Penyederhaan Sejarah Cermin Tindakan Gegabah

Hot News

Hotline

Penyederhaan Sejarah Cermin Tindakan Gegabah

 

Oleh : Erdiya Indrarini*

Jasmerah, Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah. Itulah semboyan Presiden Soekarno pada pidatonya di HUT RI 1966. Namun ironis, kini perlahan sejarah berusaha untuk dihilangkan dari benak para generasi. Bukankah sejarah merupakan identitas dan jati diri?

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana menyederhanakan kurikulum yang akan diterapkan mulai Maret 2021. Salah satunya adalah tidak diwajibkan bagi pelajar SMA sederajat untuk mempelajari sejarah, kecuali jika ada siswa yang berminat saja. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pada awal September di hadapan Komisi X DPR RI. (cnnindonesia.com 18/9/2020)

Hal itu mendapat respon penolakan dari masyarakat. Tidak kurang dari 9.075 orang terpantau menandatangani petisi digital yang intinya menolak wacana tersebut. Dalam petisi itu mengatakan, ingatan akan sejarah bangsa merupakan ilmu yang penting dipelajari setiap generasi muda. Jika hal ini dilupakan, bisa-bisa generasi ini tak tahu latar belakang sejarah mereka, dan terkikis jati dirinya. (cnnindonesia.com 18/9/2020)

Pun mengundang kontroversi di kalangan masyarakat terutama para guru, akademisi, maupun sejarawan. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menilai wacana untuk menjadikan mata pelajaran sejarah hanya sebagai pilihan (tidak wajib) di jenjang SMA, tidaklah tepat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan, tegas Retno di Jakarta. (medcom.id 20/9/2020)

Draf struktur kurikulum baru sudah beredar, namun setelah mendapat penolakan dari berbagai kalangan, Mendikbud Nadiem Makarim membantahnya dan mengatakan bahwa hingga tahun 2022 tidak akan ada penyederhanaan kurikulum. Memang ada penyederhanaan, namun pelajaran sejarah akan tetap ada. (compas.com 19/9/2020).

 

Mewaspadai penghilangan pelajaran sejarah

Walau akhirnya direvisi, masyarakat perlu paham bahwa rencana penyederhanaan kurikulum yang mengakibatkan tidak wajibnya pelajaran sejarah untuk SMA/SMK,  bisa saja dilakukan sewaktu-waktu. Sehingga tidak menjadi jaminan bahwa pelajaran sejarah akan tetap diajarkan hingga waktu mendatang. Dan hal itu sangatlah berbahaya karena bisa menghilangkan memori tentang siapa dan bagaimana asal-usul dan jati diri bangsa yang mayoritas beragama Islam, beraneka suku bangsa, kaya budaya, dan tentunya kaya sumber daya alam.

Penyederhanaan pelajaran sejarah akan berakibat pada terkuburnya pemahaman tentang identitas bangsa, maupun berbagai memori tentang negerinya sendiri. Baik tentang peristiwa yang kelam, maupun peristiwa yang menjadikan bangsa ini besar.

Sebagai bangsa besar dan mayoritas Islam, seharusnya juga tahu sejarahnya kenapa berislam, bagaimana kemunculannya di tanah Arab, hingga di era datangnya Islam ke Nusantara ini. Siapa dan dari mana asal mula ulama yang mengajarkan, apa saja kiprah dan jasa-jasa para ulama yang diutus kekhalifahan saat itu bagi negeri ini.  Atau tentang sejarah Islam yang saat itu sebagai kekuatan kecil tapi mampu menaklukkan dua imperium terbesar Romawi dan Persia. Semua itu semestinya diajarkan untuk menjadi pembelajaran agar mampu mendapatkan kemajuan. Bukan malah ditutupi dan keberadaannya dimusuhi.

