semakin tak ada batasnya. Konten-konten pornografi yang bebas diakses melalui dunia maya. Tayangan-tayangan di televisi yang sebagian besar berisi kisah-kisah percintaan semakin menambah kerusakan moral anak bangsa.

Pernikahan usia dini dilarang, namun pemerintah tak kunjung mengambil kebijakan yang tegas untuk menyelamatkan moral anak bangsa dari kerusakan akibat tontonan maupun bacaan yang tak pantas untuk ditonton maupun dicontoh. Longgarnya aturan pemerintah dalam mengatur informasi dan media massa.

Selain itu sistem pendidikan yang minim penanaman karakter dan hanya berorinetasi pada nilai akademik. Pada akhirnya hanya  menghasilkan anak didik yang tak tahu arah. Akibatnya sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak anak-anak terlibat kasus-kasus kekarasan, kasus pemerkosaan, hubungan seks sebelum pernikahan, hingga aborsi. Yang pada ujungnya berakhir pada pernikahan usia dini.

Begitulah hidup dalam kungkungan sistem kapitalis sekuler. Semua serba bebas, yang katanya asal tak menggangu orang lain dan menghasilkan materi. Halal haram urusan belakangan, yang penting keinginan terpenuhi.

Hukum bisa dibuat oleh manusia, tak menghendaki campur tangan agama di dalamnya. Alhasil terciptalah hukum yang hanya mengahasilkan kerusakan. Hukum bukannya mencegah dan membuat jera namun membuat peluang untuk mengulangi hal sama. Melarang pernikahan dini, namun membuka peluang meningkatnya seks bebas (zina).

 

Pencegahan preventif Islam

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Semua aspek kehidupan, telah ada aturannya dalam Islam. Tak terkecuali dengan pergaulan dengan lawan jenis.

Islam mengatur bahwa kehidupan antara perempuan dan laki-laki adalah terpisah. Tak dibolehkan bercampur baur (ikhtilat) ataupun berdua-duan dengan lawan jenis tanpa didampingi oleh mahrom. Islam juga mensyariatkan untuk menjaga pandangan antara laki-laki dan perempuan serta menutup aurat.

Islam dalam institusinya akan memilah secara selektif bahkan memblokir berbagai konten yang mengarahkan dan membuka peluang untuk zina maupun penyimpangan hukum syariat lainnya. Hal ini tak lain adalah sebagai langkah preventif untuk membuka peluang terjadinya zina dan penyimpangan hukum syariat lainnya. Jikalaupun dikemudian hari ada yang melakukan zina, maka Islam mempunyai sanksi yang tegas yaitu dihukum cambuk bagi mereka yang belum menikah dan dihukum rajam hingga mati bagi mereka yang sudah menikah. Siapa yang tak jera jika sanksi yang dijatuhi sedemikian beratnya.

Selain itu sistem pendidikan Islam juga diarahkan untuk membentuk anak didik yang tak hanya bagus dari sisi akademik namun berkepribadian Islam. Karena Islam menyadari sedari awal bahwa anak-anak hari ini adalah genareasi penerus di masa yang akan datang. Generasi yang akan melanjutkan perjuangan pendahuluny untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Sehingga menjadi rahmatan liil ‘alamiin.

Islam juga tak melarang adanya pernikahan dini bahkan bisa dijadikan solusi untuk mencegah dari perbuatan zina. Islam tak memandang kesiapan anak untuk menikah dari segi usia. Selain itu kedewesaan bukan dilihat dari usia semata. Seseorang khususnya anak dalam Islam dikategorikan telah dewasa apabila sudah memiliki kematangan dalam pemikiran dan memiliki kesiapan memikul tanggung jawab dalam berumah tangga.

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Abu Kuraib] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu’awiyah] dari [Al A’masy] dari [Umarah bin Umair] dari [Abdurrahman bin Yazid] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu memikul beban (rumah tangga), maka menikahlah. Karena sesungguhnya, pernikahan itu lebih menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan, barangsiapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai ( akan meredakan gejolak hasrat seksual).” (HR Muslim).

Tak bisa dipungkiri, kehidupan anak atau remaja saat ini berada dalam kungkungan sistem kapitalis sekuler. Anak-anak seakan-akan dikepung dengan berbagai suguhan yang menjauhkannya dari Islam. Mulai dari fashion, food,dan  fun. Semua dirancang untuk mencetak genarasi yang hedonis, pragmatis, hanya mementingkan materi dan kepuasan pribadi. Sehingga lahirlah generasi yang tak tahu jati diri.


Editor: Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.