Ataupun tentang sejarah peristiwa kelam yang pernah dialami bangsa ini. Seperti Gerakan Penghianatan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal dengan G30S/PKI. Yaitu gerakan penghianatan yang dilakukan dengan pembantaian terhadap para tentara, maupun penduduk biasa yang ia merasa benci, seperti pada para ulama, ustaz, atau para santri dan lainnya yang dikenal kesholehannya terhadap Islam. Mereka ditembak atau dibakar, atau dicincang-cincang, bahkan ketiganya sekaligus.

Bukti-bukti semua itu, baik sejarah peristiwa  kelam maupun sejarah yang membuat bangsa ini besar masih ada. Jika pelajaran sejarah direduksi, mana mungkin generasi bisa belajar bagaimana menaklukkan negara besar sebagaimana penaklukan terhadap Romawi dan Persia. Atau bagaimana mempertahankan kejayaannya Islam hingga bertahan 13 abad lamanya. Dan bagaimana generasi bisa memahami peristiwa kebiadaban gerakan PKI yang sangat mengerikan itu ?

Dengan demikian, memberikan pelajaran sejarah bagi siswa adalah wajib. Karena sejarah akan memberikan berbagai informasi yang penting bagi generasi. Untuk dijadikan contoh yang bisa ditiru maupun sebagai pembanding, ataupun dijadikan pelajaran agar peristiwa yang kelam bisa diantisipasi dan tidak lagi terulang. Sehingga jika pemerintah tetap mereduksi pelajaran sejarah, artinya pemerintah tidak paham akan urgensitas dari sejarah bagi bangsa dan generasi.

 

Pelajaran sejarah dalam pandangan Islam

Sedemikian penting mempelajari sejarah, hingga Allah Swt. berfirman yang artinya :

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Qs.Yusuf : 111)

Atas dasar itu, dalam Islam pelajaran sejarah sangatlah penting untuk diajarkan. Tidak saja pada sekolah setara SMA, namun pada seluruh generasi. Baik anak-anak, remaja, kaum muda, bahkan orang tua pun harus memahami sejarah. Dalam jenjang perguruan tinggi, sejarah digunakan untuk memahami budaya dan pola pikir berbagai bangsa untuk memudahkan interaksi guna mempermudah dalam pengembangan dakwah Islam kepada mereka.

Sejarah dipandang sebagai tsaqofah, yaitu ilmu pengetahuan yang dipengaruhi oleh akidah. Artinya mempelajari sejarah haruslah menjadikan akidah sebagai standar. Jika sesuai dengan akidah maka bisa di pelajari sebagai ilmu yang bisa diterapkan. Tapi jika bertentangan, maka tidak boleh diambil dan diyakini kecuali hanya sebatas dipelajari sebagai pengetahuan saja.

Untuk itu negara akan menunjuk dan membiayai para ahli sejarah, ahli hadits, maupun ahli yang berkaitan dengan sejarah untuk melakukan riset. Hasil riset harus memuat tentang aturan-aturan Islam. Juga memaparkan bagaimana system Islam diterapkan dalam mengatur urusan masyarakat. Baik dalam berekonomi, berbudaya, berpolitik, dan lain sebagainya.

Hasil riset itu menjadi dokumen negara yang  dijadikan sebagai bahan ajar bagi seluruh generasi. Sehingga bisa dipastikan, sejarah yang diajarkan adalah sejarah yang benar. Selain itu, juga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan hukum negara dalam segala aspek, baik yang menyangkut individu, masyarakat, maupun negara.

Begitulah pentingnya sejarah, maka masyarakat mestinya menyadari bahwa sejarah bukanlah sekedar menghafal angka-angka dan tahun kejadian yang telah berlalu saja, tapi punya arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Sehingga jika negeri ini mau bangkit menyongsong kejayaan, maka bukan mereduksi pelajaran sejarah. Tapi justru merekonstrusinya.

Wallohua'lam


*Penulis adalah pemerhati masyarakat

Editor: Hamka

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.